
Sky Holic
Di sebuah ruang VIP yang terletak di tempat hiburan malam, terlihat dua orang sahabat lama tengah tepar karena terlalu banyak meminum minuman beralkohol sedari tadi. Tawa yang berasal dari keduanya benar-benar terdengar menggema di ruangan tersebut yang di selingi dengan obrolan garing selayaknya orang mabuk pada umumnya.
Errando yang semula sudah mengambil posisi berbaring di sofa perlahan-lahan terlihat bangkit dari tempatnya dan menyenderkan punggungnya sambil menatap ke arah Steven yang saat ini tengah sibuk membuka kulit kacang, namun bukan kacangnya yang ia masukkan ke dalam mulut melainkan kulit kacang yang tadi ia kupas. Errando yang melihat tingkah laku dari Steven barusan tentu saja langsung tertawa, membuat Steven dengan spontan menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar tawa tersebut.
"Jika kau ingin memakan kulitnya... Untuk apa kau susah-susah mengupasnya? Bukankah lebih enak langsung kau makan seperti ini?" ucap Errando sambil memperagakan dan langsung menelan begitu saja kacang beserta kulitnya secara bulat-bulat.
Steven yang melihat tingkah Errando barusan tentu saja terkejut bukan main kemudian langsung menoyor kepala Errando dengan keras lalu tertawa.
"Dasar goblok!" ucap Steven sambil tertawa dengan kencang.
Keduanya kemudian kembali terhanyut dalam tawa dan juga candaan ringan. Hingga beberapa detik kemudian suasana mendadak menjadi hening dan juga sunyi, membuat ruangan VVIP tersebut terasa seperti kosong dan hampa. Steven yang merasa ada yang aneh dengan Errando lantas langsung menatap ke arahnya. Raut wajah Errando yang semula tertawa dengan lepas perlahan-lahan berubah menjadi sendu dengan helaan napas yang terus terdengar menggema berasal dari mulut Errando, membuat Steven yang melihat hal tersebut lantas menatap ke arah Errando dengan tatapan penuh tanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Steven sambil mempertajam pandangannya yang terasa berkunang-kunang saat ini.
"Dia kembali datang... Tapi bukan untuk ku melainkan untuk orang lain!" ucap Errando dengan raut wajah yang kusut membuat Steven lantas tidak mengerti akan arah pembicaraan Errando saat ini.
"Siapa yang datang? Siapa yang bukan untuk mu? Apakah maksud mu adalah Alena? Hahahaha jangan bercanda dia di sana pasti sudah mendapat yang lebih tampan dari dirimu!" ucap Steven sambil tertawa kecil dan menunjuk ke atas.
Errando yang mendengar perkataan dari Steven barusan lantas memutar bola matanya dengan jengah, meski apa yang dikatakan oleh Steven hanyalah sebuah spontanitas karena efek minuman beralkohol tapi entah mengapa malah terasa tepat sasaran dan langsung mengenai hati Errando.
"Jangan meledek ku karena apa yang kau katakan barusan adalah kenyataannya!" pekik Errando dengan nada yang kesal karena Steven malah menganggapnya hanya bercanda saja.
"Aku benci mengakui ini ini tapi yang kau katakan barusan semuanya benar." ucap Errando dengan nada yang datar membuat tawa Steven langsung terhenti seketika begitu mendengarnya.
"Apa?" pekik Steven yang terkejut akan perkataan Errando barusan.
Sementara itu di kediaman Hermawan setelah pertemuan yang tidak terduga itu, Hermawan pada akhirnya memutuskan untuk rawat jalan di rumah, mungkin lebih tepatnya memaksa untuk pulang. Beberapa pihak dokter bahkan sempat kewalahan untuk mencegah keinginan Hermawan tersebut. Sampai kemudian Alena dan juga Alex memberikan pengertian kepada Dokter dan juga mencari jalan tengah terbaik agar Hermawan diijinkan untuk pulang saat ini.
Setelah pembicaraan yang begitu panjang dan juga melalui prosedur kesehatan tentunya, pada akhirnya Dokter memberikan ijin agar Hermawan di rawat jalan asalkan ia bisa membagi waktunya untuk beristirahat dan jangan terlalu memforsir tubuhnya untuk melakukan hal-hal yang berat.
Nyatanya ketika sampai di rumah yang Hermawan lakukan bukannya beristirahat ia malah mempersiapkan kamar untuk cucunya yaitu Aksa, dengan raut wajah yang bahagia Hermawan sibuk menata beberapa pernak-pernik yang akan menghiasi kamar untuk Aksa. Alena yang mencoba untuk mengatakan berulang kali kepada Hermawan untuk tidak melakukan hal itu malah sama sekali tidak di gubris oleh Hermawan. Sepertinya Hermawan benar-benar bahagia mempunyai cucu baru yang menghiasi kediamannya.
Alena yang tidak lagi bisa menghentikan Hermawan untuk menghias kamar bagi Aksa, lantas hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan sambil terus menatap ke arah Hermawan yang saat ini tengah sibuk mengarahkan beberapa tukang kebun bahkan juga satpam untung menggotong beberapa perabot kemari.
"Rasanya aku benar-benar seperti kembali ke Rumah saat ini." ucap Alena dalam hati sambil terus menatap ke arah Hermawan.
Sampai kemudian ketika Alena sedang asyik menatap ke arah Hermawan, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat kepala Alena perlahan-lahan menoleh ke arah sumber suara. Dari arah yang tak jauh dari tempatnya berada terlihat Riki tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya sambil memanggil nama Alena dengan sebutan Nona beberapa kali, membuat Alena yang mendengarkan hal tersebut lantas langsung melotot dengan tajam ke arah Riki seakan berusaha untuk menyuruh Riki untuk diam dan jangan lagi bersuara. Alena yang takut seseorang akan mendengarnya kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riki sambil menarik tangan Riki ke tempat yang lebih sepi dan tentu saja agar tidak ada orang yang mendengarnya.
"Ikut dengan sekarang!" ucap Alena sambil menarik tangan Riki agar mengikuti langkah kakinya.
"Tapi..." ucap Riki hendak menolak ajakan dari Alena barusan namun tarikan tangan Alena yang semakin kencang pada akhirnya membuat Riki hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki Alena membawanya dari sana.
Sementara itu tanpa keduanya sadari dari arah ruangan sebelah terlihat Alex sedang melangkahkan kakinya keluar ketika mendengar suara ribut-ribut dari arah luar. Alex yang ingin mengetahui apa yang tengah terjadi di luar, lantas langsung melangkahkan kakinya semakin ke depan. Namun ketika langkah kaki Alex semakin mendekat ke arah sumber suara ia malah melihat Alena yang bertingkah sangat aneh kepada Riki, Alena nampak menarik tangan Riki dengan gerakan yang terburu-buru setelah Riki tanpa sengaja menyebutnya dengan sebutan Nona barusan. Alex yang sama sekali tidak mengerti akan apa yang terjadi lantas hanya menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arah kepergian keduanya sambil bertanya-tanya, apa sebenarnya terjadi kepada Alena dan juga Riki saat ini?
Sampai kemudian ketika rasa penasaran mulai memenuhi hati Alex, pada akhirnya membuat Alex memutuskan untuk mengikuti langkah kaki keduanya secara perlahan dan tentu saja mengendap-endap agar tidak di ketahui oleh keduanya. Entah mengapa setelah pengakuan Riki yang secara tiba-tiba sampai kemunculan Alena dengan membawa seorang anak kecil di Rumah sakit membuat Alex diliputi rasa curiga akan sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh Alena saat ini.
"Sepertinya memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alena."
Bersambung