
Malam harinya tepatnya setelah makan malam, Riki yang tidak biasa dengan atmosfir baru dalam keluarga ini mendadak di tuntut menjadi seseorang keluarga dari kalangan atas. Riki benar-benar tidak biasa akan hal ini mengingat ia hanyalah seorang pemuda dari kampung yang sama sekali tidak mengerti akan masalah table manner ataupun hal-hal kalangan atas lainnya, beruntung Alena yang mengetahui akan kondisi dirinya tak henti-hentinya membantunya ketika sedang berada di meja makan tadi.
***
Meja makan
Suasana yang begitu khidmat terlihat jelas di area meja makan keluarga Hermawan saat itu, Riki yang tidak pernah sama sekali ikut makan bersama di perjamuan besar seperti ini lantas merasa seperti orang hilang di antara tengah-tengah keluarga besar Hermawan. Alena yang tahu Riki tengah bingung dan tidak tahu akan apa yang hendak ia lakukan, lantas bangkit dari posisinya dan mengambil piring Riki kemudian mengisinya dengan beberapa makanan yang sekiranya akan memudahkan Riki untuk memakannya dan tanpa perlu tata cara yang sulit, mengingat gerak-geriknya kini tengah di awasi keluarganya.
Sambil meletakkan piring berisi makanan lengkap untuk Riki, Alena mulai mendekat ke arah telinga Riki untuk membisikkannya sesuatu. Membuat Riki langsung dengan spontan mendekatkan telinganya mecoba untuk mendengar nada suara Alena yang lirih.
"Bersikaplah biasa dan jangan tegang, ekspresi wajah mu benar-benar terlihat." ucap Alena kemudian dengan nada yang berbisik.
Mendengar bisikan Alena barusan membuat Riki langsung memperbaiki posisinya, hingga kemudian sebuah suara berat lantas terdengar menggema membuat jantung Riki kian berdebar berada di tengah-tengah keluarga ini.
"Kalau boleh aku tahu dengan cara apa kamu menghidupi putri dan juga cucu ku selama ini? Bukankah gaji bulanan mu terputus sejak insiden kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu?" ucap Hermawan kemudian yang penasaran akan hal tersebut.
"Saya mempunyai ladang di kampung pak, dari penjualan hasil pertanian sayuran dan juga beberapa buah saya mencukupi kehidupan Non.. Vivi dan Aksa maksud saya." ucap Riki yang hampir keceplosan memanggil Alena dengan sebutan Nona tadi namun berhasil ia perbaiki sehingga tidak sampai terdengar oleh mereka semua yang ada di meja makan.
Sebenarnya ladang yang di katakan oleh Riki barusan adalah hasil dari kerjasama antara Alena dan juga Riki. Dimana keduanya mencoba untuk membeli beberapa kebun dan juga ladang di kampung untuk memulai usaha merintis bersama dengan modal masing-masing 50% persen dari kedua belah pihak.
"Apa kebutuhan mu benar-benar terpenuhi hanya dari hasil bertani saja Al?" tanya Alex kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja kak, lagi pula di desa tidaklah sama dengan di kota yang apa-apa serba mahal dan juga banyak mengeluarkan uang." jawab Alena dengan tersenyum gembira.
"Wah sepertinya kehidupan kalian benar-benar menyenangkan ya, bukan kah begitu Aksa?" tanya Tika kemudian yang lantas membuat Aksa yang sedari tadi sibuk dengan makanannya langsung menoleh seketika begitu namanya di panggil oleh Tika.
Dengan raut wajah yang sumringah dan mulut yang penuh dengan makanan, Aksa nampak mengangguk sambil tersenyum dengan wajah polosnya membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan sangat gemas dengan tingkah anak kecil itu.
"Itu benar Oma, Daddy memberiku begitu banyak sayur dan juga buah segar, membuat perut ku menjadi besar dan hampir meletus karenanya." ucap Aksa sambil memperagakan perutnya yang membesar bak wanita hamil.
Mendengar perkataan Aksa membuat semua orang di meja makan lantas tertawa dan merubah suasana meja makan yang tadinya hening dan juga mencekam mendadak lebih ceria karena celotehan Aksa yang begitu polos.
***
Perkataan demi perkataan dari Hermawan yang menyuruhnya masuk ke dalam perusahaan benar-benar membuat pikiran Riki bimbang karena tidak tahu harus melakukan apa di saat-saat seperti ini. Apa yang terjadi benar-benar mendadak dan tidak sesuai dengan perjanjian. Riki bahkan tidak pernah membayangkan jika ia akan bermain rumah-rumahan sungguhan bersama dengan Alena saat ini, mengingat pernikahan mereka hanyalah di atas kertas tanpa ijab qabul ataupun pemberkatan sekalipun.
Dengan langkah kaki yang perlahan Riki terus melangkahkan kakinya hendak pulang ke Apartment studio yang biasa ia tinggali setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun ketika langkah kakinya hendak keluar dari pintu utama rumah tersebut, sebuah suara yang memanggilnya dengan nyaring lantas langsung menghentikan langkah kaki Riki yang hendak keluar dari sana.
"Kamu mau ke mana?" ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Tika, membuat langkah kaki Riki langsung terhenti seketika begitu mendengarnya.
"Saya hendak pulang Nyonya." jawab Riki dengan nada yang santai tanpa beban sama sekali membuat Tika yang mendengar hal tersebut langsung mengernyit dengan seketika.
"Apa kata-kata kami melukai mu? Aku minta maaf jika ucapan suami ku sedikit menyindir dan tidak percaya kepadamu tapi aku bisa menjamin jika apa yang diperintahkan olehnya adalah demi kebaikan kalian." ucap Tika yang mengira bahwa kepulangan Riki karena tersinggung akan perkataan Hermawan yang terkesan seperti menghina Riki tidak bisa menghidupi keluarganya hanya dengan mengandalkan pertanian saja.
"Bu... Bukan begitu Nyonya saya sama sekali tidak merasa tersinggung. Saya pulang karena Vivi terlihat bahagia di sini jadi saya membiarkan Vivi untuk berkumpul dengan keluarganya sekaligus mengenalkan Aksa akan Oma, Opa serta Om nya." ucap Riki mencoba untuk menjelaskan kepada Tika bahwa ia tidaklah bermaksud demikian.
Namun Tika yang mendengar penjelasan dari Riki barusan tentu saja malah di buat semakin bingung akan keputusan yang di ambil Riki secara sepihak saat ini. Tika yang mendengar alasan tersebut lantas tersenyum kemudian menepuk lengan Riki secara perlahan, membuat Riki lantas sedikit terkejut akan tepukan yang berasal dari tangan Tika barusan.
"Kamu jangan bercanda, bukankah kalian berdua adalah suami istri? Bagaimana bisa kalian malah tinggal terpisah seperti ini? Kalau kata orang jawa namanya saru, apa kamu mengerti?" ucap Tika kemudian yang lantas membuat Riki bingung akan maksud dari perkataan Tika barusan.
"Maksudnya Nyonya?" tanya Riki yang tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Tika barusan.
Tika yang mendengar perkataan tersebut lantas tersenyum kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Riki berada dan langsung membisikkannya sesuatu.
"Naiklah ke atas dan susul Alena di kamarnya, jika perlu buat adik yang banyak untuk Aksa ketika kalian beristirahat di atas." ucap Tika dengan nada yang berbisik kemudian berlalu pergi dari sana.
"Apa?"
Bersambung