Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Saling memaafkan


Jalan tol KM 56


Dari arah utara terlihat mobil yang dikendarai oleh Alex menepi di bahu jalan. Tidak beberapa lama Alex dan juga Riki nampak turun dengan langkah kaki yang bergegas sambil menatap ke arah sekitaran. Ketika keduanya baru saja turun ke jalan pandangan mata Alex maupun Riki langsung tertuju pada sebuah pembatas jalan yang terlihat sudah rusak seperti habis di tabrak oleh sebuah benda besar.


Riki yang melihat hal itu lantas langsung terdiam di tempatnya, pikirannya kini bahkan sudah terisi dengan berbagai hal yang negatif membuat ia lantas langsung mengayunkan kakinya berlari menuju pembatas jalan tersebut. Sedangkan Alex yang tadinya hendak menelpon anak buahnya untuk memulai penyisiran, melihat Riki berlarian seperti itu membuat Alex lantas langsung mengurungkan niatnya dan mengejar Riki yang menuju ke arah pembatas jalan.


Alex yang melihat Riki hendak turun untuk melihat keadaan bawah jurang, lantas langsung membuat Alex menarik tangan Riki dengan kuat berusaha mencegah Riki agar tidak bertindak gegabah.


"Apa kau sudah gila? Bukankah sudah ku bilang untuk tenang!" pekik Alex kemudian dengan nada yang meninggi.


Mendengar nada suara Alex yang meninggi seperti itu, membuat Riki hanya terdiam di tempatnya sambil menatap kosong ke arah depan. Helaan napas terdengar jelas berhembus kasar dari mulut Alex membuat Riki dengan spontan menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mengernyit.


"Sudah ku bilang lakukan semuanya dengan tenang, kita pasti akan menemukan Alena asalkan kamu tidak bertindak secara gegabah." ucap Alex kemudian namun kali ini dengan nada yang lebih rendah tidak seperti sebelumnya.


Riki mengusap rambutnya dengan kasar setelah mendengar semua ucapan Alex barusan. Setidaknya perkataannya barusan benar-benar sudah merasuk ke dalam hati dan pikirannya.


"Lalu saya harus bagaimana tuan? Apa kah anda kira saya tidak khawatir terhadap Alena?" ucap Riki dengan nada yang terdengar frustasi.


"Sebentar lagi, aku harap kamu bisa menunggunya sebentar sampai beberapa anak buah ku datang, bersabarlah sedikit lagi!." ucap Alex kembali yang lantas membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dari mulut Riki saat ini.


"Bersabarlah sebentar lagi Al... Sebentar lagi..." ucap Riki dalam hati sambil menatap ke arah dasar jurang.


***


Sementara itu Alena yang sedari tadi tertidur di bahu Errando, perlahan-lahan mulai terlihat mengerjapkan matanya ketika ia merasa bahwa tubuhnya sedikit lebih bugar ketika beristirahat sejenak barusan walaupun sama sekali tidak mengurangi luka yang berada di sekujur tubuhnya.


Alena yang sadar bahwa ia sedari tadi tidur di bahu Errando lantas langsung bangkit secara perlahan, namun malah berhasil membangunkan Errando yang ikut tertidur sedari tadi sambil menunggu Alena bangun.


"Maaf... Aku tadi benar-benar tidak tahan jadi tanpa sadar tertidur." ucap Alena kemudian dengan nada yang canggung.


Mendengar perkataan dari Alena barusan membuat Errando lantas tersenyum dengan seketika. Errando kemudian memperbaiki posisi duduknya sambil sedikit merenggangkan bahunya yang terasa sedikit kram karena tekanan dari kepala Alena sedari tadi.


"Ya lumayan lah ya... Tapi aku tidak apa malah aku senang sekali bisa kembali mengenang masa lalu." ucap Errando dengan tersenyum tulus menatap ke arah Alena saat ini.


Sedangkan Alena yang mendengar perkataan dari Errando barusan bukannya menjawab malah langsung bangkit dari posisinya dan menatap ke arah sekitar, membuat Errando yang tahu jika Alena saat ini tengah menghindar hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.


Errando yang melihat gerak gerik Alena yang terlihat begitu aneh, lantas langsung menarik tangan Alena dan membawanya agar menatap lebih dalam ke arah manik mata miliknya.


"Aku tahu kau sedang menghindari ku, sekarang disini hanya ada kita berdua.. Apa kamu masih akan tetap menghindari ku Al?" ucap Errando kemudian yang lantas membuat Alena langsung terdiam seketika.


Alena saat ini bahkan sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa kepada Errando, tapi yang jelas bolehkah Alena sekali saja memeluknya? Sebuah pertanyaan tersebut mendadak terlintas begitu saja di kepala Alena, membuat Alena langsung menggigit bibir bagian bawahnya karena tidak tahu apa yang sedang terjadi di kepalanya saat ini.


"Aku benar-benar minta maaf Al, aku khilaf saat itu perasaan bersalah yang timbul dan menyeruak setelah kematian kak Juwita benar-benar memporak porandakan hati ku, aku bahkan...." ucap Errando namun terhenti dengan tiba-tiba ketika Alena mendadak memeluk tubuhnya dengan erat.


Entah apa yang dipikirkan oleh Alena saat ini hingga ia mendadak berlari ke arah Errando dan memeluk tubuhnya dengan erat. Alena tidak tahu apa alasannya namun yang jelas suara hatinya mengatakan agar Alena bergerak dan memeluk tubuh Errando dengan erat.


Errando yang mendapat pelukan secara tiba-tiba tentu saja terkejut bukan main, namun detik berikutnya tersenyum dan menyambut dengan hangat pelukan dari Alena barusan. Pada akhirnya keduanya lantas sama-sama terhanyut ke dalam dekapan masing-masing, tidak ada sebuah kata yang mengiringi keduanya hanya kehangatan pelukan antara satu sama lain yang menjelaskan segala perasaan yang kini meluap dan tidak lagi bisa terbendung.


Beberapa menit dalam posisi berpelukan baik Errando maupun Alena perlahan-lahan kemudian mulai melepas pelukannya masing-masing. Manik mata keduanya lantas bertemu dan saling mematut dalam sepersekian detik, sampai kemudian Errando menggamit kedua pipi Alena dan membawanya menatap ke arah manik matanya semakin dalam lagi.


"Maaf kan aku Al..." ucap Errando dengan nada yang lirih.


"Aku sudah memaafkan mu sejak lama Er.. Lagi pula semua yang terjadi bukanlah sepenuhnya karena kesalahan mu, aku juga bersalah waktu itu karena bertindak egois semau ku." ucap Alena dengan tersenyum manis membuat Errando ikut tersenyum ketika melihat senyuman itu yang telah lama ia rindukan.


"Terima kasih banyak Alena..." ucap Errando kemudian sambil memeluk dengan erat tubuh Alena kembali.


**


Malam harinya


Riki, Alex dan juga dibantu beberapa bawahannya terlihat menyisir area hutan untuk mencari keberadaan Alena di sana. Riki yang memang sudah begitu khawatir lantas mempercepat langkah kakinya berusaha untuk mencari Alena kesana kemari tanpa henti sama sekali.


Butuh waktu berjam-jam bagi mereka untuk menyusuri area hutan yang begitu luas sampai kemudian pandangan mata Errando tertuju pada dua orang yang nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang tertatih berada tidak jauh dari tempatnya berada.


"Alena!" pekik Riki dengan nada suara yang meninggi membuat langkah kaki dua orang yang ia duga adalah Alena lantas terlihat menghentikan langkah kakinya.


Bersambung