Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Apa yang kau sembunyikan dariku?


Bruk


"Ah sial! Mengapa harus disaat-saat seperti ini sih?" gerutu Errando dengan nada yang kesal begitu mendengar sebuah benda jatuh mengenai pintu mobilnya.


Errando yang mendengar suara tersebut dengan keras, lantas langsung turun dari mobilnya dengan raut wajah yang masam. Ditatapnya area sekitar mencoba mencari benda apa yang baru saja jatuh dan pandangannya terhenti pada sesosok anak kecil yang sudah jatuh dengan posisi tengkurap di tanah. Membuat Errando lantas mengernyit begitu ia menyadari bahwa yang menabrak mobilnya adalah anak kecil tersebut.


Errando yang tak melihat anak kecil itu bergerak lantas terlihat panik karena mengira anak kecil itu pingsan atau bahkan sudah meninggal. Dengan langkah kaki yang bergegas Errando kemudian menghampiri tubuh anak kecil tersebut berniat untuk membangunkannya. Siapa sangka ternyata anak kecil tersebut malah bangun dengan sendirinya sebelum Errando membangunkannya. Errando yang terkejut karena mendapati anak tersebut tidak menangis, lantas tertegun ketika mendapati wajah anak kecil itu yang terasa begitu familiar baginya. Errando terdiam di tempatnya menatap wajah anak kecil tersebut yang meringis menahan sakit namun tanpa menangis sedikitpun. Hingga suara anak kecil itu yang meminta maaf kepadanya lantas membuyarkan lamunan Errando yang sedari tadi fokus menatap anak kecil tersebut.


"Maafkan saya Om... Ini salah saya karena berlarian tanpa melihat keadaan sekitar." ucap anak kecil tersebut sambil meringis kesakitan.


Mendengar permintaan maaf dari anak kecil tersebut lantas membuat Errando menjadi luluh, Errando kemudian mengambil posisi berjongkok di depan anak kecil tersebut dan menatap luka anak kecil tersebut yang terletak tepat di lututnya karena memang anak kecil itu yang hanya memakai pakaian sebatas lutut dan tidak memakai celana panjang, sehingga membuat lututnya sedikit berdarah karena terjatuh dalam posisi yang tengkurap barusan.


"Siapa nama mu nak? Dan mengapa kamu bisa sendirian di sini? Dimana orang tua mu?" tanya Errando kemudian.


"Aku Aksa Om, tadi aku bermain petak umpet dengan Deddy hingga tanpa sadar sampai ke sini. Aku sungguh tidak tahu jika mobil Om hendak terbuka tadi." ucap Aksa dengan nada yang gugup seakan merasa bersalah karena ia sudah menabrak pintu mobil milik Errando.


Mendengar jawaban dari anak kecil tersebut yang mengaku bernama Aksa, lantas membuat Errando langsung menghela napasnya dengan panjang kemudian mengusap rambut Aksa dengan perlahan.


"Baiklah Aksa, sekarang katakan dimana orang tua mu biar Om yang akan mengantar mu ke sana dan bertanggung jawab atas dirimu." ucap Errando kemudian.


"Jangan Om! Daddy bisa marah nanti, biar Aksa saja yang menghampiri Daddy sendiri lagi pula ini salah Aksa, bukan?" ucap Aksa sambil menolak bantuan dari Errando.


Mendengar perkataan Aksa barusan lagi-lagi membuat Errando tersenyum, diusapnya lagi rambut Aksa beberapa kali kemudian memegang kedua bahu Aksa.


"Daddy mu tidak akan marah, justru jika kamu pulang sendiri Daddy pasti akan memarahi mu ketika melihat luka ini." ucap Errando kemudian yang lantas membuat Aksa terdiam seketika seakan tampak berpikir tentang perkataan Errando barusan.


"Apa itu benar Om?" tanya Aksa kemudian yang lantas di balas Errando dengan anggukan kepala.


***


Sementara itu di bagian tengah taman terlihat Alena dan juga Riki tengah sibuk mencari keberadaan Aksa ke sana kemari. Riki benar-benar merutuki kebodohannya yang malah meladeni Steven dan tidak mengawasi Aksa sama sekali. Riki mengusap rambutnya dengan kasar sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencoba untuk melihat di mana keberadaan Aksa saat ini.


"Aksa kamu dimana?" ucap Riki dalam hati yang mulai frustasi karena tidak bisa menemukan Aksa dimanapun juga.


Riki yang mendapat pertanyaan tersebut perlahan-lahan dengan berat hati mulai menggelengkan kepalanya. Riki sendiri benar-benar menyesal karena lalai dan tidak menjaga Aksa dengan benar. Sedangkan Alena yang melihat raut putus asa dari Riki hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar, Alena bahkan tidak tahu lagi harus mencari Aksa dimana lagi saat ini.


"Aksa dimana kamu nak?" ucap Alena dalam hati sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


Ketika Riki dan juga Alena dilanda kebingungan akan Aksa yang tidak kunjung ketemu juga. Sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara begitu suara tersebut menyapa telinga Riki dan juga Alena barusan.


"Mommy.... Daddy..." teriak Aksa yang lantas membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.


Ada sebuah perasaan terkejut yang bercampur menjadi satu ketika Alena berbalik badan dan mendapati putranya berada di gendongan Errando. Tidak hanya Alena saja bahkan Riki pun ikut terkejut ketika melihat Aksa mendadak muncul bersama dengan Errando. Alena dan Riki nampak terdiam mematung di tempatnya selama beberapa detik seakan tidak percaya akan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Hingga kemudian suara Aksa yang kembali memanggil keduanya lantas membuyarkan segala lamunan Riki dan juga Alena.


Riki yang mendengar Aksa terus menyebutnya Daddy lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Errando dan mengambil Aksa dari gendongannya.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Riki ketika melihat lutut Aksa yang sedikit berdarah, membuat Alena yang sedari tadi hanya terdiam langsung menoleh ke arah Aksa dan melihat apa yang sedang terjadi kepadanya.


"Dia tadi berlari dan menabrak pintu mobil ku, harusnya kalian sebagai orang tua lebih bisa mengawasi putra kalian. Apa kalian hanya sibuk berkencan saja? Sampai-sampai kehilangan putra kalian seperti ini?" ucap Errando kemudian dengan nada yang menyindir.


Mendengar sindiran yang begitu memekakkan telinga, membuat Riki yang tidak terima lantas hendak maju dan menutup mulut Errando yang terlalu licin itu.


"Jangan Rik ada Aksa di sini, sebaiknya kamu ke mobil dan obati Aksa aku akan menyusul sebentar lagi." ucap Alena berusaha untuk menahan Riki agar tidak lepas kendali saat ini mengingat umur Aksa yang masih kecil pasti merekam segala hal yang terjadi di antara orang tuanya.


"Apa kamu yakin?" tanya Riki seakan tidak terlalu percaya bahwa Alena bisa menghadapi Errando.


"Tentu, pergilah" ucap Alena kembali meyakinkan Riki agar pergi terlebih dahulu dan mengobati luka Aksa.


Riki yang mendengar perkataan dari Alena barusan lantas mengangguk dengan perlahan kemudian mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alena menuju ke arah mobil untuk mengobati luka di kaki Aksa. Alena yang melihat kepergian Riki dan juga Aksa lantas menghela napasnya dengan panjang, sampai kemudian sebuah tarikan tangan lantas membuat Alena terkejut seketika disaat mengetahui hal tersebut.


"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di belakangku Al?" ucap Errando kemudian.


Bersambung