Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Mencari Alena


Disaat Errando tengah sibuk memikirkan apa yang terjadi. Pandangan matanya lantas tertuju pada seorang wanita yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada.


"Alena!" pekik Errando yang terkejut ketika melihat Alena yang saat ini sedang tergeletak sambil menutup matanya.


Errando yang melihat Alena terkapar tak lagi memikirkan tentang dirinya kemudian mencoba untuk bangkit dengan beberapa luka yang saat ini terlihat di sekujur tubuhnya. Dengan langkah kaki yang tertatih Errando terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada dan langsung memangku kepala Alena di pahanya.


"Al... Bangun Al... Al jangan tinggalkan aku..." teriak Errando sambil mengguncangkan tubuh Alena beberapa kali seakan mencoba untuk membangunkan Alena.


Errando yang melihat keadaan Alena dengan berbagai noda darah yang mengering di beberapa bagian tubuhnya dan juga luka yang lainnya, lantas terlihat menatap ke arah Alena dengan tatapan yang sendu. Errando bahkan saat ini sudah memikirkan yang tidak-tidak tentang Alena, membuat air matanya tanpa sadar langsung jatuh begitu saja dan mengenai pipi Alena.


Alena yang memang dalam posisi tertidur karena merasakan kepalanya yang pusing, begitu mendengar suara berisik dan juga isakan Errando lantas mulai menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Aku masih hidup lah Er... Jangan bercanda kepala ku sedang pusing sekali saat ini!" ucap sebuah suara yang berasal dari Alena namun dengan mata yang terpejam membuat Errando yang mendengar hal tersebut lantas langsung terkejut dengan seketika.


"Kamu masih hidup? Sungguh Al? Apa kamu benar-benar Alena?" ucap Errando yang tidak percaya begitu saja meski ia mendengarnya sendiri barusan.


Mendengar pertanyaan nyeleneh dari Errando barusan tentu saja lantas langsung membuat Alena dengan spontan membuka kelopak matanya dengan kesal. Membuat Errando yang melihat kelopak mata Alena mulai terbuka lantas tersenyum dengan ceria.


"Apa kau sudah puas sekarang?" ucap Alena kemudian dengan nada yang ketus namun berhasil membuat Errando mengangguk ketika mendapat pertanyaan tersebut.


Melihat reaksi yang diberikan oleh Errando barusan lantas membuat Alena bangkit dari pangkuan Errando. Ditatapnya Errando dengan tatapan yang menelisik begitupun juga sebaliknya. Membuat keheningan lantas mendadak terjadi diantara keduanya dimana hanya dengan tatapan mata semuanya bisa terlihat dimata mereka masing-masing.


"Syukurlah jika kamu baik-baik saja aku kira kamu tadi..." ucap Errando namun terpotong oleh Alena.


"Mati? Enak saja, aku tidak akan mati secepat itu kali! Lagi pula Aksa di rumah pasti sudah mencari ku sedari pagi." ucap Alena dengan nada yang ketus.


"Iya ya ya Mama muda, aku tahu kamu seorang Ibu tapi bisa tidak kamu melihat ke arah ku sebentar saja? Ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu dan hal itulah yang mendasari ku menculik dirimu kemarin." ucap Errando kemudian mulai menjelaskan alasannya.


Alena yang mendengar perkataan Errando barusan bukannya menanggapinya malah terlihat menatap ke arah sekeliling seakan mencoba mencari pertolongan ataupun jalan keluar dari tempat ini. Alena yang tak melihat adanya celah pada hutan ini lantas terlihat bangkit secara perlahan dari posisinya, membuat Errando yang tak mendapat jawaban apapun dari Alena barusan dan malah mendapati Alena bangkit dari posisinya, lantas ikut bangkit sambil menatap ke arah Alena dengan tatapan yang menelisik.


"Apa kamu mendengar ku Al?" tanya Errando sedari tadi namun kali dibalas Alena dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Kita harus keluar dari sini Er, jika kita terus-terusan disini maka kita akan mati karena dehidrasi atau bahkan karena luka kita yang semakin parah!" ucap Alena yang lantas membuat bola mata Errando membulat dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Alena barusan.


"Kamu yang benar saja Al? Mana ada yang seperti itu!" ucap Errando kemudian dengan nada yang kesal.


Errando yang melihat kepergian alena barusan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian ikut melangkahkan kakinya dan menyusul langkah kaki Alena yang sudah lebih dahulu di depan meninggalkannya.


"Tunggu aku Al!" pekik Errando kemudian sambil mencoba untuk mengejar langkah kaki Alena di depannya.


***


Sementara itu setelah semalaman mengikuti arah kepergian mobil milik Errando yang melintasi area sekitaran jalan tol, mau tidak mau harus membuat Alex dan juga Riki meretas terlebih dahulu beberapa rekaman kamera pengawas di sepanjang jalan yang di lewati oleh Alena dan juga Errando. Mereka berdua tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu, karena jika mereka sampai meminta bantuan kepada aparat dan berita ini bocor ke media, sudah bisa di pastikan keesokan harinya akan menjadi berita terpanas pekan ini.


Riki dan juga Alex yang sudah menemukan titik terakhir dimana mobil milik Errando terlihat lantas mulai melajukan mobilnya menuju ke arah jalan tol. Suasana di dalam mobil begitu hening dan juga tegang, baik Riki maupun Alex tak ada satupun dari mereka yang terdengar mengeluarkan suara sama sekali.


"Semoga kamu baik-baik saja Al..." ucap Riki dalam hati sambil fokus mengemudi menuju ke titik terakhir mobil milik Errando terlihat berada di jalan tol.


Disaat suasana hening memenuhi seluruh mobil, sebuah suara deringan ponsel lantas terdengar menggema memenuhi mobil, membuat Alex yang mendengar suara ponsel tersebut lantas melirik ke arah Riki yang masih fokus menatap ke arah jalanan sekitar.


"Ponsel mu berbunyi!" ucap Alex kemudian ketika melihat Riki yang seakan mengabaikan panggilan telpon tersebut.


"Bukan milik saya tuan, sepertinya milik anda." ucap Riki dengan nada yang datar.


Mendengar perkataan Riki barusan membuat Alex langsung mengernyit dengan seketika. Alex yang tidak yakin jika suara ponsel tersebut berasal dari ponsel miliknya lantas mulai merogoh saku celananya untuk melihat apakah deringan ponsel tersebut berasal dari miliknya atau bukan.


"Ponsel ku tidak berdering, itu milik mu." ucap Alex kemudian yang baru saja memastikan bahwa suara deringan ponsel tersebut bukanlah miliknya.


"Benarkah tuan?" ucap Riki dengan raut wajah yang penasaran seakan bertanya kembali kepada Alex, membuat Alex yang melihat reaksi Riki seperti lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Tepi kan mobilnya sekarang juga Rik..." perintah Alex kemudian.


"Tapi tuan jika saya berhenti nanti kita akan..." ucap Riki hendak menolak namun urung karena terlebih dahulu di potong oleh Alex.


"Tepi kan sekarang juga!" ucap Alex lagi yang membuat Riki mau tidak mau lantas langsung menepikan mobilnya sekarang juga.


Bersambung