
Setelah Alena dipaksa untuk mengabulkan keinginan Errando untuk membawa Aksa bersamanya. Pada akhirnya membuat Alena berakhir dengan duduk di mobil Errando bersama dengan Aksa saat ini. Entah kemana Errando akan membawanya pergi yang jelas Alena tetap merasa bahwa Errando hanya sedang mempermainkannya saat ini.
"Mommy kita mau pergi kemana?" tanya Aksa dengan tatapan yang bingung membuat Errando langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar pertanyaan dari Aksa barusan.
"Kita akan bertemu dengan Opa!" jawab Errando yang lantas membuat manik mata Alena langsung membulat dengan seketika.
"Opa? Opa Aksa ada di rumah, lalu ini Opa siapa?" tanya Aksa dengan nada yang polos.
"Ini adalah orang tuanya Papa, Papa..." ucap Errando hendak kembali menjelaskan namun keburu di potong oleh Alena.
"Berhenti membuat sesuatu yang membingungkan bagi Aksa, sebaiknya kita bahas hal itu nanti saja." ucap Alena dengan nada yang dingin membuat Errando langsung terdiam seketika.
Suasana di dalam mobil yang di kemudikan oleh Errando saat itu terasa begitu aneh dan canggung. Jika di lihat dari gestur tubuhnya, sepertinya Alena saat ini benar-benar marah kepada Errando. Hanya saja perlahan-lahan raut wajah Alena terlihat mulai berubah ketika mobil yang dikendarai oleh Errando memasuki area pelataran Rumah sakit, membuat hati Alena merasa tercubit dengan seketika.
"Mungkinkah Errando tidak sedang berbohong saat ini? Apa yang sudah aku lakukan?" ucap Alena dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar seakan memastikan bahwa Errando benar-benar berhenti di area Rumah sakit.
"Kalian pergilah dulu ke ruang ICU, Mama di sana sudah menunggu kalian berdua. Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum ke ruang ICU." ucap Errando sambil mulai melepas sabuk pengamannya.
Alena yang mendengar perkataan Errando barusan hanya terdiam tak berani menjawab, sepertinya ia sudah keterlaluan kepada Errando tadi membuat perasaan bersalah kian menyelimuti hatinya saat ini. Ditatapnya raut wajah sendu milik Errando yang saat ini terlihat mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil.
"Apa kita tidak turun Mommy?" ucap Aksa kemudian karena sedari tadi ia hanya melihat Alena terbengong menatapi ke arah Errando.
"Oh iya, kita turun sekarang." ucap Alena yang langsung tersadar dari lamunannya begitu mendengar perkataan dari Aksa barusan.
Alena dan juga Aksa kemudian mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil dan bergerak hendak menuju ke ruang ICU seperti yang diperintahkan oleh Errando tadi.
"Mommy.. Om itu mau kemana? Mengapa tujuan kita berbeda?" tanya Aksa dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat Errando malah mengambil jalur yang berbeda.
"Om itu ada kepentingan mendadak jadi harus pergi dulu sebentar, nanti jika sudah selesai dia akan menyusul kita berdua." ucap Alena menjelaskan keingintahuan Aksa tentang Errando, yang lantas di balas anggukan kepala oleh Aksa saat itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Alena kemudian lantas menuntun Aksa melewati lorong Rumah sakit menuju ke ruang ICU di mana Arga di rawat saat ini. Meski Aksa tidak terlalu tahu akan urusan apa yang di maksud oleh Alena, tapi Aksa hanya bisa menganggukkan kepalanya saja sambil sesekali melirik ke arah kepergian Errando. Aksa memanglah masih anak-anak namun ketika melihat raut wajah Alena yang tak nyaman ketika berada di dekat Errando tentu saja ia bisa merasakannya.
