
Alena yang terkejut akan panggilan Nona yang berasal dari mulut Riki, lantas membuat Alena terus menarik tangan Riki menuju ke arah bawah mencari tempat sepi agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan keduanya. Alena menatap ke arah sekeliling mencoba mengamati suasana, hingga ketika Alena merasa suasananya sepi dan tidak lagi ada siapapun. Barulah Alena menghentikan langkah kakinya dan melepaskan genggaman tangannya pada Riki.
"Sudah ku bilang beberapa kali untuk tidak memanggil Nona, apa kamu ingin semuanya terbongkar?" ucap Alena dengan nada penuh penekanan berusaha untuk membuat Riki paham akan hal ini.
"Nona maksud ku Vi ini semua salah... Sudah seharusnya kita mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga anda, saya benar-benar tidak bisa melakukan hal ini." ucap Riki yang seakan sudah mulai lelah untuk berakting lagi.
Alena yang mendengar perkataan dari Riki barusan lantas mengusap rambutnya dengan kasar, apa yang Riki katakan sebenarnya Alena juga ingin melakukannya. Hanya saja situasinya saat ini belum memungkinkan untuk dirinya membuka segala hal yang telah ia rahasiakan selama ini. Mengingat semua orang sudah terlanjur percaya akan permainan ini sehingga membuat Alena semakin susah dan juga bingung untuk mengakhirinya.
"Papa kondisinya masih belum stabil, bersabarlah sebentar... Jika nanti Papa sudah sehat aku janji akan mengakhiri segalanya." ucap Alena dengan nada yang memohon berharap Riki bisa mengerti kondisinya.
Mendengar permintaan Alena barusan membuat Riki lantas menghela napasnya dengan panjang. Bagaimanapun juga semua ini merupakan sebuah kesalahan, tidak sepatutnya Riki yang notabennya adalah seorang bawahan membohongi bosnya sendiri. Riki mengusap wajahnya sekali dengan kasar kemudian menatap ke arah Alena yang saat ini masih menatapnya dengan nada yang memohon.
"Tapi Nona janji em maaf... Maksud ku bisakah kamu memastikannya? Karena aku benar-benar tidak bisa membohongi pak Hermawan, jika sampai keluarga kamu tahu aku bisa di kuliti hidup-hidup." ucap Riki sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya.
"Tak perlu mengkhawatirkan hal itu karena aku bisa menjaminnya, lagi pula..." ucap Alena hendak kembali memberikan pengertian kepada Riki namun sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar menggema dan memekakkan telinganya.
"Mommy Mommy.... Mommy....." panggil Aksa berulang kali yang membuat pembicaraan keduanya lantas terhenti seketika.
Mendengar panggilan dari Aksa barusan membuat Alena lantas menghela napasnya dengan panjang. Alena kemudian lantas memegang lengan Riki dengan lembut kemudian tersenyum seakan mengatakan bahwa tidak akan ada yang terjadi selama Riki mampu menjaga rahasianya.
"Aku ke bawah dulu ya... Jangan khawatir dan cukup nikmati saja." ucap Alena sambil tersenyum dengan cantik membuat Riki langsung menelan salivanya dengan kasar begitu melihat senyuman tersebut.
Setelah mengatakan hal tersebut kepada Riki, Alena kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekati arah sumber suara dimana Aksa terdengar masih terus memanggilnya sedari tadi. Sedangkan Riki yang masih terpaku akan senyuman Alena malah tetap terdiam di tempatnya sambil menatap lurus ke arah depan seperti orang yang bodoh. Sampai kemudian sebuah suara yang sama sekali tidak ingin Riki dengar mendadak membuyarkan lamunannya tepat setelah kepergian Alena dari hadapannya barusan.
"Sejak kapan kau menyembunyikannya?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Riki langsung berbalik badan menatap ke arah sumber suara.
Melihat pemilik suara tersebut berasal dari Alex kakak Alena, lantas membuat Riki menjadi was-was karena takut Alex telah mendengar semua percakapannya dengan Alena tadi sebelum kepergian Alena dari sini. Riki yang tidak tahu akan maksud dari pertanyaan Alex barusan menjadi terdiam seketika seakan sedang berusaha untuk menyiapkan jawaban yang pas dan tentu saja masuk ke dalam pertanyaan dari Alex barusan.
"Ayolah adik ipar jangan terlalu kaku, bukankah kita sekarang keluarga?" ucap Alex kemudian dengan senyum yang mengembang membuat Riki lantas menjadi semakin bingung akan sikap Alex yang seperti ini.
"Jangan seperti ini tuan muda, saya tetaplah Riki seorang asisten Nona muda di rumah ini." ucap Riki dengan nada yang tidak enak karena merasa telah membohongi keluarga ini semakin dalam.
Mendengar perkataan dari Riki barusan membuat Alex lantas melepas tangannya dari bahu Riki kemudian menatap Riki sambil bersendekap dada, membuat Riki kembali menjadi salah tingkah ketika mendapat tatapan tersebut dari Alex.
"Oh ya benar juga ya? Apa tujuanmu mendekati adikku untuk menjadi bos di rumah ini?" ucap Alex kemudian dengan nada yang datar membuat Riki semakin dibuat tidak mengerti sekaligus terkejut ketika mendengar perkataan dari Alex barusan.
Riki yang mendengar tuduhan dari Alex barusan tentu saja terkejut bukan main hingga membuat matanya melotot menatap tak percaya ke arah Alex. Apapun itu alasannya tapi Riki sungguh tidak pernah berniat untuk merebut kekuasaan ataupun menjadi bagian dari keluarga ini, tujuannya bekerja dengan Hermawan sungguh benar-benar tulus untuk mengabdi dan juga bekerja. Bukan karena ingin menjadi bos ataupun mendekati anak dari bos tempatnya bekerja.
"Saya... Saya..." ucap Riki bingung hendak menjelaskannya seperti apa agar Alex percaya dan tidak berpikir yang tidak-tidak terhadap Riki.
Alex yang melihat gelagat Riki semakin terasa aneh baginya, lantas langsung tersenyum dengan senyuman yang menyeringai. Apa yang ada di pikiran Alex sebelumnya semakin terasa menguat disaat ia melihat respon dari Riki ketika Alex sengaja memancingnya dengan beberapa kata-kata umpan yang memiliki arti ambigu. Melihat hal tersebut, sambil tersenyum dengan dibuat-buat Alex kemudian lantas menepuk pundak Riki dengan perlahan membuat Rik langsung mendongak menatap ke arahnya dengan tetapan yang bertanya.
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu? Aku hanya bercanda, mengapa kamu terlalu berlebihan? Tertawa lah ini hal yang lucu bukan? Hahaha..." ucap Alex kemudian dengan tawa yang menggema memenuhi ruangan tersebut membuat raut wajah Riki semakin pucat pasti ketika mendengar hal tersebut.
"Benarkah tuan muda? Hahaha.... Tapi saya sungguh tidak bermaksud untuk ke arah situ tuan muda..." ucap Riki kemudian mencoba untuk ikut tertawa akan lelucon yang dibuat oleh Alex barusan meskipun hal itu malah jatuhnya terdengar garing dan aneh.
"Tak apa tak apa... Lagi pula sekarang kamu sudah menjadi adik ipar ku jadi biar aku yang akan meminta Papa untuk memberikan 10 persen saham perusahaan kepadamu, hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan dari keluarga kami." ucap Alex dengan santainya.
"Apa tuan?"
Bersambung