
"Apa maksud Papa mencabut semua kerjasama dengan keluarga Alena Pa?" ucap Errando dengan nada yang kesal karena Arga malah mencabut segala kerjasama antar keluarga begitu saja tanpa berunding dengannya terlebih dahulu.
Arga yang sedang sibuk melihat layar iPadnya, mendengar perkataan putranya yang tiba-tiba itu membuat Arga lantas langsung menghentikan aktifitasnya. Dengan tatapan yang santai Arga nampak bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya di sofa dan mengambil posisi duduk di sana.
"Itu adalah konsekuensi yang harus diterima ketika sebuah ikatan terputus secara sepihak, Papa hanya tidak suka dengan cara mendidik keluarga Hermawan yang terkesan begitu arogan dan tidak mencerminkan kesopanan sama sekali." ucap Arga dengan nada yang santai.
Mendengar penjelasan dari Arga barusan bukannya mendapat sesuatu malah semakin menambah kekesalannya. Errando bahkan masih menyelidiki alasan dibalik Alena yang meminta cerai dengan tiba-tiba, namun Arga malah memutusnya begitu saja tanpa berunding dahulu ataupun paling tidak memberikannya pemberitahuan sebelum bertindak.
"Harusnya Papa konfirmasi dulu dong, bagaimana bisa Papa seenaknya seperti ini?" ucap Errando melayangkan protes kepada Arga.
Arga yang mendapat jawaban seperti itu dari Errando tentu saja sedikit kebingungan dan merasa aneh akan tingkah Errando saat ini. Bukankah harusnya Errando bahagia ketika Arga memutus semua kerjasama keluarga yang telah terjalin selama bertahun-tahun lamanya, hitung-hitung sebagai bentuk balasan untuk keluarga Hermawan karena telah bertindak seenaknya. Arga kemudian terlihat bangkit dari posisi duduknya dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Errando. Ditatapnya raut wajah Errando yang terlihat begitu kesal tersebut, membuat Arga lantas menghela napasnya panjang begitu mengetahui bahwa Errando sepertinya tidak rela berpisah dari Alena.
"Lupakan dia Er, Papa akan mencarikan mu yang lebih baik lagi darinya." ucap Arga kemudian membuat Errando semakin geram ketika mendengar ucapan dari Arga barusan.
"Papa itu tidak tahu apapun... Jadi jangan selalu memutuskannya secara sepihak seperti ini." ucap Errando kemudian setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Arga begitu saja.
Errando sudah tidak bisa lagi berunding dengan Arga karena Arga pasti tidak akan mengerti walau ia sudah mencoba untuk menjelaskan kepada Arga sedari tadi. Dengan langkah kaki yang kesal Errando melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Valentino berusaha untuk menjernihkan kepalanya yang saat ini terasa begitu panas. Berada di rumah ini sama sekali tidak meredakan emosi Errando malah semakin dibuat geram karenanya.
**
Sementara itu Silvi yang baru saja datang dari Supermarket untuk belanja bulanan, ketika berpapasan dengan Errando di pintu utama Silvi yang hendak menanyai kabar Errando malah memperoleh kekecewaan, dimana Errando hanya melewatinya saja dengan raut wajah yang kesal tanpa menyapanya sama sekali. Membuat Silvi yang melihat tingkah Errando barusan tentu saja langsung berbalik badan dan menatap ke arah kepergian Errando yang sudah berlalu pergi dari sana.
"Er kamu mau kemana?" teriak Silvi.
Namun sayangnya Errando sama sekali tidak mendengarnya dan malah melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan kediaman Valentino. Silvi terdiam ditempatnya, sikap Errando kali ini benar-benar baru terjadi pertama kali dalam hidupnya, membuat Silvi yang menerima hal tersebut lantas sedikit terkejut sekaligus penasaran akan tingkah Errando yang seperti itu.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada Errando?" ucap Silvi dalam hati bertanya-tanya sambil menatap ke arah halaman utama dimana mobil Errando tidak lagi terlihat di sana.
***
Bandara
"Mari nona, pesawat anda akan berangkat lima belas menit lagi." ucap Riki dengan nada yang lirih mengingatkan Alena.
Mendengar perkataan Riki barusan membuat Alena lantas terdiam sejenak, Alena benar-benar tidak ingin pergi dari negara ini tapi kehendak Hermawan tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Setetes air mata menetes dan membasahi telapak tangan Alena saat ini, membuat Riki yang melihat hal tersebut hanya bisa diam tidak berani mengatakan sepatah kata apapun lebih lanjut lagi.
Alena mengusap air matanya dengan kasar kemudian mendongakkan kepalanya menatap ke arah Riki dengan tatapan yang intens, membuat Riki yang ditatap seperti itu lantas menjadi bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Alena kepadanya.
"Apa kamu mau menolong ku kali ini Rik?" tanya Alena dengan nada yang lirih seakan memohon dengan sangat kepada Riki.
Riki yang mendengar permohonan Alena tentu saja langsung dibuat bimbang, keputusan seperti ini tidak lah bisa di putuskan Riki dengan spontan. Butuh waktu bagi Riki untuk mengambil keputusan akan permintaan dari Alena barusan karena jika tidak maka nyawanya pasti akan melayang di tangan Hermawan ketika ia mengetahuinya.
"Tapi tuan pasti akan marah nona, apa anda yakin?" ucap Riki mencoba untuk berunding dengan Alena dan menimbang resiko yang akan keduanya terima ketika melakukan hal ini.
Alena menghela napasnya dengan panjang ketika mendapat jawaban dari Riki barusan. Hingga ketika hati Alena terus mengatakan agar tetap melakukannya, membuat Alena pada akhirnya memilih untuk mengiyakan pertanyaan dari Riki seakan mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika Riki mau bekerja sama dengannya.
"Kali ini saja percayalah kepada ku, ku mohon..." ucap Alena lagi mencoba untuk kembali meyakinkan Riki agar mau menolongnya.
***
Sementara itu di sebuah taman kota yang terletak di daerah pinggiran Ibukota. Terlihat Errando tengah duduk termenung di atas mobilnya dengan tatapan yang kosong ke arah depan. Ditatapnya sungai buatan yang terletak tepat di taman kota tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Errando benar-benar sudah tidak tahu lagi harus mengambil langkah seperti apa disaat-saat seperti ini.
Pikiran Errando saat ini benar-benar kacau dan tidak lagi beraturan, sambil mengusap rambutnya dengan kasar Errando terlihat menatap ke arah langit malam saat itu yang sama sekali tidak ada bintang bertebaran di atas sana, seakan mengetahui bahwa hati Errando kini juga tengah mengalami kekosongan. Disaat Errando tengah memikirkan segala hal yang terjadi kepadanya, sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan segala hal yang hingga saat ini berada memenuhi kepalanya.
Errando yang melihat nama Rama tertera dengan jelas pada layar ponsel miliknya lantas langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Tuan, sebuah pemberitahuan keberangkatan pesawat menuju ke Prancis terdapat nama Alena di sana. Apa yang harus saya lakukan?" ucap Rama memberikan laporan kepada Errando tentang informasi yang baru saja ia dapatkan.
Bersambung