Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Bergerak


Ruangan Alex


Terlihat Alex kini tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen penting yang akan di gunakan untuk tender besar minggu depan. Ketika Alex tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen tersebut suara ketukan pintu dari luar, lantas mulai terdengar dan menghentikan gerakan Alex yang sedari tadi fokus menatap ke arah beberapa dokumen di meja kerjanya.


"Masuk" ucap Alex sambil melihat ke arah pintu masuk.


Perlahan lahan pintu ruangan Alex nampak terbuka dan menampilkan sosok Fatur yang mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja Alex.


"Apakah ada sesuatu?" ucap Alex langsung bertanya pada intinya ketika melihat raut wajah Fatur yang terlihat gelisah.


"Saya tidak tahu apakah ini penting atau tidak, hanya saja saya mendengar informasi bahwa Errando ikut maju dalam tender minggu depan." ucap Fatur memberikan informasi.


Sedangkan Alex yang mendengar ucapan dari Fatur barusan langsung terdiam seketika, sebuah keputusan yang di ambil secara tiba tiba oleh Errando pastilah menyimpan sesuatu hal yang besar. Alex tersenyum sekilas kemudian menatap kembali ke arah Fatur, membuat Fatur yang melihat senyuman dari Alex langsung mengernyit dengan bingung dan tidak mengerti akan maksud dari senyuman itu.


"Secepat itu? aku rasa dia terlalu terburu buru dalam mengambil keputusan." ucap Alex dengan nada yang santai sambil membuka dokumen yang terletak di mejanya dan mulai mempelajarinya kembali.


"Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu pak?" ucap Fatur dengan hati hati takut menyinggung Alex dan membuatnya marah.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Fatur, lantas membuat Alex menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Fatur dengan tatapan yang dingin. Sebuah ingatan masa lalu yang di sebutkan oleh Fatur barusan, entah mengapa membuat Alex muak dan juga marah, sehingga ketika ia kembali mendengar hal tersebut keluar dari mulut Fatur entah mengapa merasa sangat kesal.


"Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan di lakukan oleh Errando, tapi yang jelas hentikan mengungkit tentang masa lalu karena aku tidak menyukainya!" ucap Alex dengan nada yang dingin membuat Fatur langsung dengan spontan menunduk sambil meminta maaf karena telah lancang mengatakan hal tersebut.


"Maafkan saya pak... maafkan atas kelancangan saya." ucap Fatur dengan nada yang penuh penyesalan.


***


Sore harinya


Alena yang baru bangun tidur lantas langsung bergegas menuju ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam. Dengan langkah yang perlahan Alena melangkahkan kakinya hendak menuruni tangga, namun berhenti sejenak ketika pandangan matanya menatap tepat ke arah pintu kamar utama. Bayangan tentang bagaimana perkataan Errando ketika mabuk masih teringat dengan jelas di pikirannya. Helaan nafas berat lantas terdengar berhembus dari mulut Alena, ketika menyadari bahwa semua yang di lakukannya untuk Errando sama sekali tidak membuatnya tersentuh.


Dalam keadaan mabuk pun Errando masih bisa mengeluarkan kata kata kasar untuknya yang terdengar begitu menyakitkan bagi Alena. Beberapa detik berdiri dan menatapi pintu kamar utama, Alena kembali menghela nafasnya dengan panjang kemudian melangkahkan kakinya kembali menuruni satu persatu anak tangga.


"Aku tidak boleh menyerah... ya... semangat Alena..." ucap Alena pada diri sendiri sambil mulai melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga dan menuju ke arah dapur.


**


Setelah berkutat cukup lama di dapur, Alena kemudian mulai menata satu persatu masakan buatannya di meja makan, tentunya dengan senyum mengembang yang terlukis indah pada wajah cantiknya.


Surti yang melihat semua makanan sudah terhidang di meja makan, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena.


"Biar saya yang melanjutkannya nyonya, nyonya boleh beristirahat sekarang." ucap Surti dengan nada yang pelan.


"Tak perlu bi, mungkin bibi lebih baik panggil Errando saja turun, biar aku menantinya di sini sekaligus beberes sedikit lagi." ucap Alena sambil tersenyum.


Mendengar perintah tersebut Surti langsung mengangguk tanda mengerti, kemudian melangkahkan kakinya naik ke atas menuju kamar utama.


**


Beberapa menit kemudian


Terlihat Errando menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah kaki yang perlahan, wajah pria itu benar benar lesu dan terlihat kusut membuat Alena hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika melihat raut wajah Errando yang seperti itu.


Errando mengambil duduk dan menatap ke arah hidangan yang tersaji di meja makan, jika sekilas mata memandang hidangan itu nampak begitu sangat menggiurkan bagi siapa saja yang melihatnya, namun ketika pandangan mata Errando berhenti kepada Alena yang kini tengah berdiri dan melayaninya, membuat Errando langsung berubah seketika moodnya.


"Letakkan piring itu dan biarkan aku mengambilnya sendiri!" ucap Errando dengan nada yang dingin membuat Alena langsung terdiam di tempatnya.


"Tapi ini tugas ku By... biarkan aku yang melakukannya untuk mu." ucap Alena kepada Errando dengan nada yang memohon.


"Jika ku bilang letakkan ya letakkan di sana!" ucap Errando lagi kali ini dengan nada yang penuh penekanan.


Mendengar ucapan Errando yang kembali mengulang kata katanya, lantas membuat Alena pada akhirnya hanya bisa mengalah dan perlahan lahan mulai meletakkan kembali piring tersebut di depan Errando.


Kecewa? sudah pasti, siapa yang tidak kecewa jika suaminya tidak mau di layani oleh istrinya sendiri? hanya saja Alena yang tidak ingin menyerah sampai di sini, berusaha untuk tetap tersenyum walaupun perasaannya terluka karena tingkah Errando. Alena yang tidak ingin menyerah kemudian beralih kepada minuman hangat yang di buatnya untuk meredakan rasa pengar setelah mengkonsumsi minuman beralkohol tadi.


Dengan langkah kaki yang bersemangat Alena kemudian kembali mendekat ke arah Errando sambil membawa secangkir minuman hangat kepada Errando.


"Minumlah ini untuk menghilangkan rasa pengar mu, aku dengar minuman madu dan juga lemon hangat dapat meredakan rasa pengar setelah mengkonsumsi alkohol." ucap Alena dengan nada yang lembut sambil menyodorkan secangkir minuman hangat tersebut ke arah Errando.


Errando yang mendengar ucapan Alena, lantas dengan spontan sedikit mendorong cangkir tersebut agar menjauh darinya.


"Cobalah sedikit Er... kamu tidak akan tahu jika belum mencobanya." ucap Alena lagi sambil kembali mengarahkan cangkir tersebut ke arah Errando.


Errando yang melihat Alena dengan kekehnya menyodorkan cangkir tersebut ke arahnya, lantas tanpa sengaja mendorong cangkir tersebut dengan keras hingga jatuh dan langsung pecah mengenai kaki Alena.


"Aw..." pekik Alena yang merasakan perih dan juga rasa panas di kakinya.


Errando yang melihat hal tersebut kemudian bangkit dari posisinya karena terkejut akan cangkir yang pecah dan berserakan di lantai.


"Apa sebenarnya mau mu sih? kau tahu? kau itu senang sekali merusak mood ku, apa kau belum puas ha?" bentak Errando yang langsung membuat Alena terdiam seketika tidak berani mengeluarkan suara walau rasa sakit yang menjalar di area kakinya.


Bersambung