
"Kenapa? Apa kakak juga akan melenyapkan ku seperti kak Alex yang melenyapkan kak Juwita satu tahun yang lalu?" ucap Errando lagi.
"Kau..." ucap Alex sambil menatap tajam ke arah Errando karena ucapan Errando sudah kian merembet sampai kemana-mana.
Fatur yang melihat situasi tidak lagi terkondisi, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana keduanya berada dan langsung memberikan masing masing satu map berisi dokumen untuk keduanya pelajari.
"Maaf sebelumnya, di dalam map ini terdapat beberapa dokumen yang berisi permintaan dari klien yang wajib ditambahkan dalam proyek pembangunan hotel berbintang, terdapat beberapa material yang juga diinginkan klien yang mungkin kita bisa langsung membahasnya bersama karena memang itu adalah tujuan kita mengadakan rapat kali ini." ucap Fatur panjang kali lebar.
Errando yang mendengar Fatur asisten Alex menjelaskan segalanya lantas mulai berdecak, membuat Alex dan juga Fatur lantas saling pandang selama sekilas kemudian menatap ke arah Errando dengan raut wajah yang penasaran.
"Aku tidak mau ikut dalam pembahasan ini, lagipula semua sudah ku serahkan kepada perusahaan kalian. Sebagai perusahaan besar tentu aku tidak mau rugi dan juga membuang waktu ku begitu saja, bukan?" ucap Errando sambil mendudukkan bokongnya ke sofa dengan santainya.
Sedangkan Alex yang sudah kian kesal akan tingkah arogan dari Errando, berniat untuk bangkit dan hendak menghajarnya jika saja Fatur tidak mencoba untuk meredam dirinya.
"Anda memang benar akan hal itu, hanya saja ada beberapa permintaan khusus dari klien dimana mereka menginginkan anda juga terlibat dalam pembangunan kali ini, bukankah anda sudah mengatakan kepada pak Ferdian untu menjamin segalanya berjalan dengan lancar?" ucap Fatur dengan nada yang santai namun mampu membuat Errando terdiam seketika.
Errando bahkan sudah lupa pernah mengatakan hal tersebut ketika memperebutkan tender saat ini. Hingga pada akhirnya Errando terpaksa menerima opsi dan juga penjelasan dari Fatur, meski Errando sama sekali tidak menginginkannya.
"Baiklah... baiklah.. aku akan mengikuti prosedurnya." ucap Errando pada akhirnya memilih untuk mengalah dan mulai membuka dokumen yang diberikan oleh Fatur tadi.
Fatur yang mendengar jawaban pasrah dari Errando pada akhirnya bisa bernafas dengan lega dan memulai pembahasan ini dengan lancar tanpa adanya perselisihan lagi diantara keduanya, meski hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan karena baik Errando maupun Alex selalu ada saja hal yang mereka lakukan dan pada akhirnya memancing perselisihan kembali diantara keduanya.
"Ah sudahlah, setidaknya aku sudah berusaha!" ucap Fatur dalam hati sambil menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang mulai lelah.
***
Kamar mandi
Dari arah bilik kamar mandi terlihat Fatur tengah melangkahkan kakinya keluar menuju ke arah wastafel untuk mencuci tangannya setelah menyelesaikan panggilan alamnya.
Disaat Fatur tengah asyik mencuci tangannya, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat Fatur langsung mendongak menatap ke arah kaca dihadapannya untuk memastikan pemilik suara tersebut lewat kaca wastafel dihadapannya.
"Bukankah kau terlalu ikut campur dalam urusan keduanya?" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Rama.
Melihat suara tersebut berasal dari Rama, membuat Fatur lantas berbalik badan dan menatap ke arah Rama dengan tatapan yang bertanya.
"Apa maksud ucapan mu sebenarnya?" tanya Fatur yang masih belum terlalu paham akan arah pembicaraan dari Rama.
Rama yang melihat wajah polos Fatur, lantas terlihat tersenyum dengan sinis kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Fatur berada dan menatapnya dengan tatapan yang tajam, membuat Fatur lantas mengernyit dengan bingung akan tingkah dari Rama kepadanya.
"Kau itu tidak tahu apapun, jika kau memperingati ku untuk tidak ikut campur maka seharunya kau juga tidak perlu terlalu masuk ke dalam cerita mereka, mengingat kau hanyalah bawahan dari tuan Errando dan bukan siapa-siapanya!" ucap Fatur yang mulai mengerti akan maksud dari pembicaraan yang sedari tadi Rama ucapkan.
Sambil mengibaskan jas bagian atas milik Rama, Fatur kemudian menepuk pundak Rama beberapa kali kemudian berlalu pergi dari sana. Namun ketika langkah kakinya sampai di ambang pintu Fatur lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap ke arah di mana Rama berada.
"Sesuatu yang terjadi diantara tuan Errando dan juga pak Alex memang bukanlah urusan ku, tapi kau seharusnya juga tidak perlu terlalu terjun dan masuk ke dalamnya seperti yang kau lakukan saat ini. Btw terima kasih untuk jasnya karena jas mu benar-benar berguna disaat aku kehabisan tisu." ucap Fatur dengan senyum yang mengembang kemudian berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Rama yang mendengar kata-kata dari Fatur barusan, lantas dengan spontan menatap ke arah kaca wastafel dan langsung disuguhkan dengan pemandangan jasnya yang nampak basah pada area yang dipegang oleh Fatur tadi.
"Dasar jorok! Benar-benar menyebalkan!" ucap Rama dengan anda yang kesal sambil berusaha membersihkan setelan jasnya.
***
Malam harinya
Errando terlihat memasuki rumah sambil sesekali memijat tengkuknya yang terasa pegal. Dengan langkah kaki yang sedikit lambat Errando terus membawa kakinya hendak menuju ke lantai atas. Hanya saja ketika melihat seseorang yang tidak asing di pandangannya sedang berada di dapur, Errando lantas langsung menghentikan langkah kakinya.
"Tumben gak pulang Bik?" ucap Errando ketika melihat Surti tengah sibuk menyiapkan makanan.
Sedangkan Surti yang mendengar suara Errando, lantas langsung berbalik badan sambil membawa sepiring nasi goreng dan juga coklat hangat kesukaan Errando.
"Iya setelah ini saya pulang tuan muda, apakah tuan muda mau langsung makan atau bersih-bersih dulu?" tanya Surti sambil mulai menata piring yang ia bawa ke atas meja makan.
"Sepertinya langsung saja Bik, soalnya saya sudah lelah setelah ini mau langsung tidur." ucap Errando sambil menaruh tas kerjanya di sofa kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan sambil sedikit melonggarkan dasi yang mengikat lehernya.
**
Setelah Surti selesai menyajikan masakannya, Errando kemudian langsung mendudukkan bokongnya di kursi meja makan dan memulai menyendok nasi goreng tersebut.
Suapan demi suapan mulai masuk ke dalam mulut Errando. Hanya saja entah mengapa terasa ada yang berbeda dari masakan yang kali ini ia makan. Errando menatap ke arah nasi goreng yang ada dihadapannya sekilas sambil mencoba berpikir apa yang salah dari nasi goreng tersebut.
"Apakah Bibi mencoba resep baru? Mengapa rasanya berbeda dari biasanya?" tanya Errando sambil menatap ke arah Surti dengan raut wajah yang penasaran.
"Em anu tuan..."
Bersambung