
"Apa yang kau lakukan!" ucap Steven dengan kesal sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit karena pukulan Errando yang tiba tiba.
Sedangkan Errando yang baru saja melayangkan pukulan sama sekali tidak merasa bersalah dan malah menatap tajam ke arah Steven, membuat Steven semakin kebingungan akan tingkah dari Errando saat ini.
"Kau... jaga matamu itu atau aku congkel kedua bola matamu hingga keluar dan tidak bisa lagi melihat dunia!" teriak Errando sambil sempoyongan tidak bisa berdiri dengan tegak.
Mendengar ocehan dari Errando barusan, membuat Steven dan juga Alena terdiam seketika. Steven tentu saja langsung berdecak dengan kesal ketika mendapat peringatan tersebut, Steven benar benar tidak menyangka bahwa Errando tahu isi kepalanya saat ini.
"Benar benar kampret si Ando, sudah mabuk saja masih menyebalkan!" ucap Steven dalam hati yang mengetahui dengan benar apa yang tengah Errando lakukan saat ini.
Sedangkan Alena yang tidak tahu apa apa, hanya bisa menatap Errando dan juga Steven dengan raut wajah yang bingung secara bergantian.
"Ada apa ini Steve? apa sesuatu terjadi kepada Errando?" tanya Alena dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku tidak tahu, dia mabuk dan tiba tiba berubah menjadi seperti itu..." ucap Steven ketika mendengar pertanyaan dari Alena barusan.
Errando yang tak puas hanya memarahi Steven saja, lantas berbalik badan dan menatap ke arah Alena sekilas dengan tatapan yang tajam karena Alena malah mengajak Steven mengobrol bukannya masuk dan segera berganti pakaian, dengan perlahan dan sempoyongan Errando kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah Steven dan langsung menyuruhnya keluar dari mansion miliknya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Ada apa ini? bukankah kamu terlalu ndo?" ucap Steven dengan raut wajah yang kebingungan karena tingkah Errando yang terus mendorongnya agar keluar dari mansionnya.
Steven yang di dorong benar benar tidak bisa lagi berbuat apa apa dan hanya bisa mengikuti arah dorongan Errando hingga keluar dari ruang tamu, walau Errando kini tengah dalam keadaan mabuk ternyata instingnya masih kuat dan tahu akan isi pikiran Steven yang sedari tadi menatap kagum kepada Alena seakan akan menginginkan Alena.
Setelah berusaha susah payah mendorong Steven keluar dengan tubuh yang geloyoran, tanpa memperdulikan teriakan Steven yang terus menggema Errando malah menutup pintunya dengan keras yang lantas membuat Alena terkejut ketika mendengarnya.
Alena yang melihat tingkah laku Errando hanya terdiam dan memperhatikan segala gerak geriknya, Errando bahkan kini tengah menatap Alena dengan tatapan yang tidak suka sambil terus menunjuk ke arah tubuh Alena, membuat Alena benar benar kebingungan akan tingkah laku Errando yang sama sekali membuatnya tidak mengerti.
"Kau... kau harusnya menjaga pakaian mu... apa kau tidak malu berpakaian seperti itu..." ucap Errando dengan nada yang bergumam sambil terus melangkahkan kakinya dan pada akhirnya jatuh dalam posisi tengkurap dan tidak lagi bergerak.
Bruk...
Melihat Errando terjatuh dengan spontan Alena langsung bergerak mendekat ke arah Errando dan mengecek keadaannya, hingga Alena yang masih belum menyadari pakaian apa yang ia gunakan, ketika bergerak dengan terburu buru handuk yang membalut rambutnya perlahan lahan jatuh dan menutupi wajahnya, membuat Alena yang baru saja mengambil posisi jongkok langsung terkejut seketika.
"Sial... memalukan!" pekik Alena ketika dengan spontan menatap ke arah bawah dan melihat pakaian apa yang ia kenakan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu Er... tapi yang jelas aku akan mengembalikan sosok Errando yang hangat seperti dulu, jangan halangi aku Er... biarkan aku melakukannya." ucap Alena dengan lirih sambil membenarkan rambut Errando yang terlihat berantakan itu.
***
Kamar
Butuh perjuangan yang keras bagi Alena untuk memapah tubuh besar Errando, terlebih lagi ketika menaiki tangga Alena bahkan hampir berkali kali jatuh karena tubuh Errando yang terus sempoyongan dan bergerak. Namun karena usaha yang keras dan pantang menyerah, membuat Alena berhasil membawa Errando naik walau dengan peluh keringat yang membasahi tubuhnya padahal Alena baru selesai mandi.
"Ah.... akhirnya sampai juga..." ucap Alena sambil menidurkan tubuh Errando di atas ranjang.
Errando yang masih memejamkan matanya, sama sekali tidak bergerak ataupun protes ketika Alena melepas sepatu dan juga kaus kaki Errando satu persatu. Dengan telaten Alena membenarkan posisi Errando agar ia lebih nyaman ketika tidur. Ditatapnya Errando dengan pandangan yang menelisik dan berhenti pada kemeja Errando yang begitu menyengat khas bau alkohol.
"Apa boleh aku mengganti kemejanya? bagaimana kalau dia marah? tapi... bukankah aku istrinya? mengganti pakaian suami bukankah hal yang wajar?" ucap Alena pada diri sendiri sambil berpikir keras keputusan apa yang akan ia ambil.
Alena terdiam di tempatnya dan nampak berpikir dengan keras, bagaimanapun juga kemeja Errando sudah kotor, jika Alena tidak menggantinya pasti Errando tidak akan enak tidur dengan baju seperti itu.
Alena yang sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan, kemudian lantas perlahan lahan membuka satu persatu kancing kemeja Errando, hanya saja tepat ketika kancing ketiga terlepas sebuah tangan kekar tiba tiba saja menghentikan gerakan tangan Alena, yang lantas membuat Alena terdiam seketika di saat tahu tangan tersebut adalah milik Errando.
"Jangan memancingku Len... jangan meruntuhkan dinding yang telah aku bangun dengan kokoh!" ucap Errando dengan mata yang masih terpejam.
Alena yang mendengar gumaman Errando barusan hanya bisa terdiam sambil menahan gejolak hatinya yang terasa pilu ketika mendengar kata kata yang keluar dari mulut Errando barusan. Gerakan tangannya benar benar berhenti di tempatnya, apa yang di katakan oleh Errando barusan benar benar membuat hati Alena terluka.
Alena yang mulai sadar akan tempatnya lantas bangkit dari posisinya kemudian menatap Errando dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, di usapnya satu air mata yang jatuh membasahi pipinya kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Errando tanpa meneruskan kembali tindakannya tadi.
Bruk
Suara pintu yang tertutup dengan kasar membuat Errando langsung membuka kelopak matanya dengan spontan. Dengan kepala yang terasa berputar, Errando mulai bangkit dari tidurnya. Ditatapnya pintu kamar dengan tatapan yang sendu, walau mabuk namun kesadaran Errando tidaklah hilang sepenuhnya, Errando masih sadar akan segala hal yang terjadi kepadanya namun karena Steven yang membuat kacau segalanya, lantas membuat Errando malah berakting mabuk dan membiarkan Alena membawanya hingga naik ke atas.
"Setidaknya itu lebih baik!" ucap Errando dengan singkat kemudian kembali membaringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya yang terasa begitu berat karena efek minuman beralkohol tersebut.
Bersambung