
Kediaman keluarga Valentino
Di area balkon kamarnya terlihat Arga tengah menatap ke arah langit malam sambil termenung memikirkan segala hal yang baru saja ia terima dari Farhan. Sebuah kabar yang tentu saja membuat Arga terkejut ketika mendengarnya, meski Arga belum melihat sepenuhnya seperti apa wajah asli putra yang dibicarakan oleh Farhan namun jika melihat dari fotonya saja tidak hanya hidung, mata bahkan garis wajah anak itu begitu mirip dengan Errando. Bagaimana bisa sebuah kebetulan yang terlalu mirip ini ada di dunia? Tentu saja tidak bukan?
Arga yang tahu ada sesuatu yang terjadi ketika perceraian Errando dan juga Alena kala itu membuat Arga lantas menjadi begitu penasaran. Sampai kemudian sebuah rasa yang menusuk terasa begitu menembus dadanya, lantas membuat Arga meringis dengan seketika. Sudah beberapa hari belakangan ini Arga merasakan seperti ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, namun sebisa mungkin Arga mencoba untuk menutupinya agar tidak terlalu membuat khawatir orang-orang.
"Mungkin asam lambungku tengah naik belakangan ini." ucap Arga sambil mengusap area dadanya dengan perlahan seakan mencoba untuk meredakan perasaan nyeri di area dadanya.
Disaat perasaan tidak enak menjalar memenuhi area dadanya, sebuah tangan nan lembut terasa melingkar di area perut Arga dan membuat kehangatan di sana. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Arga ketika menyadari bahwa pemilik tangan itu adalah Silvi istri tercintanya.
"Apa yang sedang Papa lakukan di sini? Angin malam tidak baik bagi kesehatan Pa, kita masuk ke dalam yuk..." ajak Silvi kemudian sambil bersandar manja pada punggung milik Arga.
Mendengar nasihat dari istrinya membuat Arga lantas tersenyum dengan seketika, ditariknya tangan milik Silvi secara perlahan dan membawanya berpindah posisi menjadi di depan. Sambil memberikan kehangatan kepada Silvi dengan sebuah pelukan, Arga mengajak Silvi melihat indahnya suasana langit malam itu.
"Menurut Mama... Apa pendapat Mama tentang seorang cucu laki-laki?"ucap Arga kemudian yang tentu saja membuat Silvi terkejut seketika dengan pertanyaan tersebut.
Silvi yang mendengar perkataan dari Arga barusan lantas langsung melepas pelukan Arga dan menatapnya dengan tatapan yang bertanya sekaligus penasaran akan maksud dari perkataan tersebut.
"Papa jangan bercanda! Errando bahkan belum menikah, bagaimana bisa kita mendapat seorang cucu? Yang benar saja deh Pa..." ucap Silvi dengan raut wajah yang kesal karena merasa telah di bohongi oleh Arga.
Sedangkan Arga yang melihat raut wajah kesal istrinya, lantas tersenyum yang malah membuat Silvi memasang wajah yang cemberut karenanya.
"Bisa, Alena sudah pulang Ma dengan membawa seorang putra yang sama persis dengan Errando, bukankah Mama juga berpikir ini aneh?" ucap Arga yang lantas membuat Silvi semakin terkejut ketika mendengarnya.
Ini bukanlah masalah Alena yang pulang dengan membawa seorang putra, hanya saja kabar tentang Alena yang berada dalam daftar penumpang kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu cukup menggemparkan seluruh anggota keluarga dan membuat luka tersendiri saat itu, bagaimana bisa Arga malah mengatakan bahwa Alena telah pulang bersama dengan seorang putra?
"Papa ini benar-benar tidak lucu! Tidak baik membicarakan seseorang yang telah tiada Pa..." ucap Silvi kemudian sambil mendorong sedikit tubuh suaminya kemudian berlalu pergi dari sana hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar meninggalkan suaminya yang sedari tadi bicara ngelantur.
Melihat kepergian istrinya membuat Arga lantas tersenyum dan menatap punggung istrinya dengan intens.
"Alena belum meninggal Ma, waktu itu hanyalah sebuah kamuflase karena Alena sama sekali tidak menaiki pesawat tersebut dan bersembunyi di suatu tempat. Bukankah menurut Mama ini aneh? Untuk apa Alena bersembunyi?" ucap Arga lagi yang lantas membuat langkah kaki Silvi terhenti dengan seketika begitu mendengarnya.
Antara percaya dan tidak percaya, Silvi yang mendengar perkataan dari Arga barusan langsung terdiam seketika sambil menatap ke arah Arga dengan tatapan yang menelisik seakan tengah mencari kebenaran di mata pria itu.
"Apa itu benar Pa?" ucap Silvi kemudian yang lantas di balas Arga dengan anggukan kepala, membuat Silvi langsung tersenyum seketika disaat mendengar kabar baik tersebut.
***
Alena yang baru saja terbangun dari tidurnya lantas terlihat melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur. Sambil menggaruk rambutnya khas orang bangun tidur Alena nampak terus melangkahkan kakinya sambil sesekali menguap.
Ketika langkah kakinya sampai di dapur di sana sudah terlihat Tika yang tengah sibuk membuat olahan desert. Melihat Alena yang begitu sibuk lantas membuat Alena menatapnya dengan tatapan yang mengernyit.
"Tumben pagi-pagi begini sudah sibuk Ma?" ucap Alena sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Tika berada.
"Kamu baru bangun? Dasar!" ucap Tika sambil menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara Alena saat itu.
"Ayolah Ma.." ucap Alena dengan raut wajah yang cemberut membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Tika.
"Mama tengah membuat puding untuk Aksa, apa ia sudah bangun?" tanya Tika kemudian yang lantas di balas Alena dengan gelengan kepala.
Melihat jawaban dari Alen barusan lantas membuat Tika kembali tersenyum, membuat Alena yang melihat senyuman tersebut lantas mendadak terdiam seketika. Pikiran Alena kemudian melayang jauh memikirkan segala hal tentang Riki. Ditatapnya sekilas Tika yang saat ini tengah gembira menyiapkan sebuah olahan puding untuk Aksa, membuat rasa bersalah dalam diri Alena kian membumbung tinggi ketika melihat Tika saat ini.
"Ma..." panggil Alena kemudian dengan ragu yang lantas membuat Tika langsung menghentikan gerakan tangannya begitu mendengar panggilan tersebut dari Alena.
"Ada apa?" tanya Tika kemudian.
"Bagaimana pendapat Mama tentang sebuah perceraian?" ucap Alena dengan nada yang lirih namun berhasil membuat Tika terkejut ketika mendengarnya keluar langsung dari mulut Alena.
***
Sementara itu di sebuah perusahaan, Riki yang bahagia karena berhasil memenangkan tender tersebut lantas terlihat memasang raut wajah yang bahagia sambil terus melangkahkan kakinya memasuki area kamar mandi.
Riki benar-benar sangat bahagia dan juga bangga seakan merasa bahwa semua kerja kerasnya kali ini tidaklah sia-sia, meski harus jatuh bangun dan terus bekerja lembur namun Riki berhasil mencapai segalanya dan memenangkan tender itu mengalahkan beberapa perusahaan besar yang juga ikut dalam tender ini.
Riki menghentikan langkah kakinya sejenak di depan cermin wastafel kemudian membasuh mukanya. Riki bahkan sudah tidak sabar hendak memberitahu Alena tentang kabar baik ini.
"Apa kau bahagia sekarang? Bagaimana rasanya? Apakah menyenangkan?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Riki terkejut ketika mendengarnya.
Riki yang mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung berbalik badan dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kau..."
Bersambung