
Lorong Rumah sakit
Setelah kejadian tidak mengenakan yang didapatkan oleh Alena di Supermarket karena harus bertemu dengan Errando sekaligus mendapat caci maki dari pria itu. Membuat Alena memutuskan untuk segera bergegas kembali ke Rumah sakit untuk mengecek keadaan Hermawan. Dengan langkah kaki yang perlahan sambil menggendong Aksa di pangkuannya, Alena terlihat melangkahkan kakinya dengan pandangan yang sendu ke arah depan. Bagaimanapun juga Errando tetaplah seseorang yang pernah mengisi hatinya dan sampai kapanpun akan selalu seperti itu. Mendapat perkataan yang kurang enak dari Errando tentu saja langsung membuat hatinya hancur dan merasa sedikit sakit walau sebenarnya ini bukanlah murni kesalahan dari Errando seorang.
Alena menghentikan langkah kakinya di depan ruang perawatan Hermawan, sambil menarik napasnya selama beberapa kali seakan tengah bersiap untuk menenangkan hatinya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Hermawan. Alena yang tidak ingin membuat orang tuanya khawatir lantas mencoba untuk sebisa mungkin memasang senyuman.
Dengan gerakan yang perlahan Alena mulai memutar handel pintu ruang perawatan tersebut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ketika Alena masuk ke dalam, suasana ruangan tersebut mendadak hening seketika dengan posisi semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menatap ke arahnya dengan tatapan yang intens, sedangkan posisi Riki ketika Alena masuk ke dalam ruangan tersebut. Riki terlihat sudah dalam posisi berlutut di samping ranjang pasien, membuat Alena yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut bukan main dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Riki berada saat ini.
"Bagus sekali kamu, baru datang setelah lima tahun menghilang. Apa kamu sudah tidak menganggap kami sebagai orang tua mu?" ucap Hermawan dengan nada yang datar.
"Pa sudahlah yang terpenting sekarang Alena masih hidup, bukankah Papa juga menginginkan hal tersebut terjadi?" ucap Tika mencoba untuk menenangkan suasana yang terasa sedikit menegang saat ini.
Alena yang mendengar perkataan Ayah dan Ibunya sama sekali tidak menggubris keduanya, yang Alena lakukan hanyalah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riki dan membantu Riki agar bangkit dari posisinya. Sedangkan Aksa yang semula tertidur mendengar beberapa keributan dan juga posisi tubuhnya yang sedikit hampir melorot karena Alena yang sedang membantu Riki untuk bangkit berdiri, lantas terlihat mengerjapkan matanya sambil menatap ke arah sekitar.
"Mommy... Daddy... Apa yang terjadi?" tanya Aksa dengan gaya polos khas anak-anak sambil berusaha turun dari gendongan Alena saat ini.
Mendengar anak kecil yang di gendongan Alena memanggil Alena dengan sebutan Mommy sedangkan memanggil Riki dengan sebutan Deddy, lantas membuat Hermawan, Tika dan juga Alex yang sedang berada di sana menatap dengan bingung ke arah anak kecil tersebut. Suasana di ruangan tersebut semakin menjadi hening dan terasa aneh, tak ada satupun orang yang berbicara kepadanya ataupun orang yang menanyakan sesuatu di ruangan tersebut. Hingga kemudian Aksa kecil terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Hermawan berada dan berhenti tepat di sampingnya.
"Apa ini Opa Aksa Mommy?" tanya Aksa dengan nada yang polos sambil menyentuh tangan Hermawan dengan jari-jari tangannya yang mungil.
Alena yang mendapat pertanyaan tersebut dari Aksa tentu saja bingung harus menjawab apa pertanyaan itu, jika Alena mengatakan ia maka Hermawan akan semakin marah karena Alena tidak memberitahunya bahwa Alena sudah mempunyai seorang Putra. Namun jika Alena tidak menjawabnya pasti Aksa akan terus bertanya dan menunggu jawaban dari Alena, membuat Alena semakin bimbang hendak beraksi seperti apa ketika mendengar perkataan Aksa tentang Hermawan. Sementara itu Alex yang juga tengah berada di sana, begitu mendengar pertanyaan dari Aksa barusan membuat Alex yang tahu Ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Lantas hendak berusaha untuk menjauhkan Aksa dari Hermawan, namun langkah kakinya terhenti ketika tangan Tika tiba-tiba menariknya agar tidak pergi dari sisinya dan membiarkan segalanya terjadi.
"Ma..." panggil Alex dengan nada yang lirih.
Alena yang tak kunjung mendengar reaksi apapun dari Hermawan kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Hermawan dan juga Aksa. Dipegangnya tangan Aksa secara perlahan membuat Aksa dengan spontan menoleh ke arah sumber suara begitu tangan Alena menyentuhnya.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini yuk, Aksa pasti lapas bukan? Kita makan yuk..." ucap Alena dengan nada yang lirih.
Aksa yang mendengar perkataan Alena barusan tentu saja langsung cemberut, namun Aksa tidak berani untuk menolak ajakan dari Alena barusan sehingga ia hanya bisa mengikuti arah tarikan Alena yang saat ini membawanya menjauh dari Hermawan. Melihat hal tersebut Tika yang tidak ingin melihat Alena kembali pergi setelah bertahun-tahun ia baru kembali bertemu Alena, lantas langsung menatap tajam ke arah Hermawan seakan mengisyaratkan kepada Hermawan agar sedikit menurunkan egonya dan tidak lagi membawa penyesalan di kemudian harinya.
Riki yang tahu apa yang diharapkan oleh Alena bukanlah seperti ini, lantas langsung berusaha mencegah langkah kaki Alena dengan menggenggam lengan Alena dengan erat yang tentu saja langsung menghentikan langkah kaki Alena dengan seketika.
"Jangan pergi dulu nona, aku bahkan belum menjelaskan segalanya tentang pernikahan kita." ucap Riki namun dengan nada yang lirih dan hanya bisa di dengar oleh keduanya saja.
Mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja membuat Alena langsung mendongak menatap ke arah Riki seakan mengatakan bahwa ia tidak setuju akan perkataan dari Riki barusan namun lewat tatapan mata, membuat Riki langsung terdiam seketika disaat mendapat tatapan tersebut dari Alena.
"Maaf jika kedatangan kami bertiga mengganggu waktu keluarga kalian, kami permisi..." ucap Alena kemudian sambil mengarahkan tangan Aksa agar mulai melangkahkan kakinya dan tidak lagi melihat ke arah belakang.
Alex yang melihat situasi kian tidak kondusif lantas melangkahkan kakinya ke arah Alena dan berusaha menghentikan langkah kakinya. Walau Alex tahu bahwa kondisi kesehatan Hermawan saat ini sedang tidak fit tapi Alena juga anggita keluarga di sini, sungguh tidak baik jika Alena malah terusir ketika ia tengah berada di dalam keluarganya sendiri.
"Ayolah Pa... Aku bahkan tahu dengan betul bahwa Papa terus saja menangisi Alena setiap malamnya. Namun setelah Alena kembali kepada kita, apa Papa tega mengusirnya begitu saja hanya karena hal kecil ini? Semua bisa dibicarakan Pa... Hanya saja waktu sama sekali tidak bisa di putar kembali." ucap Alex kemudian dengan nada yang penuh penekanan.
Bersambung