Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Lagipula siapa yang akan masuk?


"Pintunya tidak di kunci?" ucap Errando dengan tatapan yang bingung ketika melihat pintu kamar mandi yang sedang dalam posisi setengah terbuka.


Errando yang merasa seperti tidak asing dengan kejadian ini, lantas dengan spontan membuka pintu kamar mandi untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Pikiran Errando kini bahkan sudah memikirkan yang tidak-tidak. Bayangan kematian Juwita kala itu tergambar dengan jelas di kepalanya, membuat Errando kian mempercepat langkah kakinya.


"Kak Juwita!" pekik Errando sambil berlarian ke dalam kamar mandi.


Errando yang melihat seorang wanita tenggelam di dalam bathtub lantas dengan spontan langsung mengangkat tubuh itu karena berpikir itu adalah kakaknya Juwita. Sambil berteriak histeris Errando mulai mengangkat tubuh tersebut naik ke permukaan dan keluar dari bathtub kemudian memeluknya dengan erat.


Uhuk uhuk uhuk...


Alena yang tiba-tiba diangkat tentu saja terkejut bukan main, apalagi saat ini tubuhnya sedang tidak mengenakan pakaian apapun membuatnya bingung harus bagaimana. Hingga ketika Alena merasa ada yang salah dengan Errando, Alena mulai terdiam di tempatnya sambil mencerna apa yang tengah terjadi sebenarnya.


"Kak Juwita... maafkan aku kak... maaf...." teriak Errando dengan nada yang terus di ulang, membuat Alena sedikit cemas sekaligus bingung harus bersikap bagaimana.


Alena yang tidak tahu apa yang tengah terjadi, mendengar Errando begitu histeris membuatnya lantas langsung memeluk tubuh Errando dengan erat sambil menepuk bahunya dengan pelan, berusaha untuk menenangkan Errando yang terlihat begitu terpukul itu.


"Tenanglah Er... aku di sini... aku di sini." ucap Alena sambil menepuk punggung Errando dengan perlahan.


Errando yang semula begitu histeris hingga berlinang air mata, mendengar sebuah suara yang tak asing lantas membuat matanya langsung membulat. Errando kini baru tersadar bahwa yang ada di pelukannya adalah Alena bukan kakaknya Juwita yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Errando terdiam ditempatnya seakan mulai mencerna akan apa yang baru saja terjadi.


"Alena?" ucap Errando dalam hati begitu mendengar suara Alena barusan.


Hingga disaat Errando sadar sepenuhnya, dengan perlahan Errando mulai melepas pelukannya kepada Alena dan menatap tajam ke arah Alena, sehingga membuat Alena bertanya-tanya apa yang salah dengan Errando saat ini.


"Apa kau sudah gila Al? Apa kau tidak sayang dengan hidup mu ha?" ucap Errando kemudian dengan nada yang emosi sambil memegangi kedua lengan Alena dengan erat.


Alena yang mendengar teriakan tersebut tentu saja terkejut, begitu cepatnya Errando berubah menjadi keras kepadanya seperti ini. Padahal jelas-jelas beberapa menit yang lalu ia terlihat begitu rapuh seakan tengah memendam trauma yang begitu berat di dalam dirinya.


Alena menepis kedua tangan Errando dengan kasar, membuat Errando langsung menatap ke arah Alena dengan tatapan yang kesal. Ditatapnya mata Errando yang penuh dengan kilatan amarah tersebut.


Errando yang mendengar keluh kesah Alena lantas langsung terdiam, apa yang ia lakukan memanglah begitu keterlaluan hingga mungkin sulit untuk dimaafkan. Errando mengusap rambutnya dengan kasar karena kesal sekaligus merutuki kebodohannya.


"Apa kamu tidak mengingat seberapa bringasnya perbuatan mu semalam Er? Lihatlah ini... ini dan ini... hampir semuanya ada bekas yang kamu tinggalkan pada tubuh ku! Dan kau.. bisa-bisanya kau tetap berlaku seenaknya setelah mengambil semuanya dari ku! Sekarang kau mau apa lagi? Mau memarahi ku juga karena aku berendam untuk merefresh otak ku, apa itu juga salah menurut mu?" ucap Alena lagi dengan nada yang terisak.


Errando yang kembali mendengar ucapan Alena lantas terdiam, Errando sungguh tidak mengerti jika Alena hanya ingin berendam saja. Bayangan tentang bagaimana kepergian Juwita mendoktrin Errando bahwa Alena juga tengah melakukan hal yang sama tadi, sehingga membuatnya menjadi seperti itu.


"Oke aku minta maaf jika memang aku salah, hanya saja jika kamu ingin berendam setidaknya jangan ikut memasukkan kepala mu seperti itu, orang lain yang melihatnya pasti akan mengira jika kau hendak bunuh diri tadi Al!" ucap Errando kemudian dengan nada yang terdengar frustasi.


Sedangkan Alena yang mendengar perkataan dari Errando barusan tentu saja terkejut bukan main, bagaimana bisa Errando malah menyalahkannya ketika Errando sendiri lah yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi tanpa permisi sebelumnya dan langsung membuat keributan.


"Kau menyalah kan ku atas semua ini? Lagi pula siapa yang akan masuk ke dalam kamar mandi ketika ada orang di dalamnya jika bukan dirimu? Di rumah ini bahkan hanya ada aku dan juga kamu, menurut mu siapa yang akan masuk dan membuat keributan? Bik Surti? Pikir pakai otak Er jangan hanya menggunakan emosi semata!" ucap Alena dengan nada yang kesal dan tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Errando.


Errando yang kembali mendengar luapan emosi dari Alena pada akhirnya hanya bis menghela nafasnya dengan panjang, kemudian bangkit dari posisinya dan berlalu pergi dari sana meninggalkan Alena seorang diri di kamar mandi dengan perasaan kesal dan juga hancur karena kelakuan Errando kepadanya.


Alena menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang apapun, pikirannya kini bahkan tidak lagi memikirkan tentang rasa malu ketika harus bertelanjang bulat di hadapan Errando, lagi pula meski saat ini Alena menyembunyikannya Errando sudah melihat bahkan menikmati seluruhnya, lalu apa lagi yang harus Alena tutupi dari Errando?


Alena mengarahkan rambutnya ke arah belakang dengan kasar kemudian perlahan-lahan bangkit dari posisinya melangkahkan kakinya hendak mengambil handuk kimono yang biasa tergantung tepat di area sudut kamar mandi. Alena yang baru saja hendak mengambil handuk di sana, lantas terlihat terdiam di tempatnya karena ternyata Alena lupa untuk membawa handuk sebelum pada akhirnya masuk ke dalam kamar mandi tadi. Alena menundukkan kepala dengan kesal kemudian kembali menangis dengan tersedu-sedu yang kali ini disebabkan karena dirinya yang tidak membawa handuk.


"Mengapa semua tidak ada yang berjalan sesuai dengan kehendak ku? Bukan hanya rumah tangga saja namun juga segala hal, apakah nasib ku seburuk ini?" ucap Alena pada diri sendiri bertanya-tanya tentang nasibnya.


Disaat Alena tengah menangisi nasibnya yang begitu malang, sebuah benda hangat terasa membalut tubuhnya dari arah belakang, membuat Alena yang merasakan hal tersebut lantas terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang melakukan hal tersebut kepadanya.


"Lain kali kalau mau mandi jangan lupa untuk membawa handuk juga, ingat itu!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alena tertegun ketika mendengarnya.


Bersambung