Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Sebuah tantangan


Ruangan Rapat


Suara riuh gemuruh beberapa pemegang saham dan juga Direktur perusahaan tersebut, terdengar layaknya ratusan ekor lebah yang mengerumuni sesuatu. Riki yang jelas tahu akan banyak orang yang tidak menyukai dirinya yang tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan mendadak menjadi seorang Presdir di perusahaan keluarga ini. Lantas membuat Riki tidak terlalu terkejut begitu melihat reaksi para Petinggi perusahaan ketika namanya diumumkan sebagai Presdir perusahaan di HR Company.


"Setidaknya inilah reaksi unum yang akan aku lihat ketika aku yang bukan siapa-siapa mendadak menjadi Presdir perusahaan besar, bukankah ini rasanya seperti mimpi?" ucap Riki dalam hati sambil menatap ke arah satu persatu orang-orang penting di perusahaan ini.


Ketika suasana sedikit ricuh seorang pria dengan tubuh yang gemuk terdengar melayangkan protes kepada Alex yang terlihat begitu santai menangani beberapa orang di ruangan rapat ini.


"Bukankah sedari awal kita sepakat tidak ada jabatan Presdir di perusahaan ini? Mengapa tiba-tiba keputusannya berubah? Apa kalian pikir mengelola perusahaan itu seperti bermain rumah-rumahan?" ucap Pria itu yang disusul beberapa suara lain yang seakan ikut menyuarakan protes kali ini.


Riki yang mendengar sanggahan tersebut lantas terlihat mulai gelisah. Ditatapnya sekilas Alex yang sedari tadi hanya diam dan membiarkan suasana semakin ricuh. Membuat Riki menjadi sedikit bingung akan reaksi yang ditunjukkan oleh Alex yang terkesan begitu tenang dan juga santai walau orang-orang disekitarnya sudah hampir mengeroyoknya sekalipun.


"Mengapa tuan Alex tenang sekali?" ucap Riki sambil terus menatap ke arah Alex.


Alex yang tahu ini pasti akan terjadi kemudian lantas menoleh ke arah Riki dan memberinya kode seakan seperti mempersilahkan Riki untuk menyelesaikan ketidakpercayaan para pemegang saham dan staf penting perusahaan. Riki yang paham akan kode yang diberikan oleh Alex kepadanya lantas langsung menelan salivanya dengan kasar. Ditatapnya semua orang yang saat ini tengah menatap tajam ke arahnya seakan seperti sedang mempertanyakan kualitas dan cara kerja Riki.


Riki yang tidak tahu hendak berbicara apa kepada para petinggi perusahaan lantas mulai menutup matanya sebentar. Dalam posisi mata yang terpejam ketika Riki mencoba mencari ketenangan bayangan senyuman Alena yang begitu manis mendadak menghiasi matanya dan bergantian dengan tawa riang Aksa. Melihat dua orang tersebut mengisi relung hatinya membawa ketenangan tersendiri dalam diri Riki saat ini.


Sambil membuka kelopak matanya secara perlahan, Riki mulai memasang senyum di mulutnya kemudian bangkit berdiri dengan kekuatan penuh yang berasal dari Alena dan juga Aksa.


"Saya tahu kalian semua pasti meragukan kinerja saya, tapi saya bisa pastikan bahwa saya tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan kalian semua." ucap Riki kemudian memberanikan diri.


"Halah persetan soal kepercayaan, asal-usul mu saya tidak jelas, bagaimana mungkin kami menaruh kepercayaan kami begitu saja kepada mu?" ucap seorang pria yang lantas membuat Riki kembali menegang.


"Kami ingin bukti bukan hanya sekedar janji belakang!" teriak yang lainnya, membuat Alex kemudian lantas bangkit dari posisinya ikut berusaha menenangkan peserta rapat saat itu.


"Baiklah begini saja, jika kalian menginginkan bukti yang nyata. Minggu depan akan ada rapat tender yang cukup besar dan tentu saja akan sangat menguntungkan jika perusahaan kita bisa memenangkannya. Jika kalian tidak keberatan aku menantang Riki untuk memenangkan tender tersebut sekaligus sebagai bentuk pembuktian akan kinerja Riki." ucap Alex kemudian memberikan ide untuk yang lainnya.


Mendengar perkataan dari Alex barusan membuat semua orang langsung sepakat sekaligus mengiyakan ide yang diberikan oleh Alex barusan. Melihat antusiasme dari para petinggi perusahaan, membuat Riki lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Sekarang semua keputusan ada kepadamu Rik, apapun yang kamu ambil segala konsekuensinya harus siap kamu tanggung sendiri kelak dikemudian hari." ucap Alex kemudian yang lantas membuat Riki langsung terdiam begitu mendengar perkataan dari Alex barusan.


**


Ruangan Presdir


Setelah rapat berakhir dengan kesepakatan bersama di dalam ruangannya yang baru, terlihat Riki tengah menatap kosong ke arah depan. Pikirannya melayang jauh membayangkan setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi kepadanya minggu depan. Membayangkannya saja benar-benar membuat Riki begitu berantakan, apalagi jika hal tersebut sungguh terjadi kepadanya.


Riki yang terlihat begitu frustasi akan keputusan yang sudah ia ambil sendiri, terlihat mulai mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Riki bahkan saat ini tengah merutuki keputusannya yang malah membuat keputusan dengan terburu-buru tanpa memikirkannya terlebih dahulu akan konsekuensi yang ia tanggung dari keputusan yang ia buat secara tiba-tiba itu.


"Ah benar-benar bodoh kau Rik! Bagaimana kalau kau sampai gagal memenangkan tender tersebut? Arggggh!" ucap Riki sambil terus menggerutu akan keputusan yang sudah ia ambil tadi.


Ketika Riki tengah berada dalam dilema sebuah suara langkah kaki yang mulai memasuki area ruangannya, lantas membuat Riki langsung mendongak ke arah sumber suara. Dari arah pintu masuk, Riki yang melihat Alex tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya lantas langsung terlihat bangkit dari posisinya begitu melihat langkah kaki Alex terlihat mendekat disusul dengan seorang wanita yang kini tengah melangkahkan kakinya di belakang Alex saat ini.


"Riki kenalkan ini Santi dan Santi kenalkan ini Riki Presdir di perusahaan ini. Mulai saat ini Santi akan menjadi asisten mu, aku harap kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik." ucap Alex kemudian mengenalkan keduanya.


"Saya merasa terhormat bisa bekerja dengan anda, ke depannya saya harap anda dapat membimbing saya dan mengarahkan saya untuk lebih baik lagi." ucap Santi sambil sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Riki.


***


Sementara itu, Alena yang terbangun ketika ketiduran di kamar Aksa lantas langsung melirik jam dinding ketika melihat di sana sudah tertera pukul 9 malam. Alena yang melihat bahwa hari sudah larut kemudian mulai bangkit dadi posisinya ketika baru menyadari bahwa ia sedari tadi tidak melihat kehadiran Riki dimanapun.


"Apa Riki belum pulang ya?" ucap Alena dalam hati sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aksa.


Ketika langkah kaki Alena baru saja keluar dari kamar Aksa, tanpa sengaja Alena malah bertemu dengan Alex yang lantas membuat Alena mengernyit dengan seketika begitu melihat Alex sudah berada di rumah.


"Loh kakak disini? Lalu Riki dimana?" tanya Alena dengan raut wajah yang penasaran.


Bersambung