Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Aku ingin mengakhirinya


Di dalam mobil yang di kendarai oleh Riki


Suasana yang terjadi di dalam mobil begitu hening dan tanpa suara apapun, Alena yang terkejut akan Riki yang tadi tiba-tiba membentaknya seperti itu membuat Alena terkejut dan tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Di tengah keheningan yang terjadi Alena terlihat menatap ke arah kaca jendela mobil dengan tatapan yang melayang membayangkan apa yang saat ini terjadi dengan Errando, Alena yakin Alex pasti sudah menghajarnya habis-habisan.


Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus melalui mulut Alena, membuat Riki lantas menoleh dengan seketika ke arah Alena begitu mendengar helaan napas yang berasal dari Alena.


"Aku akan mengantar anda ke Rumah sakit terlebih dahulu Nona sebelum kita pulang ke Rumah." ucap Riki yang langsung membuat Alena menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.


"Tidak perlu" jawab Alena dengan nada yang datar.


Mendengar perkataan Alena barusan lantas langsung membuat Riki menepikan mobilnya di bahu jalan dan berhenti sejenak di sana. Di tatapnya Alena yang saat ini tengah dalam posisi memunggungi dirinya.


"Jika anda tidak ingin ke Rumah sakit, apa anda sudah menyiapkan jawaban untuk segala luka di tubuh anda Nona?" ucap Riki dengan nada yang santai sambil menatap ke arah punggung Alena.


Alena yang mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja langsung berbalik badan dan menatap tajam ke arah Riki saat ini, membuat Riki yang melihat hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang yang seakan mengerti akan maksud dari tatapan Alena kepadanya barusan.


"Bukan seperti itu juga! Tidakkah kamu mengerti maksud ucapan ku?" ucap Alena dengan nada yang terdengar protes sambil menatap kesal ke arah Riki.


"Untuk itu kita perlu ke Rumah sakit sekaligus mengecek kondisi tubuh anda Nona, apakah ada luka dalam atau tidak?" ucap Riki lagi kali ini dengan nada yang lebih lembut berharap dengan begitu Alena lebih mengerti.


"Aku baik-baik saja dan aku tidak ingin ke pergi Rumah sakit!" ucap Alena dengan kekeh membuat Riki kembali menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar perkataan dari Alena barusan.


"Lalu Nona ingin saya bagaimana?" tanya Riki kembali dnegan raut wajah yang bingung.


"Terserah!" ucapnya lagi dengan nada yang ketus.


Riki yang mendapat jawaban ambigu tersebut lantas terlihat kembali membenarkan posisinya kemudian melajukan mobilnya begitu saja tanpa mengatakan hal lain lagi setelah itu. Membuat Alena yang tidak tahu Riki akan membawanya kemana hanya bisa melirik sekilas ke arah Riki kemudian kembali menatap ke arah luar kaca jendela mobil tersebut.


***


Apotik


"Saya minta ijin untuk mengobati anda Nona." ucap Riki kemudian sambil mengambil posisi jongkok di sebelah mobil tersebut dan mulai membuka obat-obatan yang baru saja ia beli.


Riki mengobati satu persatu luka di tubuh Alena dengan telaten kemudian membalutnya dengan plaster. Dengan gerakan yang berhati-hati Riki melakukannya sepelan mungkin agar Alena tidak merasakan kesakitan. Namun sepelan dan sehati-hati apapun ketika kita mengobati luka seseorang pasti seseorang itu akan tetap merasakan sakit dan juga perih ketika obat merah dan juga alkohol menyentuh kulit mereka yang terluka.


"Aw" rintih Alena dengan nada yang lirih membuat Riki langsung menghentikan gerakan tangannya dengan seketika begitu mendengar rintihan Alena barusan.


"Aku minta maaf... Pasti sakit sekali ya? Aku akan melakukannya dengan berhati-hati." ucap Riki kemudian sambil menatap ke arah Alena memastikan bahwa Alena tidak lagi kesakitan.


"Aku tak apa, lagi pula hanya sakit sedikit saja aku masih bisa menanganinya." ucap Alena dengan nada yang datar.


"Apa kamu yakin?" tanya Riki sekali lagi mencoba untuk memastikannya.


"Lakukan saja!" ucap Alena yang lantas membuat Riki menghela napasnya dengan panjang.


Pada akhirnya Riki hanya bisa menuruti perkataan Alena dan melanjutkan gerakannya mengobati luka-luka di tubuh Alena. Sambil mengobati luka Alena, beberapa menit kemudian Riki lantas menghentikan gerakan tangannya begitu ia sudah menyelesaikan tugasnya.


Dalam posisi yang menunduk selama beberapa detik Riki mengambil napasnya dengan panjang kemudian menatap kedua manik mata Alena yang saat ini tampak begitu khawatir.


"Saya minta maaf jika tadi saya sudah keterlaluan Nona... Inilah yang saya takutkan ketika apa yang kita mainkan terbawa hingga di kehidupan nyata. Apa anda masih menyukai Errando Nona? Jika anda masih mencintainya untuk apa kita terus bermain rumah-rumahan seperti ini? Anda bisa mengakhirinya kapan pun itu dan saya tahu akan hal tersebut. Hanya saja... Tidakkah anda memikirkan perasaan saya sejenak? Apa yang keluarga anda berikan kepada saya, semua kebaikan orang tua anda, tuan muda yang sudah menganggap saya sebagai adik iparnya, apakah anda tidak pernah memikirkannya? Saya tertekan Nona. Rasanya di hati saya begitu sakit karena harus membohongi orang-orang baik yang seharunya saya yang posisinya sebagai bawahan yang bekerja dalam lingkungan tersebut sadar diri dan hanya mengabdi pada keluarga anda, bukan malah seperti ini! Tidakkah anda memikirkan saya sebentar saja?" ucap Riki pada akhirnya.


Kali ini Riki sudah tidak bisa lagi menahannya, apa yang terjadi kepada Alena dan juga Errando malam ini membuat Riki tersadar bahwa hati Alena bukanlah untuk dirinya. Sebelum perasaan yang dimiliki oleh Riki kian terbentuk dan berkembang menjadi besar, hari ini juga Riki hendak mengakhiri segalanya. Riki tidak bisa lagi berakting di tengah-tengah keluarga yang begitu baik kepadanya, baginya apa yang telah dilakukan Riki saat ini benar-benar bukanlah sesuatu yang baik dan pantas di lakukan kepada mereka.


"Aku ingin mengakhirinya Nona..." ucap Riki kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alena.


Alena yang mendengar perkataan Riki barusan tentu saja terkejut bukan main. Ia dan Errando memang sudahlah berdamai, hanya saja jika Riki meminta untuk mengakhirnya saat ini juga, bukankah ini terlalu cepat? Alena bahkan belum menyiapkan kata-kata atau apapun itu yang bisa menjelaskan segala situasinya saat ini.


Alena yang tidak mengerti akan sikap Riki yang terus-terusan meminta untuk mengakhiri segalanya padahal ia sudah mendapatkan segalanya termasuk kekayaan ketika bersama dengannya, lantas terlihat menatap ke arah raut wajah Riki yang terlihat kecewa saat ini. Alena yang melihat ekspresi wajah tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Baiklah Rik, mari kita akhiri segalanya besok!" ucap Alena kemudian yang lantas membuat Riki terkejut dengan seketika.


Bersambung