
"Cih... Apakah rumah yang kau maksud benar-benar adalah rumah mu?" ucap Errando dengan nada yang menyindir.
"Maksud mu?" jawab Alena dengan nada yang sama sekali tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Errando saat ini.
Errando yang mendengar pertanyaan Alena barusan tentu saja langsung menatap ke arah Alena dengan spontan. Bahkan hingga kini Alena masih saja berkelit padahal jelas-jelas yang ia bahas sedari tadi di sini adalah Steven, namun Alena seakan pura-pura tidak tahu akan perkataannya sedari tadi. Errando yang mulai jengah akan tingkah laku Alena lantas terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alena berada, membuat Alena yang melihat langkah kaki Errando kian mendekat ke arahnya lantas terlihat mengambil langkah kaki mundur ke belakang.
Jujur saja melihat Errando dengan wajah seperti ini membuat Alena menjadi takut, bagi Alena saat ini Errando terlihat seperti seekor binatang buas yang tengah menandai mangsanya. Benar-benar tajam dan mengerikan hingga membuat Alena terus membawa langkah kakinya mundur ke arah belakang namun malah membuat langkah kaki Errando kian mendekat menghampirinya saat ini.
"Kau bahkan lebih tahu siapa topik pembahasan yang kita bicarakan saat ini, mengapa kau senang sekali mempermainkan seseorang Al? Kau pikir kau itu siapa ha?" teriak Errando diakhir kalimatnya.
Mendengar teriakan Errando yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Alena terkejut seketika, hingga langkah kakinya yang mentok di sofa ruang keluarga lantas membuatnya langsung jatuh dalam posisi duduk di sofa ruang keluarga tersebut. Errando yang melihat Alena terjatuh di sofa lantas melihat hal tersebut sebagai kesempatan baginya. Tanpa menyianyiakan lagi kesempatan tersebut Errando langsung mengunci tubuh Alena di bawah kungkungannya, membuat Alena yang mendapati Errando mengunci tubuhnya, lantas hanya bisa terdiam di tempatnya tanpa bisa beranjak dari sofa tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Er?" ucap Alena sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Errando saat ini.
Errando yang melihat Alena gelagapan tentu saja senang bukan main. Errando benar-benar tidak lagi bisa menahan hasratnya, sosok wanita di bawahnya ini benar-benar telah memporak-porandakan hatinya. Alena benar-benar telah berhasil menaklukkan hatinya, rasanya seperti sebentar-sebentar melayang, sebentar-sebentar tertawa namun ketika Errando tengah berada di atas dan mempercayakan segalanya kepada Alena, Alena malah dengan santainya menghempaskannya ke dasar jurang tergelap dan mengatakan bahwa ia sedang membalas perbuatan Errando saat ini. Jika sudah seperti ini siapakah yang bodoh diantara keduanya?
Errando yang melihat Alena semakin memberontak, lantas semakin mengeratkan kungkungannya kepada Alena, Errando mendekatkan kepalanya ke arah telinga Alena dan bersiap membisikkannya sesuatu.
"Bukankah kau menyuruh ku untuk menganggap mu seperti mereka (p*l**ur)? Lagi pula kau juga melayani Steven bukan? Mengapa kau kaku sekali..." ucap Errando dengan senyum yang menyeringai.
Mendengar bisikan dari Errando barusan tentu saja membuat Alena terkejut seketika. Sambil berusaha terus memberontak Alena terus berteriak sambil meminta kepada Errando untuk dilepaskan. Alena merasa ini adalah salah, keinginan Errando bukanlah didasari keinginan seorang suami yang meminta haknya. Melainkan lebih ke arah memberi pelajaran dan hal itu lah yang membuat Alena tidak ingin melakukannya meski ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri.
Alena melawan dan terus melawan, sedang Errando malah terus menjelajahi tubuh Alena dengan buasnya sambil bermain di atas gunung kembar milik Alena, membuat Alena yang merasakan sedikit kesakitan karena ulah Errando yang meremas miliknya dengan kencang, lantas menuntun Alena untuk semakin memberontak hingga tanpa sengaja malah menendang pusaka milik Errando dengan keras.
Errando yang mendapat tendangan secara tiba-tiba tentu saja terkejut bukan main, membuat ia sampai terperosok ke lantai karena saking dahsyatnya kaki Alena menendang miliknya itu.
"Aku memang meminta mu untuk menganggap ku sama dengan mereka (p*l**ur), tapi bukan berarti kamu bisa memakai ku sesuka hatimu. Jika kamu sedang berada dalam puncak hasrat mu sebaiknya jangan lampiaskan padaku karena aku masih punya harga diri Er, lagipula aku masih memilih-milih jika ingin melakukannya." ucap Alena dengan nada yang kesal karena Errando bertindak semaunya.
Mendengar hal tersebut membuat Errando lantas tersenyum dengan sinis seakan tengah meremehkan ucapan Alena saat ini. Nyatanya apa yang diucapkan Alena tidaklah sama dengan apa yang terjadi saat ini. Semenjak Errando mengetahui bahwa keduanya berselingkuh, entah mengapa membuat pandangannya berubah 360 derajat kepada Alena. Entah itu karena dendam atau hanya karena ingin melampiaskannya saja, namun semakin Alena memberontak seperti ini entah mengapa semakin membuat Errando menjadi marah dan juga kesal terhadapnya.
"Kau mengatakan hal tersebut seakan-akan kau orang paling suci di dunia ini, jangan memainkan peran di sini Al kita sudahi saja segalanya sebelum aku muak dan melakukan sesuatu kepadamu!" ucap Errando memperingati Alena agar tidak bermain-main dengannya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan kepadaku? Apa kau ingin membunuh ku seperti..." ucap Alena namun terhenti karena ia baru sadar jika ia hampir saja keceplosan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan.
Errando yang mendengar perkataan dari Alena barusan tentu saja langsung terkejut seketika, apa yang dikatakan oleh Alena barusan tentu saja membuat sebuah pertanyaan besar nampak berputar di kepalanya saat ini. Ditatapnya Alena dengan tatapan yang menelisik antara yakin dan tidak yakin bahwa Alena sudah mengetahui segalanya. Namun raut wajah Alena yang seperti orang tengah tertangkap basah, membuat Errando semakin curiga kepada Alena yang mengetahui sesuatu tentangnya.
"Apa yang kau katakan barusan?" ucap Errando kemudian seakan kembali memastikan tentang ucapan Alena barusan.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat mulut Alena terkunci, Alena benar-benar merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja malah mengatakan hal tersebut di depan Errando. Alena bahkan sungguh tidak berniat mengatakan hal tersebut kepada Errando, hanya saja sikap Errando yang keterlaluan membuatnya terbawa emosi dan tanpa sadar malah mengatakan hal tersebut kepada Errando.
"Tidak ada, sudahlah aku sudah lelah sebaiknya kita istirahat dan bersiap untuk esok karena esok adalah sidang perceraian kita." ucap Alena kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Sedangkan Errando yang mendengar perkataan esok hari tentu saja semakin dibuat terkejut. Errando bahkan benar-benar tidak menyangka bahwa sidang perceraiannya akan secepat ini.
"Ah sepertinya aku lupa mengatakan kepadamu jika aku tidak menyukai sesuatu yang lama sehingga aku membuat sidang kita dipercepat. Bukankah kamu juga menginginkan hal yang sama Er?" ucap Alena dengan mencoba tersenyum, namun berhasil membuat Errando terdiam seketika.
"Sampai berjumpa di pengadilan Errando." ucap Alena kemudian berlalu pergi dari sana.
Bersambung