Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Ayo kita bertemu


Alena yang mendapat informasi bahwa saat ini Aksa tengah berada di pos satpam, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruangan pos satpam yang terletak di ujung dekat pagar pintu masuk tempat hiburan malam tersebut.


Alena yang dari kejauhan melihat Aksa tengah duduk di kursi dengan termenung, lantas terlihat mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Aksa.


"Aksa..." panggil Alena kemudian ketika jarak diantara keduanya sudah semakin dekat.


Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat Aksa langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Aksa yang melihat Alena sudah berada di ambang pintu pos satpam kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlarian menghampiri Alena, membuat Danu yang mendengar suara ribut-ribut langsung menoleh dengan seketika.


"Mommy..." teriak Aksa sambil memeluk tubuh Alena dengan erat.


Sedangkan Alena yang mendapat pelukan tersebut menyambut tubuh kecil Aksa dan mendekapnya dengan erat.


"Mommy minta maaf... Kamu pasti takut sekali tadi ya? Apa kamu terluka?" tanya Alena kemudian dengan raut wajah yang khawatir akan keadaan Aksa.


Namun Aksa yang mendapat pertanyaan tersebut malah tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan, membuat Alena hanya bisa tersenyum ketika melihat jawaban dari Aksa barusan.


Sedangkan Danu yang melihat interaksi keduanya tersebut lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana keduanya berada, hendak meminta maaf kepada Alena karena telah lalai dan meninggalkan Aksa tadi.


"Permisi Bu saya mau meminta maaf sebelumnya karena telah lalai dan tidak menjaga amanah dari Ibu, sayalah di sini yang bersalah atas kejadian yang menimpa anak ibu." ucap Danu dengan raut wajah yang merasa bersalah, membuat Alena yang mendengar sebuah suara menyapa telinganya lantas langsung mendongak dengan seketika.


Alena yang tak asing dengan wajah seorang satpam yang saat ini tengah berdiri di sebelahnya, lantas terlihat bangkit dari posisinya dan menatap ke arah satpam tersebut sambil tersenyum.


"Tak apa, yang seharusnya di salahkan untuk hal ini itu seharusnya adalah saya. Saya minta maaf ya karena sudah merepotkan kamu." ucap Alena kemudian dengan nada yang tulus membuat Danu lantas bisa bernapas dengan lega ketika mendengar jawaban dari Alena untuk permintaan maafnya barusan.


"Terima kasih banyak Bu, sekali lagi saya minta maaf." ucap Danu kemudian yang masih merasa bersalah, membuat Alena lantas langsung tersenyum menatap ke arahnya begitu mendengar perkataan Danu barusan.


"Sudah kubilang tidak apa tak perlu dipikirkan, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya. Saya permisi dulu..." ucap Alena kemudian berpamitan kepada Danu yang dibalas Danu dengan anggukan kepala.


Setelah mengatakan hal tersebut Alena lantas menggandeng tangan mungil Aksa untuk mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobilnya terparkir.


Tanpa keduanya sadari dari arah pintu masuk terlihat Steven tengah menatap ke arah Alena dan juga Aksa dengan tatapan yang menelisik. Sambil memapah tubuh Errando untuk terus melangkahkan kakinya, Steven menghentikan langkah kakinya sebentar begitu melihat langkah kaki Alena dan juga Aksa yang menuju ke arah parkiran.


"Entah mengapa aku malah merasa bahwa anak kecil tersebut ada ikatan darah dengan Errando, kemiripan keduanya benar-benar tidaklah wajar. Pasti ada sesuatu yang terjadi beberapa tahun yang lalu, hanya saja si bodoh ini sama sekali tidak menyadarinya!" ucap Steven sambil terus menatap kearah kepergian keduanya dengan sesekali melirik ke arah Errando yang terlihat tepar saat ini.


Sedangkan Errando yang posisinya tengah menggelayut di pundak Steven, begitu merasa bahwa Steven menghentikan langkah kakinya sejenak lantas terlihat menyipitkan matanya menatap ke arah sekitar ketika Alena dan juga Aksa memasuki sebuah mobil yang di mana posisinya berada tidak jauh dari tempatnya berada, lantas langsung membuat Errando hendak bangkit dan mengejar Alena. Beruntung tangan Steven yang cekatan lantas berusaha untuk mencegahnya agar tidak sampai bertindak terlalu jauh lagi.


"Alena... Tunggu aku! Alena...." teriak Errando beberapa kali membuat Steven sedikit kewalahan dalam mengurusi Errando.


Steven yang melihat tingkah Errando seperti itu lantas menahan dengan kuat tubuh Errando yang terlihat begitu sempoyongan saat ini.


Sampai kemudian setelah Steven melihat mobil yang di tumpangi Alena sudah berlalu pergi barulah ia melepaskan tangannya dan membiarkan Errando bergerak dan jatuh dalam posisi yang terduduk.


"Alena....." panggil Errando sambil menatap kepergian mobil Alena.


"Tau lah... Terserah apa katamu!" ucap Steven yang kesal sambil berkacak pinggang menatap ke arah dimana Errando berada.


***


Malam harinya


Setelah memastikan Aksa tidur dengan tenang, Alena lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aksa secara perlahan. Ditatapnya jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul 10.00 malam, membuat helaan napas lantas terdengar dari mulut Alena ketika ia menyadari bahwa kali ini Riki tengah lembur lagi.


"Sepertinya ia akan pulang malam lagi? Sudahlah apa yang kau khawatirkan Al? Lagi pula antara aku dan juga Riki hanyalah sebatas rekan kerja yang saling menguntungkan." ucap Alena kemudian sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk membuat secangkir minuman hangat.


Suasana saat itu terlihat begitu sepi karena Tika sudah lebih dulu beristirahat sore tadi, sedangkan Alex dan juga Hermawan keduanya sedang berada di luar kota untuk mengurusi beberapa kantor cabang di sana. Dan sekarang tinggallah Alena seorang yang terlihat tengah menikmati coklat hangat di area meja makan.


Helaan napas kembali terdengar berasal dari mulut Alena sambil sesekali meneguk coklat panasnya seakan mencoba untuk menenangkan jiwanya yang sedikit gundah gulana saat ini.


"Mengapa kehidupanku rumit sekali?" ucap Alena dengan nada yang lirih sambil menatap kosong ke arah depan.


Sampai kemudian ketika sebuah keheningan tengah menemaninya malam ini sebuah deringan ponsel miliknya lantas kembali terdengar. Membuat Alena langsung dengan spontan menoleh ke arah samping dimana di sana ponselnya ia letakkan.


"Errando? Ada apa lagi dia? Apa dia tidak cukup puas mengganggu ku?" ucap Alena dalam hati tanpa langsung mengangkat panggilan telpon dari Errando saat ini.


Deringan itu terdengar lagi dan lagi menggema memenuhi ruangan tersebut. Sampai kemudian Alena yang mulai jengkel lantas mengambil ponselnya dengan kasar dan menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


Sambil mengatur napasnya dengan perlahan Alena mulai mengeluarkan suaranya.


"Ada apa?" ucap Alena kemudian ketika sambungan keduanya terhubung baru saja.


Hening sesaat di seberang sana yang lantas membuat Alena mengernyit ketika tidak mendapati jawaban apapun dari Errando. Sampai beberapa detik kemudian terdengar sebuah suara di seberang sana yang lantas mengejutkan Alena.


"Ayo kita bertemu sekarang..." ucap Errando dengan tiba-tiba.


"Apa?"


Bersambung