
Kediaman Hermawan
Terlihat Alena tengah memasuki pintu kediaman Hermawan sambil menggeret satu koper besar di tangan kirinya. Dengan langkah kaki yang perlahan Alena terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Hingga kemudian sebuah suara yang terdengar menggelegar lantas menghentikan langkah kaki Alena yang hendak berjalan naik menuju ke arah kamarnya.
"Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah ku bilang jika sampai kau bercerai dengan Errando kau bukan lagi putri ku!" ucap Hermawan yang terdengar begitu menggelegar dan tentu saja menyakiti hati Alena ketika mendengar ucapannya barusan.
Alena terdiam di tempatnya membeku sambil menatap langkah kaki Ayahnya yang kian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada saat ini. Alena terdiam membisu tak bisa mengatakan apa-apa, membela dirinya pun kali ini akan terdengar begitu percuma karena Ayahnya tidak akan pernah mendengarkannya. Sedangkan Hermawan yang tak mendengar jawaban apapun dari Alena setelah perkataannya, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Alena saat ini.
"Keluar sekarang dan ikut dengan Riki, aku benar-benar tidak ingin melihat mu. Setidaknya kau harus bersyukur karena aku masih memberimu tempat tinggal dan tidak menyeret mu keluar dari sini, jadi selagi aku berkata baik-baik sebaiknya kau segera angkat kaki dan keluar dari rumah ini." ucap Hermawan sambil memalingkan wajahnya.
"Pah..." panggil Alena dengan nada yang lirih membuat Hermawan langsung menoleh dengan seketika ke arah dimana Alena berada dan menatapnya dengan tajam.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Papa lagi, hubungan kita cukup sampai disini!" ucap Hermawan kembali.
Setelah mengatakan hal tersebut, Hermawan lantas melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan Alena yang hingga kini masih menatap dengan tatapan yang tidak percaya ke arah kepergian Hermawan yang terlihat meninggalkannya tanpa menatap ke arah Alena sama sekali.
"Papa..." panggilnya dengan nada yang lirih namun tidak sampai hati untuk memanggil Hermawan dengan lebih keras lagi.
Alena terdiam di tempatnya, ia benar-benar bimbang kali ini. Entah ia harus meninggalkan rumah atau tetap di sini dan melihat raut wajah kebencian yang ditimbulkan oleh Hermawan. Alena tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini, suasana rumah kala itu bahkan tampak begitu sepi. Alena yakin Mamanya pasti tidak ada di rumah saat ini.
Alena menghela napasnya dengan panjang, sepertinya sebelum kepergiannya Alena tidak akan pernah bisa bertemu dengan Mamanya atau bahkan Kakaknya Alex. Keputusan Hermawan sudah benar-benar bulat dan menyuruhnya untuk pergi dari rumah ini. Dengan langkah kaki yang berat Alena mulai mengambil langkah berbalik badan dan pergi dari rumah yang mungkin akan ia rindukan di sana. Ditatapnya area sekitar dengan tatapan yang menelisik, seakan Alena ingin mengenang setiap momen yang ia ciptakan di sini semenjak masa kecilnya.
Baru setelah itu ia menatap ke arah pintu kamar kedua orang tuanya dengan tatapan yang sendu.
"Setidaknya Papa tidak benar-benar membuang ku." ucap Alena dengan nada yang sendu.
Setelah itu Alena mulai melangkahkan kakinya dan meninggalkan kediaman Hermawan dengan perasaan yang berat. Sebuah pengorbanan yang berat dan tentu saja tidak akan pernah Alena bayangkan sebelumnya akan terjadi dan menimpa dirinya. Dengan langkah kaki yang perlahan Alena terus membawa langkah kakinya keluar dari rumah tersebut menuju ke arah depan dimana Riki telah menunggunya di sana, sesuai dengan perkataan dari Hermawan.
**
"Nona..." sapa Riki yang melihat Alena datang dan menghampirinya.
Mengetahui kedatangan Alena, Riki lantas dengan sigap langsung membawakan koper Alena dan membawanya masuk ke dalam bagasi. Sedangkan Alena hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, sebelum pada akhirnya masuk dan mengikuti kemanapun mobil yang dikendarai Riki melaju membawa Alena meninggalkan kota ini.
"Maafkan Papa Al, Papa tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini. Namun antara kamu dan juga Alex harus ada salah satu anak yang berkorban dan tersakiti. Papa tidak pernah memilih mu untuk mengorbankan hidup mu namun takdir lah yang menuntun mu menerima semua ini." ucap Hermawan dengan nada yang sendu.
Disaat Hermawan tengah sibuk meratapi penderitaan putrinya, sebuah deringan ponsel miliknya lantas langsung membuyarkan lamunannya. Dirogohnya ponsel miliknya pada saku celana kemudian mulai mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel ketika nama Arya tertera jelas pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Hermawan setelah sambungan telponnya ia angkat.
"Tuan saya ingin melaporkan bahwa keluarga Valentino telah mencabut semua kerjasama yang terjalin dengan perusahaan kita." ucap Arya memberikan laporan.
Mendengar hal tersebut membuat Hermawan semakin sakit kepala. Sambil memegang tengkuknya yang terasa berat dengan pelan, Hermawan mulai mengambil napasnya dengan perlahan.
"Biarkan saja mereka melakukannya, adakan rapat darurat dan buat agenda penting tentang hal ini. Kita harus segera menemukan solusi sebelum kerugian yang akan kita tanggung berkali-kali lipat jumlahnya." ucap Hermawan memberikan perintah kepada Arya agar segera bertindak dan tidak lagi mengulur waktu terlaku banyak.
"Baik tuan saya akan segera melaksanakan perintah anda." ucap Arya kemudian mengakhir panggilan telponnya dengan Hermawan.
Helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Hermawan setelah mendengar kabar bahwa keluarga Valentino menarik semua kerjasamanya begitu saja. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menghela napasnya, namun kali ini dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Setidaknya kerugian yang aku tanggung saat ini tidaklah seberapa dibanding ketika keluarga Valentino mengetahui bahwa kematian putrinya Juwita di karenakan oleh Alex. Aku yakin jika sampai itu terjadi mungkin perusahaan ku sudah rata dengan tanah." ucap Hermawan dengan nada yang lega namun juga sedih ketika kembali teringat nasib Alena saat ini.
***
Kediaman Valentino
Terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas memasuki area kediaman keluarga Valentino. Setelah mendengar kabar bahwa Arga telah mencabut semua kerjasama antar keluarga dengan Hermawan, Errando langsung memutuskan untuk menemui Papanya di rumah dan meminta penjelasannya secara langsung.
Errando yang tidak lagi sabar ketika mendengar berita tersebut, lantas langsung membuka pintu ruang kerja Arga begitu saja sampai lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa maksud Papa mencabut semua kerjasama dengan keluarga Alena Pa?"
Bersambung