
Maya ikut bergabung dan duduk di samping Rangga tetapi dia tak memakan apapun.
" kenapa diam saja.. ? makanlah " Rangga mengajak.
" ah.. yaaa.. aku belum lapar kok kau duluan saja nanti aku menyusul.. "
" heeeemmmm.. yah.. baiklah " ucap Rangga.
Rangga terus memakan makanannya sedangkan Maya melihatnya sambil tersenyum- senyum.
Di sisi lain Lord terus menatap tajam Maya, tapi Maya sendiri malah selalu menghindar dan tidak berani menatap balik Lord.
Lama kelamaan Maya benar- benar merasa tidak nyaman.
" eemm.. bisakah kau tidak melihatku seperti itu.. ?? apa ada yang salah dariku.. ? " Maya gugup.
" apa kau tidak suka.. ?? " ucap Lord.
" iya.. it..itu sangat menakutkan " ucap Maya grogi.
" kau takut dengan mataku.. ?? " tanya Lord.
Maya mengangguk perlahan Lord menyipitkan matanya.
" kalau begitu kau boleh pergi dari sini.. " ucap Lord tegas.
Maya kaget mendengar ucapan Lord, lalu seakan waktu berhenti sejenak.
" ah.. sudah- sudah kalian tidak harus bertengkar " Rangga memecahkan suasana.
Maya hanya menunduk.
" ooh ya Maya dimana bobbi.. ?? " Rangga bertanya.
" hah.. bobbi.. ?! " Maya bingung.
" iya " ucap Rangga.
Maya berfikir keras.
" bobbi.. anjing kecilmu apa kau lupa ?? " ucap Rangga.
" o Iyah, dia.. dia tadi lagi bermain di taman " ucap Maya gugup.
Rangga menaikan sebelah alisnya, dia merasa aneh padahal kemarin Maya tidak mau meninggalkan bobbi walau hanya sebentar.
Mereka melanjutkan makan dan setelah selesai.
" eemm.. Maya ayo kita main ke hutan " ajak Rangga.
" ohhh ayo.. " ucap Maya senang.
" kau juga ikut yaa pak tua " ajak Rangga.
Lord mengangguk.
...****************...
Mereka berjalan ke dalam hutan, Maya berjalan di belakang Rangga dan mencoba menghindari Lord yang berjalan jauh di belakang mereka.
Maya menengok ke belakang dan dia tidak melihat Lord, jelas dia berfikir jika jarak mereka benar- benar jauh itu membuatnya lega.
" eh Maya apa kau lihat itu..? bukankah itu sa.... " bicara Rangga terpotong.
" yaaaahhhh...!!!! " Rangga berteriak kencang hingga dia reflek melompat menjauh sangking kagetnya.
Maya tiba- tiba menggenggam ekor Rangga, itu membuat Rangga sangat kaget..!
" Maya.. ! apa yang kau lakukan ?!! "
" hehe maaf kau kaget ya...? "
" jangan menyentuhku sembarangan..! "
Muka rangga memerah, karena sebenarnya Rangga tidak suka jika ekornya di pegang.
Melihat itu justru Maya terlihat senang, dia langsung mendekati Rangga.
" kau tidak harus semarah ini.. "
Rangga diam saja tidak mau menanggapi Maya sedangkan Maya menatap Rangga dalam.
" Rangga.. " suaranya pelan sambil Maya menjijikkan kakinya dan memejamkan matanya.
" ak.. " Rangga gugup dan diam terpaku.
" ayolah.... aku tidak bisa menciummu jika kau sangat tinggi "
" ke.. kenapa dari tadi kau ingin sekali mencium ku " muka Rangga merona karna malu.
Maya menurunkan kakinya.
" hah.. memangnya kenapa.. ?! tidak boleh.. !! " suara menyentak.
" tap.. tapi.. "
Maya mengerutkan keningnya lalu dengan paksa menarik kerah baju Rangga, jika Maya tidak bisa menggapainya karna dia lebih tinggi maka Rangga yang harus menunduk.
Kuping kucing dan ekor Rangga langsung berdiri, mata Rangga melotot karena kaget, tidak pernah Maya sekalipun berbuat seperti ini meminta ciuman dari Rangga secara paksa.
Rangga benar- benar sudah muak, dia langsung mendorong keras Maya.
" aaakh " Maya tersungkur ke tanah.
" menjijikan.. " