Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Sedikit egois


"Tepi kan sekarang juga!" ucap Alex lagi yang membuat Riki mau tidak mau lantas langsung menepikan mobilnya sekarang juga.


Mendengar nada meninggi yang berasal dari Alex lantas membuat Riki langsung menepikan mobilnya detik itu juga. Riki yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa menatap ke arah Alex dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Alex?


"Sekarang kita ganti posisi biar aku yang menyetir, kau pikir dengan nyawa mu yang tidak ada di sini dan terus mengkhawatirkan Alena semua masalah akan selesai, tentu tidak bukan? Jadi biar aku yang menyetir mobilnya sekarang!" ucap Alex dengan nada yang memerintah membuat Riki yang mendengar perkataan dari Alex barusan langsung membulat dengan seketika.


"Tu...an" ucap Riki dengan lirih namun sorot mata Alex yang tajam ke arahnya lantas mulai membuat Riki bangkit dari posisinya dan bertukar tempat dengan dirinya.


Riki yang tidak ingin mendengar nada suara meninggi dari Alex pada akhirnya hanya bisa menuruti perkataan dari Alex saja tanpa bisa protes ataupun menyela pembicaraannya. Disaat suasana yang masih terasa tegang di dalam mobil sebuah deringan ponsel kembali terdengar menggema di sana, membuat Riki yang baru sadar jika itu adalah ponsel miliknya lantas langsung merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya di sana.


"Nyonya besar tuan!" pekik Riki ketika melihat nama Tika tertera dengan jelas pada layar ponsel miliknya saat ini.


Mendengar hal tersebut membuat Alex langsung terdiam sejenak kemudian detik berikutnya menyuruh Riki untuk mengangkat panggilan tersebut.


Riki yang tidak tahu harus bagaimana kemudian lantas mengangkat panggilan tersebut sesuai dengan permintaan dari Alex barusan.


"Halo" ucap Riki dengan perlahan.


"Daddy... Daddy sama Mommy kemana? Mengapa ketika aku bangun kalian tidak ada dimana pun?" ucap Aksa dengan nada setengah menangis membuat Riki yang mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung mengkode Alex dan memberinya isyarat bahwa yang menelponnya adalah Aksa.


"Katakan kepadanya kalian masih keluar saat ini." ucap Alex kemudian dengan nada yang berbisik agar Aksa tidak mendengar perkataannya.


Mendengar bisikan dari Alex barusan lantas membuat Riki langsung mengangguk tanda mengerti.


"Maaf ya Daddy dan Mommy tadi tidak membangunkan mu tadi, untuk sementara ini kamu main dulu sama Oma ya... Mommy dan Daddy masih ada urusan sebentar." ucap Riki dengan nada yang berusaha setenang mungkin atau nanti Aksa akan curiga karenanya.


"Tidak mau, pokoknya jemput Aksa sekarang karena Aksa mau ikut!" ucap Aksa dengan nada yang meninggi membuat Riki langsung memasang wajah tegang seketika.


"Maaf ya nak, bukankah Aksa anak pintar? Jika Aksa hari ini bisa tenang dan bermain dengan Oma, Daddy janji nanti Daddy akan membawa Aksa melihat bintang." ucap Riki kemudian mencoba menenangkan Aksa yang ingin meminta ikut.


Mendengar kata bintang terucap dari mulut Riki membuat Aksa langsung terdiam dengan seketika. Sepertinya cara itu berhasil untuk membujuk Aksa agar diam dan tenang.


"Apa Daddy sungguh akan mengajak aksa melihat bintang?" tanya Aksa kemudian mencoba untuk memastikan perkataan Riki barusan.


"Tentu saja, maka dari itu jadi anak yang pintar ya..." ucap Riki lagi.


"Hem" ucap Aksa kemudian sebelum pada akhirnya panggilannya terputus begitu saja.


"Bintang?" ucap Alex kemudian setelah telpon tersebut terputus.


