
Taman
Dari arah pintu masuk terlihat Alena, Riki, dan juga Aksa tengah melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang ceria memasuki area taman. Karena ini pertama kalinya Aksa ke kota Alena ingin mengenalkan satu-persatu tempat-tempat yang cantik kepada Aksa dan tentunya harus ada taman bermainnya karena hal itu adalah yang paling utama bagi Aksa. Aksa yang diajak ke taman kota untuk pertama kalinya tentu saja sangat bahagia, sepanjang perjalanan Aksa tak henti-hentinya bertanya akan hal ini dan juga hal itu kepada Alena dan juga Riki.
Meski telah memutari area taman dua kali putaran sekaligus jalan-jalan pagi, Aksa tetap tak kehabisan tenaga malah semakin aktif berlarian kesana kemari dengan raut wajah yang bahagia. Hingga ketika rasa lelah menghampiri kaki Alena, lantas membuat Alena mengajak keduanya untuk duduk di salah satu bangku di taman kota tersebut.
"Mommy apa itu ramai-ramai?" ucap Aksa sambil menunjuk ke arah gerobak dorong yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.
Alena dan juga Riki yang mendengar perkataan Aksa barusan lantas langsung mengikuti arah tunjuk Aksa, Alena tersenyum ketika yang di tunjuk oleh Aksa adalah pedagang bubur ayam. Diusapnya lembut rambut Aksa sambil menatapnya dengan tatapan yang menelisik.
"Itu pedagang bubur ayam, apa Aksa mau?" tanya Alena kemudian menawarkan.
"Boleh Mommy, Aksa mau... Aksa mau..." ucap Aksa dengan tersenyum bahagia.
"Kalau begitu Aksa tunggu di sini sama Daddy, biar Mommy yang membelikannya untuk Aksa dan juga Daddy." ucap Alena yang lantas di balas anggukan kepala oleh Aksa.
Alena yang bersiap untuk bangkit dan melangkah menuju ke arah tukang bubur tersebut langkah kakinya lantas terhenti seketika di saat tangan Riki menahan lengan Alena. Namun detik berikutnya langsung Riki lepas ketika menyadari ia tidak pantas untuk menyentuh Alena.
"Ah aku minta maaf, biar saya saja yang membelikannya Vi... Kamu duduklah di sini bersama Aksa." ucap Riki kemudian.
"Tak perlu bersantai lah saja, aku titip Aksa ya..." ucap Alena menolak dengan lembut kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulutnya.
"Nona terlalu baik kepada ku, membuat ku semakin melambung dan menjadi lupa diri." ucap Riki di dalam hati.
Hingga kemudian ketika Riki tengah sibuk memikirkan tentang perasaannya. Aksa nampak menarik tangan Riki beberapa kali seakan mengajak Riki untuk bangkit dan bermain membuat lamunan Riki lantas buyar seketika. Riki yang mendengar ajakan dari Aksa barusan lantas tersenyum menatap ke arahnya kemudian bangkit berdiri dari posisinya. Keduanya kemudian nampak bermain kejar-kejaran mengelilingi area taman sambil menunggu Alena membeli bubur di sana.
"Daddy berhitung biar aku yang sembunyi sekarang." ucap Aksa kemudian yang mengajak Riki untuk main petak umpet.
"Jangan ya nak, ini terlalu berbahaya... Kita main yang lainnya saja." ucap Riki mencoba untuk menasehati Aksa mengingat ini adalah tempat umum takutnya Aksa tersesat dan kehilangan dirinya.
"Baiklah baiklah tapi Aksa janji untuk tidak bersembunyi terlalu jauh, oke?" ucap Riki sebelum memulai permainan.
Aksa yang mendengar perkataan dari Riki barusan lantas mengangguk dengan cepat dan pada akhirnya permainan pun di mulai dengan Riki yang berpura-pura menutup mata sambil mulai berhitung agar Aksa bisa bersembunyi. Riki mulai berhitung dari angka satu sampai dengan sepuluh, namun ketika hitungannya sampai pada angka tujuh sebuah suara yang tak asing lantas mengejutkannya.
"Apa dia putra mu?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Riki langsung menoleh dengan seketika.
Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung membuat Riki menatap ke arah sumber suara, Riki yang melihat Steven tengah berdiri menatap ke arahnya lantas langsung terkejut dengan seketika. Hubungannya dan juga Steven tidaklah sebaik hubungan pertemanan lainnya. Apalagi ketika rumor perselingkuhan Steven dan juga Alena menguak kala itu, membuat Riki yang memang bertugas untuk menjaga Alena lantas menambah kesan buruk di antara pertemanan keduanya.
Hubungan yang semula sudah hancur karena sesuatu hal malah semakin hancur ketika Riki mengira Steven benar-benar telah merusak rumah tangga Nona mudanya. Sialnya setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Steven, keduanya malah dipertemukan secara tak sengaja tepat ketika Riki, Alena dan juga Aksa tengah bermain bersama.
"Itu bukanlah urusan mu!" ucap Riki dengan nada yang ketus membuat Steven lantas tersenyum dengan sinis menatap ke arah Riki saat ini.
"Oh iya? Bukankah takdir begitu sangat lucu Rik? Ketika kau mati-matian membela Nona muda mu saat itu dan terus mengatakan bahwa aku telah merusak rumah tangga Nona muda itu, ternyata beberapa tahun kemudian kalian berdua malah telah bersama bahkan sampai memiliki seorang putra! Setidaknya lebih baik kau katakan saja dari awal kalau kau menyukai Nona muda mu itu, tidak perlu menuduhku yang tidak-tidak karena itu sangat menyebalkan." ucap Steven dengan nada yang menyindir kepada Riki.
Mendengar sindiran tersebut membuat Riki lantas menjadi terpancing dan dengan spontan menarik baju Steven karena merasa tidak suka akan kata-kata dari Steven yang seperti itu. Di tengah pertikaian keduanya yang tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Alena yang baru saja selesai membeli bubur lantas langsung berlarian menghampiri Steven dan juga Riki ketika melihat keduanya sedang berkelahi. Sambil membuang bubur di tangannya begitu saja Alena mempercepat langkah kakinya berusaha untuk memisah keduanya, mengingat saat ini mereka yang tengah berada di tempat umum tidak sepatutnya keduanya malah berkelahi di tempat seperti ini.
"Apa yang kalian berdua lakukan sebenarnya?" teriak Alena sambil menarik lengan Riki mencoba untuk memisahkan keduanya.
Mendengar teriakan Alena barusan membuat Steven dan juga Riki lantas menoleh ke arah sumber suara. Steven tersenyum dengan sinis begitu melihat kedatangan dari Alena barusan, membuat Alena yang melihat senyuman tersebut lantas bertanya-tanya maksud dari senyuman Steven barusan.
"Wah ratu drama sudah datang rupanya, biar ku tanya pria mana lagi yang berhasil kau tipu saat ini? Apakah dia? Kalau memang dia selamat sih kalian berdua cocok." ucap Steven dengan nada yang mengejek sambil bertepuk tangan dengan tawa kecil di telinganya.
"Kau..." ucap Riki hendak kembali melayangkan pukulannya ke arah Steven namun di tahan oleh Alena ketika ia mengingat ada sesuatu yang kurang saat ini.
"Rik dimana Aksa?" ucap Alena kemudian seakan terkejut ketika ia baru menyadari Aksa tidak ada di sini.
Bersambung