
Malam itu Aksa yang tengah tertidur dengan pulas di kamarnya, lantas harus terbangun ketika ia mendengar suara berisik di luar kamarnya. Aksa yang tidak tahu suara ribut-ribut apa di luar, nampak bangkit dari tidurnya sambil mengucek kelopak matanya berulang kali seakan mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya sambil menatap ke arah sekeliling kamarnya.
Perlahan tapi pasti Aksa yang penasaran akan suara ribut-ribut di luar kemudian mulai melangkahkan kakinya turun dari ranjangnya dan mulai berjalan mendekat ke arah pintu kamar untuk bersiap membuka pintu ruangan kamarnya.
Disaat Aksa baru saja membuka pintu kamarnya sebuah pemandangan yang terjadi dengan tiba-tiba mendadak terlihat dengan jelas di depannya, membuat Aksa yang melihat semua kejadian yang berada di hadapannya lantas terkejut dengan seketika. Aksa benar-benar melihat dengan jelas bagaimana Alena menampar dengan keras pipi Riki saat itu, membuatnya hanya bisa terdiam sambil menatap tak percaya akan ulah kedua orang tuanya yang saat ini tengah bertengkar di hadapannya.
"Mommy.. Daddy..." ucap Aksa dengan raut wajah yang terkejut.
Baik Alena maupun Riki yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara. Seakan keduanya sama-sama terkejut ketika mendengar sebuah suara yang keduanya hapal betul bahwa itu adalah Aksa.
Alena terkejut bukan main ketika melihat Aksa sudah berada tepat di ambang pintu, membuat Alena langsung dengan spontan menyembunyikan tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar pipi Riki. Rahang milik Riki yang begitu tegas dan juga kuat tentu saja membuat tangannya sampai memerah dan kebas, namun Alena sebisa mungkin menyembunyikannya agar hal tersebut tidak di ketahui Riki ataupun Aksa.
"Aksa sudah bangun.. Dady tadi..." ucap Riki hendak menjelaskan kepada Aksa namun terpotong dengan Alena yang menarik tangannya.
Alena yang terlanjur kesal akan sikap Riki barusan, melihat Riki hendak mendekati putranya lantas langsung menarik tangan Riki yang kemudian menghentikan langkah kaki Riki dengan seketika seakan mencoba bertanya mengapa Alena menghentikan langkah kakinya.
"Bukankah kau sudah muak melakukan drama ini? Jadi berhenti bersikap seolah-olah kau adalah Ayah yang baik baik Aksa!" ucap Alena dengan nada yang datar.
Setelah mengatakan hal tersebut Alena, lantas melangkahkan kakinya begitu saja melewati Riki yang saat ini terdiam membeku begitu mendengar perkataan dari Alena barusan.
Sebuah kata-kata yang sama sekali tidak pernah Riki dengar keluar dari mulut Alena. Sampai detik ini barulah Riki menyadarinya bahwa apa yang ia rasakan hanyalah sebagian yang dirasakan oleh Alena selama ini. Nyatanya keluarga Hermawan benar-benar memperlakukannya dengan baik seperti seorang keluarga, namun sebuah perasaan egois yang mendadak menghampirinya membuat Riki menjadi menginginkan sesuatu yang lebih lagi dan lagi.
"Argggg" ucap Riki dengan nada yang kesal begitu menyadari kesalahannya begitulah besar saat ini.
***
Kamar Aksa
Dari arah pintu masuk terlihat Alena tengah melangkahkan kakinya sambil menggendong Aksa menuju ke arah ranjangnya. Diletakkannya Aksa di atas ranjang dengan perlahan sambil mengusap rambut Aksa dengan perlahan.
"Mommy minta maaf, kamu pasti terkejut ya... Ada sedikit permasalahan yang terjadi antara Daddy dan juga Mommy membuat kami berdua menjadi berselisih paham." ucap Alen memberikan sebuah pengertian kepada Aksa.
Meski Alena sendiri tidak terlalu yakin apakah Aksa akan mengerti atau tidak dengan perkataannya, tapi yang jelas sebagai seorang Ibu Alena tetap harus memberikan pengertian kepada Aksa agar memori Aksa tidak menangkap sesuatu yang salah dan akan terbawa hingga ia dewasa nantinya.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Alena bingung hendak menjawabnya bagaimana, tidak mungkin bukan? Jika alena mengatakan bahwa ia menampar Riki karena ia kesal akan kata-kata Riki kepadanya tentu itu tidak akan bisa dimengerti oleh Aksa. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alena, membuat Aksa lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung karena Alena tak kunjung menjawab pertanyaannya sedari tadi.
"Mommy tidak memukul Daddy, yang Mommy lakukan hanya memberitahu Daddy mana yang benar dan mana yang salah. Sudah ya.. Sebaiknya Aksa tidur, bukankah besok kita akan pergi mencari sekolah untuk Aksa? Jadi cepat pergi tidur agar besok kamu tidak kesiangan." ucap Alena kemudian seakan mencoba untuk mengalihkan pusat perhatian Aksa agar tidak kembali membahas hal tersebut.
Aksa yang mendengar perkataan dari Alena barusan lantas mengangguk dengan spontan. Tidak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut Aksa selain hanya tindakan Aksa yang langsung menuruti perkataan Alena dan mulai bergerak kembali tidur.
"Anak pintar..." ucap Alena tersenyum sambil mengusap dengan perlahan rambut Aksa dan menepuknya agar pria kecil itu dapat segera berlayar ke pulau impiannya.
***
Area kamar mandi
Di dalam kamar mandi terlihat Alena tengah membasuh tangannya yang tadi ia gunakan untuk menampar Riki dengan air hangat di wastafel. Tangannya terlihat begitu memerah tepat setelah menampar pipi Riki, hal ini bahkan membuat Alena benar-benar tidak menyangka bahwa ia menampar terlalu kuat pipi Riki. Sehingga menyebabkan tangannya memerah, Alena bahkan tidak membayangkan bagaimana kondisi dari pipi Riki saat ini ketika melihat kondisi tangannya saja sudah memerah seperti itu.
"Sepertinya aku terlalu terbawa emosi tadi..." ucap Alena kemudian membasuh wajahnya beberapa kali dan langsung mengelapnya dengan handuk kering.
"Aku yakin telah terjadi sesuatu pada Riki yang membuatnya begitu marah kepada ku." imbuh Alena lagi sambil menatap raut wajahnya di kaca wastafel.
***
Sementara itu di kediaman milik Errando, terlihat Errando tengah duduk termenung di ruangannya dalam suasana ruangan yang gelap gulita tanpa penerangan cahaya apapun. Sambil melihat ke arah balkon ruangan tersebut Errando nampak menatap ke arah langit malam kala itu dengan sebuah senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Aku yakin saat ini rumah tangga keduanya pasti sedang bermasalah? Mengapa aku tidak terpikirkan akan hal tersebut? Lagi pula aku hanya memberikan apa yang Riki minta, bukan salah ku bukan kalau memberikannya sebuah bonus sekaligus?" ucap Errando dengan senyuman yang tak henti-hentinya terlihat memancar dari wajah milik Errando saat itu.
Entah mengapa meski Riki sudah menjelaskannya secara berulang dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan harta Alena, namun sekeras apapun Riki menjelaskan, Errando tetap tidak akan percaya sedikitpun mengingat bagaimana keluarga Hermawan memberikan segalanya pada manta bawahannya itu.
"Cih benar-benar munafik..." ucap Errando dengan raut wajah yang meremehkan ketika bayangan tentang Riki terlintas begitu saja di benaknya saat ini.
Bersambung.