Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Kurir?


"Loh kakak disini? Lalu Riki dimana?" tanya Alena dengan raut wajah yang penasaran begitu melihat Alex melintas tepat dihadapannya begitu saja seakan tanpa beban sama sekali.


Alex yang mendengar perkataan dari Alena barusan lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Ditatapnya raut wajah Alena dengan tatapan yang aneh membuat Alena yang menerima tatapan tersebut lantas sedikit kebingungan.


"Sepertinya dia sedang lembur malam ini bersama asisten barunya." ucap Alex kemudian yang lantas membuat Alena langsung mengernyit dengan seketika.


"Asisten baru? Bagus dong berarti Riki ada temannya, oh ya kak kira-kira di sana ada makanan atau tidak?" ucap Alena kemudian yang lantas membuat Alex sedikit kebingungan akan perkataan Alena yang terkesan aneh baginya.


"Kalau kamu tanya di kantor tentu saja tidak ada, tapi jika di luar... ya jelas banyak! Memangnya ada apa sih?" tanya Alex kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Kalau itu aku juga tahu tapi setidaknya kakak bilang kek kalau mau lembur, aku jadi bisa mengirim makan malam untuk Riki." ucap Alena kemudian sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Alex di sana menuju ke arah dapur.


Alex yang mendengar perkataan dari Alena barusan tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung, baru kali ini Alex mendengar Alena akan memasak untuk seseorang yang tentu saja sesuatu yang jarang sekali terjadi, setidaknya itupun setahu Alex selama tinggal bersama dengan adiknya itu.


"Kau ingin mengantar makanan atau ingin melihat asisten baru Riki?" sindir Alex kemudian yang lantas membuat Alena langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Alena berbalik badan menatap ke arah Alex dengan tatapan yang bertanya, namun Alex yang mendapat tatapan tersebut hanya tersenyum dengan nada yang mengejek kemudian berlalu pergi meninggalkan Alena yang masih menatapnya dengan tatapan yang bertanya hingga saat ini.


"Apa sih kak Alex? Gak jelas banget!" ucap Alena sambil menatap kepergian Alex dengan tatapan yang kesal karena perkataan Alex yang terasa begitu ambigu bagi Alena.


Sedangkan Alex yang mendengar perkataan dari Alena barusan hanya tersenyum kecil sambil terus melangkahkan kakinya tanpa berbalik badan ataupun menanggapi kembali perkataan Alena kepadanya barusan.


***


FN Company


Errando yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, lantas terlihat mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran gedung perkantoran nya dan bergegas untuk pulang ke rumah. Errando melajukan mobilnya secara perlahan keluar dari gedung perkantoran sambil menatap ke arah jalanan yang malam itu nampak begitu longgar. Hanya saja Errando yang tadinya hendak menyebrang, lantas nampak menghentikan laju mobilnya ketika ia tanpa sengaja menangkap sosok tak asing di pandangannya.


"Untuk apa Alena malam-malam ke kantor? Apa ada urusan yang penting dan tidak bisa di tunda?" ucap Errando dengan raut wajah penasaran menatap ke arah gedung HR Company yang terletak tidak jauh dari gedung perkantoran miliknya.


Errando yang tadinya hendak menyebrang dan melajukan mobilnya pulang, melihat sosok Alena yang tengah melangkahkan kakinya memasuki area gedung perkantoran milik keluarganya, lantas membuat Errando mengurungkan niatnya untuk pulang dan malah melajukan mobilnya mendekat ke arah gedung perkantoran tersebut. Sambil melajukan mobilnya secara perlahan Errando terus mengikuti langkah kaki Alena yang terlihat memasuki pelataran gedung perkantoran milik keluarganya itu.


"Apa yang dia lakukan di sana?" ucap Errando bertanya-tanya sambil terus memperhatikan segalanya.


Hingga beberapa menit menunggu, Errando yang sedari semula memperhatikan segalanya dari dalam mobilnya begitu melihat sosok pria yang dia kenal keluar dari lobi dan menghampiri Alena, membuat Errando lantas mendengus dengan kesal begitu mengetahui jika alasan kedatangan Alena adalah untuk Riki. Keduanya nampak saling berinteraksi antara satu sama lain dengan cukup lama. Sampai pada akhirnya percakapan mereka di tutup dengan Alena yang memberikan dua kotak makan kepada Riki, membuat Errando yang melihat hal tersebut lantas langsung memanas dengan seketika. Apa yang ia lihat saat ini sama sekali tidak ingin Errando lihat ataupun ketahui, membuat Errando langsung melengos dengan seketika begitu melihat pemandangan yang begitu menyakitkan matanya.


"Dasar tukang pamer!" ucap Errando kemudian dengan nada yang kesal tepat ketika melihat sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan untuk melihatnya.


***


HR Company


Riki yang tidak tahu sama sekali bahwa Alena jauh-jauh datang dan mengantar bekal untuknya, begitu mendengar Alena hendak berpamitan lantas membuatnya menjadi merasa bersalah karena sudah merepotkan Alena. Riki yang tahu Alena hendak pulang kemudian mulai menawarkan diri untuk mengantar Alena pulang ke rumah. Lagi pula bukankah tidak baik jika seorang perempuan pulang sendirian malam-malam seperti ini?


"Bagaimana kalau aku mengantar mu pulang? Ini bahkan sudah larut malam Al, aku hanya tidak ingin..." ucap Riki ketika mengetahui bahwa Alena menyetir sendiri kemari namun terpotong oleh perkataan Alena yang tahu Riki hendak mengatakan apa kepadanya.


"Tak perlu repot-repot, sudah sana masuk dan lekas pulang sebelum Aksa menanyakan keberadaan mu." ucap Alena kemudian sambil memberikan isyarat agar Riki segera masuk ke dalam kantor.


Sedangkan Riki yang mendengar perkataan dari Alena barusan, lantas hanya menghela napasnya dengan panjang. Riki yang tidak tega Alena berkendara sendiri untuk pulang kemudian mengedarkan pandangannya dan menatap ke arah mobil Alena yang terparkir tepat di area parkiran depan gedung perkantoran tersebut.


"Apa kamu yakin? Aku bisa mengantar mu sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan ku." tanya Riki kemudian seakan memastikan kembali perkataan Alena barusan berharap Alena berubah pikiran setelah mendengarkan perkataannya barusan.


"Tentu saja, masuk lah sana dan lekas pulang jangan hiraukan aku!" ucap Alena lagi kali ini dengan mendorong tubuh Riki agar kembali masuk ke dalam gedung dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


Membuat Riki yang mendapat dorongan tersebut pada akhirnya mau tidak mau lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut sambil melambaikan tangannya ke arah Alena. Sampai pada akhirnya lambaian tangan Riki yang tidak lagi tertangkap oleh netranya, membuat Alena perlahan-lahan mulai melangkahkan kakinya mundur dan bersiap untuk pulang ke rumah sebelum Aksa menyadari akan kepergiannya, ya meski hal itu tidak akan mungkin terjadi mengingat situasi sekarang adalah malam hari yang pastinya Aksa sedang tidur disaat-saat seperti ini.


Sampai kemudian ketika Alena hendak berbalik badan dan melangkahkan kakinya ke arah parkiran, sebuah sosok yang tak asing di pandangannya lantas langsung membuat Alena dengan spontan menghentikan langkah kakinya dan terkejut dengan seketika.


"Apakah sekarang seorang Alena sudah merangkap sebagai seorang kurir?" ucap Errando dengan nada yang begitu datar.


Bersambung