
Kediaman Hermawan
"Daddy..." teriak Aksa begitu melihat Riki tengah berdiri menuang air putih di gelasnya.
Mendengar teriakan dari Aksa barusan, lantas membuat Riki langsung berbalik badan sambil memasang senyuman manis di wajahnya. Riki membuka tangannya dengan lebar begitu melihat Aksa kini tengah berlarian menuju ke arahnya.
"Anak Daddy sudah pulang rupanya, bagaimana sekolahnya? Apa kamu suka?" ucap Riki kemudian sambil menggendong tubuh Aksa layaknya seorang bocah kecil.
"Tentu saja dong Daddy, teman-teman Aksa semuanya baik... Aksa senang ke sekolah." ucap Aksa dengan raut wajah yang sumringah, membuat Riki lantas tersenyum begitu melihat raut wajah bahagia yang di tunjukkan oleh Aksa.
Riki terlihat mengelus beberapa kali puncak rambut Aksa saking gemasnya akan tingkah Putranya itu. Hanya saja ketika Riki baru menyadari jika ada sesuatu yang kurang, Riki lantas mengernyit dengan seketika sambil menatap ke arah sekitaran mencoba untuk mencari tahu keberadaan seseorang di sana.
"Aksa dimana Mommy?" tanya Riki kemudian yang baru menyadari tentang Alena yang tak kunjung terlihat juga.
"Mommy ada di luar Dady." jawab Aksa kemudian sambil mengingat-ingat terakhir kali keduanya berpisah.
Mendengar hal tersebut dari Aksa, membuat Riki lantas langsung menurunkan tubuh Aksa secara perlahan ke bawah.
"Aksa masuk ke dalam dulu ya... Ganti baju, cuci tangan dan juga cuci kaki. Daddy mau menghampiri Mommy dulu." ucap Riki kemudian yang lantas di balas Aksa dnegan anggukan kepala.
"Ok Daddy." ucap Aksa kemudian sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah memastikan Aksa pergi ke kamarnya Riki kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah depan untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh Alena hingga detik ini belum terlihat. Sambil melangkahkan kakinya secara perlahan Riki yang melihat punggung Alena di ambang pintu lantas bersiap memanggilnya. Hanya saja sayangnya sebelum Riki sempat memanggil Alena, Alena sudah terlihat berlarian keluar dari sana dan masuk ke dalam mobilnya, membuat Riki yang melihat hal tersebut lantas menjadi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi kepada Alena hingga membuatnya begitu terburu-buru.
"Vi kamu mau kemana? Vi..." teriak Riki namun sayangnya mobil Alena sudah melaju meninggalkan plataran kediaman Hermawan, membuat Riki tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyaksikan kepergian Alena barusan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Nona nampak begitu gelisah?" ucap Riki dalam hati sambil menatap ke arah kepergian mobil Alena yang saat ini sudah tidak lagi terlihat di depan sana.
***
FN Company
Di area parkiran terlihat mobil yang di kendarai oleh Alena baru saja menghentikan laju mobilnya di sana. Dengan langkah kaki yang terburu-buru Alena langsung melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan memasuki area lobi FN Company.
Alena benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Errando yang tiada angin tiada hujan malah mengajukan hak asuh anak ke pengadilan, apakah dia benar-benar sudah gila?
"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis tersebut membuat Alena langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
Alena yang mendengar pertanyaan tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian berbalik badan dan menatap ke arah resepsionis tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan pak Errando sekarang." ucap Alena kemudian dengan nada penuh penekanan.
"Maaf Bu, pak Errando sedang ada pertemuan penting saat ini dan tidak bisa di ganggu, apa sebelumnya Ibu sudah punya janji?" ucap resepsionis tersebut lagi dengan nada yang lebih rendah karena saat ini posisi keduanya yang memang sudah menjadi pusat perhatian beberapa orang yang melewati area lobi.
"Tidak ada, tapi katakan kepadanya jika Alena ingin bertemu dengannya saat ini juga!" ucap Alena kemudian yang lantas membuat bola mata resepsionis tersebut membulat seketika.
"Saya benar-benar minta maaf ya Bu, pak Errando tidak bisa di ganggu saat ini.. Jadi silahkan Ibu kembali lagi nanti." ucap resepsionis tersebut kali ini dengan nada sedikit menggertak sambil mulai mendorong tubuh Alena agar bergerak menyingkir dari area tengah lobi.
Mendapat perlakuan tersebut tentu saja membuat Alena semakin kesal di buatnya, ia bahkan datang kesini hendak melabrak Errando karena bisa-bisanya ia malah menaikkan hak asuh anak ke pengadilan, tapi ketika ia sampai di kantor Errando yang ia dapatkan malah perlakuan seperti ini.
"Mbak kalau ngomong bisa biasa aja gak ya? Saya ke sini benar-benar ada perlu dengan pak Errando jadi hargai sedikit mbak!" ucap Alena dengan nada yang kesal karena sikap resepsionis tersebut sama sekali tak sopan kepadanya.
"Sudahlah Bu, saya sudah berpuluh-puluh kali berhadapan dengan wanita-wanita seperti kalian ini, benar-benar murahan yang bisanya hanya memanfaatkan bos-bos besar saja!" ucap resepsionis tersebut dengan nada yang menyolot.
Bukan tanpa alasan resepsionis itu mengatakan hal tersebut, pasalnya sebelum Alena datang dan meminta bertemu dengan Errando saat ini Laura juga pernah melakukan hal yang sama dan memaksa untuk bertemu dengan Errando saat itu. Membuat resepsionis tersebut lantas tidak pandang bulu ketika melihat perempuan gatel ingin memaksa menemui bosnya.
Mendengar hinaan yang keluar dari mulut resepsionis tersebut tentu saja membuat Alena langsung menatap tajam ke arah resepsionis tersebut. Pikirannya kali ini bahkan sudah kacau dengan datangnya surat dari pengadilan tersebut dan saat ini malah di tambah lagi dengan tingkah aneh resepsionis di perusahaan Errando, bukankah semuanya menjadi lengkap sudah?
"Jaga cara bicara mu itu! Apa atasan kalian tidak mengajari bagaimana cara bersopan santun kepada seorang tamu? Lagi pula apa masalah mu hingga memandang ku seperti itu ha?" ucap Alena dengan nada yang kesal.
Alena bahkan sudah tidak lagi memperdulikan tatapan orang yang berlalu lalang di sekitaran sana. Keduanya kini bahkan sudah menjadi pusat perhatian di lingkungan tersebut namun sama sekali tidak membuat keduanya gencar atau saling mengalah. Alena yang sudah tersulut emosi benar-benar tidak lagi bisa menahannya, pikirannya yang kacau benar-benar tak lagi membuatnya bisa bersikap dengan waras untuk saat ini. Lagi pula mana ada seorang ibu yang tenang jika keluarga dari pihak suaminya menuntut hak asuh anak secara mendadak, bukankah itu namanya sebuah penghinaan baginya?
Disaat rasa kesal dalam diri Alena semakin memuncak, sebuah suara yang tak asing dalam telinga Alena lantas menghentikan perdebatan keduanya yang kini sudah mencapai pada klimaksnya.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung