
Uhh..
Mendengar suara gumaman yang berasal dari Alena, lantas membuat Errando langsung membungkam mulut cerewet Pricilia dan membawanya keluar dari sana ketika Errando melihat Alena seperti tengah mengigau.
"Diam dan jangan berisik!" ucap Errando sambil menyeret tubuh Pricilia agar keluar dari kamarnya.
Errando menutup pintu dengan kakinya, setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat barulah Errando mulai melepas tangannya yang membekap erat mulut Pricilia. Membuat Pricilia lantas langsung membersihkan mulutnya karena bekas tangan Errando.
"Apa-apaan sih kamu Er?" ucap Pricilia dengan nada yang kesal.
Sedangkan Errando yang mendengar pertanyaan dari Pricilia barusan bukannya menjawab malah mendorong tubuh Pricilia agar segera pergi dari hadapannya.
"Sudah sana pulang... pintu keluarnya ada di bawah!" ucap Errando sambil menunjukkan ke arah lantai bawah.
Mendengar ucapan Errando yang mengusirnya membuat Pricilia langsung melongo menatap ke arah Errando, seakan tak percaya jika Errando benar-benar mengusirnya saat ini.
"Enak sekali kau ya... menyuruh ku datang dengan cepat setelah selesai kau langsung mengusir ku seperti ini. Minimal berikan aku minum kek atau apa kek, pelit amat jadi orang!" ucap Pricilia dengan kesal sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Errando saat ini.
"Teh tidak ada, Alena sakit dan Bik Surti sudah pulang. Jadi kalau kau haus ambil saja sendiri di bawah kemudian pulang oke, untuk masalah pembayaran gaji mu aku akan mentransfernya lebih setiap bulan." ucap Errando kemudian melangkahkan kakinya hendak membuka pintu namun berhenti sejenak dan berbalik badan.
"Jangan lupa untuk menutup pintunya dengan rapat, sampai jumpa." ucap Errando kemudian sambil menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Melihat tingkah Errando yang seperti itu membuat Pricilia lagi lagi hanya bisa melongo menatap ke arah pintu kamar utama yang sudah tertutup dengan rapat. Pricilia hanya bisa menggeleng kepalanya dengan pelan karena lagi dan lagi harus berhadapan dengan sikap dingin dari Errando. Ditatapnya pintu kamar utama dengan tatapan yang bertanya-tanya sambil memikirkan sesuatu yang sedari dulu selalu membuatnya penasaran.
"Kira-kira apakah Errando juga akan bersikap dingin dan seenaknya jika bersama orang yang ia cintai?" ucap Pricilia bertanya-tanya pada diri sendiri. "Ah sudahlah mengapa jadi aku yang berpikir keras tentang hal ini?" ucap Pricilia lagi sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan kediaman Errando dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
***
Sementara itu di dalam kamar utama, terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Alena dan mengambil duduk di sebelahnya. Disentuhnya kening Alena dengan lembut untuk mengecek suhu tubuh Alena baru setelah itu terdengar helaan nafas yang berhembus dengan lega dari mulut Errando ketika mengetahui suhu tubuh Alena sudah turun.
Sebuah perasaan bersalah mendadak datang dan menghampirinya ketika Errando melihat wajah Alena yang tengah tertidur itu. Errando benar-benar tahu bahwa Alena sama sekali tidak bersalah dalam hal ini namun sebuah kesalahan yang dilakukan oleh sang kakak, membuat Alena mau tidak mau harus menanggung kesalahan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
Errando menggeleng dengan kuat ketika perasaan di hati kecilnya terus mengatakan untuk membebaskan Alena dari rasa sakit ini, namun beberapa detik kemudian Errando langsung menggeleng dengan kuat dan berusaha menyangkal sesuatu yang terus bergejolak di dalam hatinya.
Errando bangkit dari duduknya dan langsung memunggungi Alena dengan mengusap rambutnya kasar.
Setelah kepergian Errando dari kamar utama tanpa Errando ketahui bulir air mata nampak menetes dari sudut mata Alena yang masih terpejam, Alena ternyata sedang terjaga saat ini. Alena bahkan mendengar segala hal yang diucapkan oleh Errando kepadanya. Alena mengambil posisi miring ke kanan dan menutup wajahnya dengan selimut mencoba menumpahkan segala rasa yang entah Alena tidak tahu akan berakhir seperti apa perasaannya. Errando sangat membencinya tapi anehnya Alena malah sangat mencintainya. Hal itulah yang membuat Alena semakin merasa terluka karena semua kasih sayang dan juga perhatian yang ia curahkan selama ini nyatanya sama sekali tidak membuat Errando luluh kepadanya.
"Aku harus apa? Akankah jalan perpisahan lebih baik diantara kami berdua?" ucap Alena dalam hati sambil terus menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu terasa tidak adil baginya.
***
Di sebuah Apartment
Terlihat Alex tengah menekan password unit Apartment tersebut kemudian masuk kedalamnya begitu pintu sudah terbuka. Di dalam unit Apartment tersebut Alex melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana seorang wanita cantik tengah duduk memunggunginya di ruang tengah sambil menatap ke arah sebuah televisi yang sama sekali tidak memunculkan gambar apapun di sana.
"Juwita... apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang marah dengan ku karena aku datang terlambat?" tanya Alex kepada Juwita yang terlihat hanya diam saja sedari tadi.
"Aku hamil Lex" ucap Juwita dengan nada yang datar.
Alex yang mendengar ucapan Juwita tentu saja dengan spontan langsung menghentikan langkah kakinya karena terkejut akan perkataan Juwita yang tiba-tiba itu.
"Ayolah kamu jangan bercanda, aku bahkan belum resmi menjadi CEO. Jika tiba-tiba aku menikah dan terdengar kabar bahwa kamu hamil duluan reputasi ku bisa hancur, mengertilah sedikit..." ucap Alex sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Juwita.
Mendengar ucapan Alex yang seakan mau menang sendiri, membuat Juwita langsung bangkit dari posisinya. Ditatapnya Alex dengan tatapan yang tajam, apapun yang terjadi Juwita akan tetap menuntut pertanggung jawaban dari Alex, karena apa yang ada di dalam rahimnya adalah sebuah aib keluarga. Juwita bahkan benar-benar tidak sanggup jika harus mengatakannya di depan kedua orang tuanya.
"Apapun yang ingin kamu capai itu terserah karena aku tidak akan melarangnya, tapi yang jelas kamu harus mempertanggung jawabkan segalanya Lex." ucap Juwita dengan nada yang penuh penekanan.
Alex yang melihat Juwita begitu kekeh akan perkataannya lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Juwita dan berusaha untuk membujuknya agar tidak meminta sebuah pernikahan. Alex benar-benar belum siap jika harus melepas segalanya padahal semua itu sudah jelas berada tepat di depan matanya.
"Cobalah untuk mengerti, atau jika tidak kita aborsi saja bayi itu. Aku janji setelah kita menikah nanti aku akan memberikan mu anak yang banyak dan lucu-lucu, ku mohon mengertilah sedikit..." ucap Alex dengan nada yang membujuk.
Namun sayangnya perkataan yang keluar dari mulut Alex bukannya menenangkan bagi Juwita, malah membuatnya kian kesal dan juga Frustasi.
"Kau kira anak adalah sebuah makanan yang bisa di buat dengan begitu mudah. Jika kamu tetap tidak ingin bertanggung jawab maka aku akan memilih jalan ku sendiri!" ucap Juwita dengan manik mata yang berair sambil memegang sebuah cutter di tangan kanannya.
"Juwita!"
Bersambung