
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri!" ucap Errando dengan nada bicara yang sinis.
Mendengar perkataan sinis dari Errando tentu saja membuat Laura terkejut bukan main, hanya saja sebisa mungkin Laura mencoba untuk tetap berusaha tetap tenang dan tidak terlihat oleh Errando bahwa ia sedang tersinggung oleh kata-kata Errando saat ini. Dengan memasang senyuman penuh kepalsuan, Laura nampak memperlihatkan deretan gigi-giginya ke arah Errando seakan mengatakan ia sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-katanya.
"Kamu tenanglah Er, aku dan juga Alena dulu adalah teman baik, jadi kamu tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu." ucap Laura sambil kembali mendekat ke arah Alena hendak membantu Alena lagi.
Sedangkan Alena yang ingin dibantu bahkan sama sekali tidak terlalu mendengarkan perkataan keduanya dan hanya fokus menahan perasaan trauma yang begitu mengakar di dalam hatinya. Pikirannya saat ini benar-benar penuh dengan segala kenangan beberapa tahun yang lalu tentang perbuatan Laura kepadanya. Pandangan Alena benar-benar buram, sedangkan telinganya mengeluarkan suara dengingan yang keras membuatnya semakin tidak terkendali.
Alena memegang kepalanya yang terasa berputar, membuat Laura dan juga Errando lantas langsung dengan cekatan memegang bahu Alena dimana Errando di bagian sebelah kiri Alena sedangkan Laura di sebelah kanan. Errando yang melihat Laura tetap ngotot melakukannya, lantas langsung dengan kasar menghempaskan tangan Laura dari bahu Alena kemudian mendekap Alena dengan erat agar ia tidak sampai jatuh ke bawah.
Ditatapnya Laura dengan tatapan yang tajam, membuat Steven yang melihat pemandangan dihadapannya lantas terkejut karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Sudah ku bilang untuk tidak perlu membantu! Apa kau sungguh tak paham bahasa manusia?" bentak Errando yang langsung memancing tatapan bertanya-tanya dari beberapa orang yang juga sedang berbelanja saat itu.
Laura yang secara mendadak di bentak oleh Errando tentu saja terkejut. Laura benar-benar tidak menyangka bahwa Errando akan langsung membentaknya seperti saat ini di depan umum. Dengan raut wajah yang menahan malu Laura mulai menunduk tak berani melihat sekitar yang tentu saja saat ini keempatnya tengah menjadi pusat perhatian. Steven yang merasa suasana kian menegang lantas mendekat ke arah Errando dan menepuk bahunya.
"Bicaralah dengan perlahan Er, tidak perlu sampai sekeras itu ini tempat umum." ucap Steven dengan nada yang berbisik.
Mendengar bisikan dari Steven barusan membuatnya langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar dan benar saja semua orang tengah menatap aneh ke arahnya seakan bertanya-tanya akan apa yang terjadi sebenarnya.
"Maaf aku emosi, aku akan membawa Alena pulang." ucap Errando.
Tanpa menunggu jawaban dari Steven, Errando lantas mulai memapah Alena keluar dari supermarket tersebut. Hanya saja sebelum itu Errando berpesan kepada kasir supermarket untuk membungkus semua barang yang ada di kedua troli itu karena sebentar lagi asistennya Rama akan melakukan pembayaran untuk barang belanjaannya. Baru setelah itu Errando kembali melangkah kakinya keluar dari area Supermarket sambil memapah Alena dan memeganginya dengan erat.
Sedangkan Steven dan juga Laura yang melihat kepergian Errando dan juga Alena hanya bisa diam mematung sambil menatap punggung keduanya hingga punggung mereka berdua tidak lagi terlihat. Steven kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Laura dan memegang pundak Laura, yang lantas langsung membuyarkan lamunan Laura.
"Ayo kita cari di tempat lain saja, bukankah kau tadi ingin membeli sesuatu?" ucap Steven yang langsung membuat Laura menatap ke arahnya begitu mendengar perkataan dari Steven barusan.
Laura yang mendengar ajakan Steven lantas menepis tangan Steven dari bahunya, membuat tangan tersebut perlahan-lahan mulai turun dan sadar diri akan apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku bisa jalan sendiri!" ucap Laura mencoba menolak bantuan dari Steven barusan.
"Tunggu aku Ra!" ucap Steven sambil berusaha menyusul langkah kaki Laura.
**
Di dalam mobil
Suasana hening menyelimuti area dalam mobil, dimana Alena terlihat tengah memejamkan matanya sambil bersandar di kursi penumpang, sedangkan Errando terlihat sesekali melirik ke arah Alena mencoba untuk memastikan bahwa Alena baik-baik saja. Helaan nafas terdengar berhembus kasar dari mulut Alena, membuat Errando langsung menolehkan kepalanya ke arah Alena dan menatapnya dengan tatapan yang menelisik.
"Bisakah aku meminta untuk pulang?" ucap Alena kemudian dengan nada yang lirih tanpa menatap ke arah Errando seakan enggan untuk menatap suaminya itu.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu saat ini Al?" tanya Errando kemudian dengan nada yang hati-hati.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Alena langsung menoleh ke arah Errando. Entah apa yang akan dikatakan oleh Errando kepadanya, membuat Alena menatap ke arah Errando dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Kali ini Alena bahkan sudah tidak ada tenaga lagi hanya untuk sekedar membantah Errando, membuat Alena lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika menatap wajah serius Errando kepadanya.
"Jika kamu mau meneriaki ku silahkan, jika kamu ingin mengejek ku karena kejadian tadi juga silahkan. Aku benar-benar sudah tidak ada tenaga lagi untuk berdebat dengan mu Er." ucap Alena dengan nada yang lirih.
Alena benar-benar pasrah akan perkataan apapun yang akan keluar dari mulut Errando kali ini. Lagi pula Errando sudah melihat kelemahannya, jadi untuk apa Alena harus berakting lagi dan pura-pura tegar?
Errando yang mendapat tuduhan dari Alena tentu saja agak sedikit bingung. Errando bahkan sama sekali tidak berniat melakukan hal tersebut tapi Alena malah sudah menuduhnya yang tidak-tidak seperti ini.
"Aku bahkan sama sekali tidak ada niatan untuk mengeluarkan perkataan yang baru saja kau tuduhkan, apa aku sekejam itu di mata mu Al? Hingga kamu malah menganggap aku akan menghina mu setelah apa yang terjadi tadi?" ucap Errando dengan nada yang kecewa begitu mendengar perkataan dari Alena baru saja.
Sedangkan Alena yang mendengar perkataan Errando barusan, tentu saja semakin dibuat bingung karena tidak biasanya Errando akan bersikap lembut seperti ini kepadanya. Alena menatap ke arah Errando kembali dengan tatapan yang menelisik, seakan-akan bertanya apakah sosok Errando yang dulu benar-benar kembali atau tidak.
"Jika bukan tentang kedua hal tersebut, lalu apa yang membuat mu sampai ingin mengatakan sesuatu?" tanya Alena kemudian dengan raut wajah yang penasaran sekaligus bertanya-tanya akan perkataan yang di maksud oleh Errando barusan.
Bersambung