Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Presiden Direktur (Presdir)?


"Aku mohon untuk kali ini saja bertahanlah sebentar lagi Rik..." ucap Alena dengan nada yang meminta namun terhenti ketika sebuah suara pintu kamar yang terbuka dari luar lantas mengejutkan keduanya.


Cklek...


Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Alena dan juga Riki lantas langsung menoleh ke arah sumber suara, dari arah pintu masuk terlihat Tika tengah melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kamar, namun ketika melihat Alena dan juga Riki menatapnya dengan tetapan yang aneh Tika lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan ikut menatap keduanya dengan tatapan yang aneh pula. Keheningan terjadi diantara ketiganya membuat suasana kian canggung, hingga kemudian Tika yang tidak enak dengan tatapan keduanya yang aneh itu, lantas mulai berdehem seakan mencoba untuk memecahkan suasana yang terjadi.


"Apakah mama mengganggu kalian berdua?" tanya Tika kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Alena dan juga Riki sedari tadi.


"Enggak kok Ma, apa ada sesuatu?" tanya Alena sekalian mencoba untuk mencari tahu apakah Tika mendengar segala perkataannya dengan Riki barusan.


"Mama cuma mau lihat Aksa saja, kalau kalian mau buat adik untuk Aksa jangan disini mending di kamar kalian saja." ucap Tika kemudian dengan senyuman yang menggoda.


Mendengar perkataan dari Tika barusan tentu saja langsung membuat Alena dan juga Riki menatapnya dengan tatapan yang aneh, bagaimana tidak? Di saat Alena dan juga Riki bingung sekaligus khawatir jika Tika mendengar segala perkataan keduanya yang Tika bahas saat ini malah membuat adik untuk Aksa, bukankah keduanya sama-sama tidak nyambung? Alena bahkan yang mendengar perkataan Tika tentang adik lantas hanya menatapnya dengan tatapan yang melongo. Membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Tika ketika melihat ekspresi dari Alena barusan.


Tika yang melihat keduanya hanya termenung tanpa bergerak sama sekali, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada kemudian langsung mendorong tubuh Alena dan juga Riki keluar dari kamar Aksa, membuat keduanya yang di dorong begitu saja tentu saja bingung dan hanya bisa mengikuti arah dorongan Tika sampai ke depan pintu kamar Aksa.


"Kalian buatlah adik yang banyak ya, untuk sekarang biarkan Mama tidur dengan cucu Mama." ucap Tika ketika berhasil membawa tubuh Alena dan juga Riki keluar dari kamar Aksa.


Bruk


Suara pintu di tutup dengan keras membuat Alena dan juga Riki hanya bisa menatap ke arah pintu kamar dengan tatapan yang bingung. Sampai kemudian Alena menatap ke arah Riki, membuat Riki yang menyadari hal tersebut lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Alena.


"Untuk saat ini ku mohon lakukan saja semuanya dahulu Rik, beri aku waktu sampai aku siap mengatakan semuanya kepada keluarga ku. Aku mohon..." ucap Alena dengan nada memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya berharap dengan begitu Riki akan menjadi luluh kepadanya.


Riki yang melihat dan mendengar permohonan dari Alena barusan, lantas mengambil kedua tangan Alena yang mengatup sambil menghela napasnya dengan panjang. Melihat ekspresi raut wajah Alena yang lagi dan lagi membuat hatinya luluh dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengiyakan permintaan dari Alena saat ini.


"Sudahlah, untuk saat ini akan mencoba mengikuti segalanya lagi pula ini adalah konsekuensi dari apa yang telah aku sanggupi." ucap Riki kemudian sambil menarik napasnya panjang.


Mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja langsung membuat ekspresi raut wajah Alena berubah dengan seketika. Sambil tersenyum dengan lebar ke arah Riki, Alena mengucap beribu-ribu terima kasih karena sampai detik ini Riki sudah membantunya sampai ke titik ini. Entahlah Riki sendiri bahkan juga tidak tahu mengapa ia malah melakukan segala hal untuk Alena. Jika hanya karena kesetiaan dalam bekerja dan juga pengabdian, Riki rasa itu semua tidak akan menjadikannya sampai seperti ini. Riki menghembuskan napasnya dengan kasar sambil menatap ke arah Alena dengan tatapan yang lekat.


Nyatanya senyuman itu yang mampu membuat Riki luluh dan mau melakukan segalanya. Sebuah perasaan yang tak seharusnya ada antara majikan dengan bawahannya, membuat Riki hanya bisa menahannya sekaligus menguburnya dalam-dalam. Yang Riki lakukan saat ini hanya sedang membuat Alena bahagia dengan jalan apapun itu walau harus mengorbankan dirinya sendiri.


"Mengapa hanya aku? Kau juga harus ikut dan beristirahat! Lagi pula kita satu tujuan bukan?" ucap Alena kemudian sambil menarik tangan Riki agar mengikuti langkah kakinya.


"Tapi Nona saya...." ucap Riki hendak menolak namun tidak lagi bisa membantah karena tarikan tangan Alena yang terus membawanya mengikuti langkah kaki Alena menuju ke arah kamar.


**


Sementara itu tanpa keduanya sadari dari balik dinding kamar Aksa terlihat Alex tengah melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya sedari tadi. Alex yang berniat untuk memberitahu Tika bahwa ia sedang dicari oleh Hermawan dibawah, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi ketika tak sengaja mendengar pembicaraan antara Alena dan juga Riki.


Apapun itu yang tengah mereka bicarakan benar-benar membuat rasa kecurigaan dalam diri Alex semakin meninggi. Alex yang memang sedari awal mencium ada yang aneh dengan rumah tangga Alena, mendengar pembicaraan keduanya membuat segala hal yang berputar di kepala Alex sedari lama semakin menjelas walau belum sepenuhnya jelas dan dapat Alex mengerti alasannya.


Sambil melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya, Alex lantas menatap kepergian Alena dan juga Riki dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.


"Apapun itu alasannya, aku harap ini bukan sebagai bentuk pelarian ketika Alena ingin menghindari Errando." ucap Alex sambil terus menatap kepergian keduanya hingga punggung mereka tidak lagi terlihat oleh Alex.


***


HR Company


Dari arah lobi terlihat Alex diikuti dengan Riki di belakangnya tengah melangkahkan kakinya menyusuri area lobi menuju ke lantai atas. Disepanjang perjalanan beberapa karyawan yang berpapasan dengan Alex terlihat memberikan salam dan menyapa Alex, membuat Riki yang sedari tadi mengikuti langkah kaki Alex dibelakangnya semakin merasa kecil jika dibandingkan dengan posisi Alex di perusahaan ini.


Baik Alex maupun Riki terlihat memasuki lift khusus CEO, membuat Riki lantas langsung dihadiahi tatapan canggung sekaligus bertanya-tanya dari semua orang yang ada di lobi akan status Riki yang berani-beraninya menggunakan lift khusus CEO di perusahaan ini. Riki yang sadar betul akan tatapan begitu banyak karyawan yang menatapnya dengan tatapan yang aneh dan sebagainya, hanya bisa terdiam sambil sesekali tertunduk lesu disaat perasaan tidak pantas kembali menghampiri dirinya.


"Tegakkan kepala mu karena mulai saat ini kau adalah Presdir di perusahaan ini." ucap Alex dengan senyum menyeringai membuat Riki lantas terkejut dengan seketika.


"Apa tuan?"


Bersambung