"Siapa sebenarnya Om itu? Apakah dia adalah Papa ku? Lalu Daddy siapa?" ucap Aksa dalam hati bertanya-tanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Setelah kepergian Alena dari sana, suasana di kediaman Hermawan langsung mendadak berubah menjadi tegang. Raut wajah Hermawan benar-benar tidak bisa di kontrol sama sekali, ia bahkan sudah bersikap sebaik mungkin sebagai seorang Ayah ketika mengetahui tentang pernikahan anaknya yang secara diam-diam. Namun ternyata semua itu hanyalah tipu muslihat ketiganya saja, lagi dan lagi Hermawan harus kembali menelan pil pahit tentang kehidupan Putrinya yang hancur berantakan itu. Tidak hanya pernikahan pertamanya bahkan pernikahan keduanya pun tetaplah sama, membuat Hermawan tidak lagi bisa menahan amarahnya.
Riki tertunduk di tempatnya saat itu, ia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika semuanya malah terbongkar secara tiba-tiba seperti ini.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang Nona?" ucap Riki dalam hati mencoba untuk mencari pencerahan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.
"Kau berhutang penjelasan kepada ku Rik!" pekik Hermawan yang langsung membuat kepala Riki mendongak dengan seketika.
Alex yang mendengar nada bicara Hermawan yang meninggi tentu saja tahu dengan jelas jika Papanya tengah marah saat ini. Hanya saja jika Riki mulai membuka mulutnya saat ini, bukankah semua masalahnya juga akan ikut terbongkar? Mengingat ia adalah inti dari persoalan ini terjadi dan kian menjadi rumit.
"Sebaiknya kita bicarakan ini nanti saja Pa, situasinya tidak memungkinkan saat ini." ucap Alex mencoba untuk mencegah segalanya agar tidak semakin runyam.
"Kau diam lah saja Lex, biarkan Riki menceritakan semuanya!" ucap Hermawan dengan nada yang begitu dingin seakan tidak ingin dibantah sama sekali.
"Tapi Pa..." ucap Alex hendak kembali membantah namun terpotong ketika mendengar suara Tika barusan.
"Sudahlah Lex biarkan Riki menceritakan segalanya, lagi pula Mama juga ingin mendengarnya." ucap Tika yang juga ikut penasaran akan apa yang terjadi sebenarnya kepada Alena, Errando dan juga Riki waktu itu.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dengan kasar dari mulut Riki. Kali ini sepertinya Riki harus benar-benar menceritakan segalanya, tidak ada waktu lagi untuknya bisa kembali bersama dengan Aksa maupun Alena. Riki yakin setelah semuanya terbongkar ia pasti sudah harus rela melepaskan keduanya karena sejatinya baik Alena, Aksa, kedudukan serta arti dari sebuah keluarga yang di berikan oleh keluarga besar Hermawan memang bukan milik Riki sepenuhnya.
"Sebelumnya saya mau minta maaf kepada kalian karena telah berbohong selama ini, saya benar-benar tidak berniat untuk melakukannya. Hanya saja situasi dan kondisinya mengharuskan saya untuk ikut masuk ke dalamnya." ucap Riki dengan nada yang terlihat penuh penyesalan.
Mendengar perkataan Riki barusan, tentu saja langsung membuat Hermawan dan juga Tika saling pandang antara satu sama lain, sedangkan Alex yang mendengar permintaan dari Riki barusan langsung lesu sambil menghela napasnya dengan panjang. Alex yakin semuanya pasti akan terbongkar sebentar lagi.
"Apakah semuanya akan terbongkar hari ini? Bagaimana jika Papa marah dengan segala hal yang tanpa sengaja aku lakukan?" ucap Alex dalam hati seakan tak sanggup jika sampai segala halnya terbongkar detik ini juga.
"Memangnya apa yang telah terjadi kepada kalian?" ucap Tika kemudian kembali bertanya karena Riki menjeda ucapannya membuat ia dan juga Hermawan menjadi penasaran akan apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Sebenarnya...."
Bersambung