Alex yang mendengar perkataan Riki barusan kemudian lantas mengangguk seakan mulai paham akan situasinya. Baru setelah itu Alex kemudian terlihat melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke tempat terakhir kali mobil milik Errando tertangkap kamera pengawas.


***


Sementara itu di hutan yang terletak di area bagian bawah jalan tol, terlihat Errando dan juga Alena tengah melangkahkan kakinya secara perlahan menyusuri area hutan mencari jalan keluar dari sana. Cuaca yang begitu terik di tambah tubuh keduanya yang tidak fit membuat tubuh mereka menjadi dehidrasi dan lemas.


Alena yang sudah berkeringat dan membuat bajunya basah, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya sejenak mengambil duduk pada rerumputan liar di sana.


"Al tidakkah kita harusnya istirahat sebentar?" ucap Errando yang juga merasakan langkah kakinya yang begitu berat.


Errando yang posisinya memang berjalan lebih dulu dari Alena, ketika mendengar tidak ada jawaban apapun dari Alena membuat Errando dengan spontan berbalik badan untuk mengecek keadaan Alena. Ketika menoleh ke arah belakang ada sedikit perasaan terkejut dari Errando ketika melihat Alena sudah duduk di bawah dengan wajah yang pucat dan penuh keringat, membuat Errando yang melihat hal tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas mendekat ke arah Alena.


"Apa kamu baik-baik saja Al... Jangan membuat ku takut." ucap Errando dengan raut wajah yang khawatir menatap ke arah Alena.


Mendengar perkataan Errando barusan, membuat Alena lantas mendongak ke arah Errando dengan perlahan kemudian tersenyum dengan senyuman yang di paksakan.


"Beri aku waktu lima menit untuk istirahat Er... Aku lelah.." ucap Alena dengan nada bicara yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Errando.


"Apa kamu yakin Al... Kalau kamu merasakan sesuatu katakan saja padaku..." ucap Errando yang seakan masih tidak percaya akan perkataan Alena barusan.


Alena yang mendengar perkataan dari Errando barusan lantas kembali menggeleng dengan pelan kemudian tersenyum, membuat Errando yang melihat hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Baiklah kalau kamu ingin istirahat sebentar.. Ayo bangun kita berteduh di bawah pohon itu." ucap Errando kemudian sambil menunjuk batang pohon besar yang posisinya tak jauh dari tempat keduanya berada.


Alena yang mengikuti arah tunjuk Errando kemudian lantas mengangguk, dengan gerakan yang perlahan Alena kemudian bangkit dari posisinya sambil melangkahkan kakinya ke arah batang pohon besar yang di tunjuk oleh Errando tadi disusul dengan Errando di belakangnya.


Keduanya kemudian nampak mengambil posisi duduk dan bersandar di dahan pohon sambil menarik napasnya secara perlahan. Diliriknya sekilas Alena yang tampak begitu tenang menatap ke arah depan walau angin kala itu berhembus dan membuat rambutnya berantakan meski di cuaca yang begitu terik.


Seulas senyum nampak terbit dari wajah Errando ketika menyadari jika kecelakaan yang ia alami bersama Alena mungkin merupakan jawaban dari doa-doanya selama ini. Mungkin terdengar begitu egois namun hanya dengan cara seperti ini keduanya bisa duduk berdua lebih lama dan Errando mempunyai kesempatan untuk menanyakan banyak hal kepada Alena.


"Al... Aku tidak tahu apakah ini adalah waktu yang tepat atau bukan hanya saja aku ingin meminta maaf kepadamu atas kesalahan ku beberapa tahun lalu yang mempermainkan hatimu... Aku benar-benar tidak tahu jika itu menimbulkan luka yang mendalam bagimu, tapi aku sungguh menyesal telah melakukannya. Andai waktu bisa ku putar mungkin aku akan..." ucap Errando kemudian namun terpotong ketika ia merasa kepala Alena perlahan-lahan mulai jatuh ke dalam pundaknya.


Diliriknya sekilas ke arah Alena yang saat ini nampak terpejam dan bersandar di bahu Errando.


"Hem... Mungkin sekarang belum saatnya."


Bersambung