
Di sebuah museum Galaksi bima sakti yang masih terletak di Ibukota terlihat Alena, Riki dan juga Aksa tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam museum tersebut. Aksa nampak sangat bahagia karena akhirnya ia bisa melihat susunan tata surya dari mulai planet, bintang, komet hingga beberapa hal lainnya yang berhubungan dengan tata surya. Ketiganya kemudian melangkahkan kakinya secara perlahan menyusuri satu persatu area yang menyuguhkan betapa indahnya keindahan yang terdapat di langit.
Aksa yang memang menyukai beberapa hal yang berhubungan dengan tata surya begitu melihat sebuah simulasi pergerakan planet lantas langsung berlarian mendekat ke arah titik ruangan tersebut.
"Hati-hati Aksa jangan lari!" ucap Alena yang melihat kepergian putranya barusan.
"Tentu Mom..." ucapnya dengan senyuman yang lebar.
Setelah mengatakan hal tersebut Aksa lantas melangkahkan kakinya menuju ke titik spot yang hendak ia didatangi. Sedangkan Alena dan juga Riki hanya melangkahkan kakinya mengikuti arah langkah kaki Aksa dan mengawasinya. Alena dan Riki menghentikan langkah kakinya tepat di area yang tidak jauh dari spot yang di datangi oleh Aksa saat ini. Keheningan terjadi diantara keduanya ketika Alena dan juga Riki sama-sama sedang mengawasi Aksa saat ini.
Alena yang tahu bahwa Riki telah berubah pikiran lantas langsung melirik sekilas ke arah Riki beberapa kali, membuat Riki yang sadar akan lirikan tersebut lantas langsung menoleh ke arah Alena.
"Apa ada sesuatu yang ingin Nona sampaikan?" tanya Riki kemudian dengan raut wajah yang pemasaran.
Mendengar perkataan dari Riki barusan lantas membuat Alena langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Mengapa kamu berubah pikiran?" tanya Alena pada akhirnya.
Sebenarnya sejak keberangkatan ketiganya kemari Alena sudah dilanda penasaran yang begitu memuncak. Alena yang tidak tahu mengapa Riki mendadak merubah pemikirannya, lantas hanya bisa menunggu Riki sampai menceritakan segalanya karena Riki adalah tipe seseorang yang irit dalam bicara jadi agak sulit untuk mengorek informasi dari seorang Riki.
Riki yang mendapat pertanyaan tersebut dari Alena, lantas tidak menjawabnya secara langsung. Riki nampak terdiam sejenak memikirkan alasan mengapa ia berubah pikiran pagi ini padahal jelas-jelas semalam Riki benar-benar yakin akan mengakhirinya hari ini juga namun setelah kedatangan Aksa dan melihat wajah mungilnya itu, membuat Riki mendadak menjadi luluh dan tidak ingin berpisah dengan Aksa. Walau sebenarnya Riki sama sekali tidak berhak apapun atas diri Aksa, namun tetap saja ada perasaan takut kehilangan dalam dirinya mengingat keduanya sudah terlanjur dekat walau tanpa hubungan darah sekalipun.
"Aku menyayanginya Nona, meski itu tidak pantas namun entah mengapa aku begitu tidak tega mengatakannya dan mengakhiri semuanya, apa yang harus aku jelaskan kepada Aksa jika ia tahu ternyata aku bukanlah Ayah kandungnya?" ucap Riki dengan nada yang sendu sambil menatap ke arah Aksa yang kini tengah bermain dengan wajah yang gembira di sana.
"Meski semuanya telah berakhir, kamu tetap boleh menemui Aksa Rik, tak perlu sampai bersedih seperti itu aku tetap akan mengizinkanmu untuk bertemu dengan Aksa." ucap Alena mencoba untuk mengerti karena ia yakin meninggalkan Aksa sangatlah berat bagi Riki mengingat kedekatan keduanya sudah seperti seorang Ayah dan anak yang sesungguhnya.
Sedangkan Riki yang mendengar perkataan dari Alena barusan lantas dengan spontan menoleh ke arah Alena, apapun yang dikatakan oleh Alena tetap saja Riki merasa ia benar-benar tidak sanggup untuk kehilangan Aksa saat ini.
"Tentu hal itu tidaklah sama Nona apalagi ketika Aksa mengetahui bahwa Errando adalah Ayah biologisnya. Apakah saya boleh untuk sedikit bertindak egois Nona?" ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang sendu menatap ke arah dimana Aksa berada saat ini.
Melihat Alena hanya terdiam di tempatnya sambil terus berpikir dan berpikir, membuat Riki lantas langsung tersenyum dengan seketika. Riki kemudian terlihat melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di hadapan Alena saat ini.
"Tidak perlu dianggap serius Nona aku hanya bercanda, lagi pula aku tahu tempat ku jadi anda tidak perlu mencemaskannya." ucap Riki sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya menyusul Aksa yang saat ini tengah bermain.
Sedangkan Alena yang melihat kepergian Riki baru saja lantas terlihat mematung di tempatnya, sebuah perkataan yang keluar dari mulut Riki benar-benar terasa dari hati yang paling dalam. Saat ini bahkan Alena merasa bahwa ia telah menjadi orang yang paling jahat di dunia ini karena memanfaatkan seseorang hingga membuatnya terluka seperti ini.
"Semua ini memang salah ku, akulah yang pantas untuk di salahkan saat ini." ucap Alena sambil menatap kepergian Riki.
***
Sementara itu di mansionnya, terlihat Errando tengah bersantai sambil menikmati kopi di taman samping rumahnya. Meski lukanya belum pulih sepenuhnya tapi apa yang terjadi kepadanya belakangan ini terus saja mengusik pikirannya hingga membuat Errando tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Helaan napas terdengar menggema dari mulut Errando ketika mengingat semua dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sampai kemudian sebuah suara yang tak asing terdengar di pendengarannya lantas membuat Errando menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Tuan..." panggil sebuah suara yang sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah Rama.
"Apa yang terjadi Ram?" tanya Errando kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah dimana Rama berada membuat Rama langsung mendekat ke arah Errando untuk memberikannya sebuah informasi.
"Ini tentang Riki suami Alena tuan dimana beberapa hari yang lalu ia diangkat sebagai Presdir di perusahaan dan dapat dipastikan bahwa ia yang akan memimpin HR Company untuk ikut tender minggu depan." ucap Rama memberikan informasi yang baru saja ia dapatkan atau mungkin telat ia dapatkan lebih tepatnya.
Errando yang mendengar informasi dari Rama barusan lantas tersenyum dengan tipis, apa yang dikatakan oleh Rama barusan Errando audah menduganya dari awal.
"Lagi pula apalagi yang diharapkan seseorang sepertinya selain hanya kedudukan dan juga harta yang bisa ia dapatkan secara instan?" ucap Errando dengan nada yang sinis.
Bersambung