
Tengah malam
Silvi yang terbangun dari tidurnya karena rasa haus yang melanda, lantas mulai bangkit dari tidurnya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur. Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Silvi mulai menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan menuju ke arah dapur sambil sesekali menguap karena rasa kantuk yang belum juga hilang walau ia sudah berjalan sejauh ini.
Diambilnya teko kaca yang berisi air putih kemudian ia tuang ke dalam botol miliknya. Setelah menunggu beberapa detik hingga botol tersebut terisi penuh, Silvi kemudian menaruh teko kaca tersebut kembali pada tempatnya. Helaan nafas terdengar dari mulut wanita paruh baya itu, entah mengapa Silvi masih merasa tidak tenang sekaligus curiga akan kehidupan rumah tangga putranya yang baru berjalan beberapa hari ini.
Interaksi antara Alena dan juga Errando tadi pagi hingga saat ini, benar-benar terasa aneh bagi Silvi seakan ada yang keduanya tutupi namun Silvi sendiri tidak tahu apa itu. Pikiran Silvi melayang jauh memikirkan segala kemungkinan yang terjadi namun sayangnya Silvi sama sekali tidak menemukan alasan yang pas untuk mendasari tingkah keduanya.
"Tidak mungkin mereka berdua menikah karena terpaksa bukan? Tapi... aku rasa tidak, mengingat keduanya sudah berpacaran cukup lama? Lalu apa yang membuat keduanya begitu canggung? Mengapa aku masih merasa ada yang salah?" ucap Silvi pada diri sendiri mencoba menerka apa yang telah terjadi pada Alena dan juga Errando, hanya saja semakin dipikirkan entah mengapa Silvi semakin tidak bisa menemukan sesuatu untuk menjawab pertanyaannya.
Dengan pikiran yang masih melayang memikirkan tentang hubungan rumah tangga putranya, Silvi yang melangkahkan kakinya melewati kamar utama lantas terlihat menghentikan langkah kakinya begitu rasa penasaran mendadak terlintas di benaknya.
"Mengintip sedikit tidak apa bukan? lagian Errando dan juga Alena adalah putra putri ku juga." ucap Silvi dengan nada yang lirih sambil mengambil langkah mundur dan berhenti tepat di depan pintu kamar utama.
Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajahnya ketika Silvi menatap ke arah pintu kamar utama yang terlihat tertutup itu, dengan langkah kaki yang mengendap-endap Silvi mulai membuka pintu kamar utama bermaksud untuk mengecek keduanya syukur syukur jika Silvi bisa melihat proses pembuatan benih Valentino, hanya saja sepertinya pemikiran itu agak berlebihan dan tentu saja tidak akan pernah terjadi.
**
Suasana di dalam kamar utama yang begitu gelap membuat Silvi tersenyum dengan geli ketika membayangkan yang tidak tidak di kepalanya. Hingga ketika langkah kakinya sampai pada ranjang dengan ukuran king size di mana Alena dan juga Errando kini tengah tertidur dengan pulasnya, membuat seulas senyum lagi-lagi lantas terlihat dari wajah Silvi ketika ia kini melihat Errando dan juga Alena tengah tidur sambil berpelukan di bawah selimut tebal yang membalut tubuh keduanya.
Melihat posisi tidur keduanya yang sangat romantis itu, membuat Silvi tak henti hentinya tersenyum bahkan sesekali tertawa dengan geli ketika pikirannya berkelana kemana-mana dan membayangkan sesuatu hal yang berbau adegan dewasa.
"Sudah ku duga hanya perasaan ku saja yang berlebihan, sebaiknya aku jangan mengganggu mereka lagi..." ucap Silvi pada diri sendiri dengan nada yang berbisik sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama dengan senyum yang merekah.
Bruk...
Sebuah suara pintu yang tertutup membuat kelopak mata milik Errando langsung terbuka dengan seketika. Di intipnya ke arah pintu utama secara sekilas kemudian menghela nafasnya dengan lega ketika Errando tidak lagi melihat ada tanda tanda Silvi masuk ke dalam kamarnya kembali.
Errando bahkan tidak menyangka bahwa Silvi akan benar benar masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keduanya ketika tengah tidur. Beruntung sekali Errando tadi mendengar suara langkah kaki seseorang di depan kamarnya setelah ia menyelesaikan panggilan alamnya tadi, jika saja tadi Errando tidak mengetahuinya mungkin hanya karena gaya tidur mereka berdua yang terlalu formal, akan memancing omelan Ibunya dan juga pikiran yang tidak-tidak.
Sedangkan Alena yang memang dalam posisi tengah tertidur dengan pulasnya, lantas terlihat bergerak dan mencari posisi terenak dengan bergeser semakin masuk ke dalam dada bidang milik Errando sambil menggerakkan kakinya, membuat junior miliknya sedikit terusik akan tingkah Alena barusan.
"Ah sial!" ucap Errando dengan nada yang tertahan.
Errando yang tadinya hendak memarahi Alena karena gerakannya barusan, lantas tidak jadi ketika Errando malah di sajikan pemandangan wajah cantik alami milik Alena yang kini sudah berstatus menjadi istri sahnya itu. Errando terdiam sejenak menatapi postur wajah istrinya, dimana bulu mata yang lentik, hidung kecil nan mancung dan juga bibir berwarna peach alami seakan membawa daya tarik tersendiri bagi Errando ketika ia semakin menatap wajah Alena dalam dalam.
"Seandainya saja kakak mu tidak melakukan sesuatu hal yang menyakiti kakak ku, mungkin kita adalah pasangan yang paling..." ucap Errando namun terhenti ketika Alena tiba tiba saja membuka kelopak matanya dan membuat Errando kaget.
Errando yang terkejut akan Alena yang tiba tiba saja membuka kelopak matanya, lantas dengan spontan menepuk pipi Alena cukup keras sambil menghempaskan tubuh Alena begitu saja, membuat Alena yang tidak tahu apa-apa langsung dibuat meringis kesakitan sambil memegang area pipinya yang baru saja mendapat hadiah tamparan dari Errando tanpa ia minta.
"Aw sakit! Apa yang kamu lakukan sih? Apa kamu sudah gila ha?" pekik Alena sambil bangkit dari posisinya dan langsung menatap tajam ke arah Errando di tengah gelapnya suasana kamar saat itu.
Sedangkan Errando yang mendapat pertanyaan tersebut mendadak diam karena bingung hendak memberikan alasan apa untuk tingkahnya yang tiba-tiba menampar Alena tanpa sengaja tadi.
"Tadi... ada nyamuk besar di pipi mu, karena takut akan menyerap habis darah mu maka aku menepuknya untuk mu, bukankah aku sangar baik padamu?" ucap Errando mencoba mencari alasan atas kelakuannya.
Mendengar jawaban Errando yang terdengar aneh namun juga masuk akal, membuat Alena hanya bisa mendengus dengan kesal sambil mengusap pipinya yang masih terasa perih itu.
"Nyamuk palamu peang! benar-benar kelewatan kamu ya By... sakit tahu?" ucap Alena dengan kesal kemudian merebahkan tubuhnya begitu saja namun kali ini dengan posisi yang membelakangi Errando.
Sedangkan Errando yang melihat tingkah Alena barusan yang mengambil posisi memunggunginya, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terus menatap ke arah punggung Alena.
"Sepertinya aku memukulnya terlalu keras tadi." ucap Errando sambil menghela nafasnya dengan panjang.
Bersambung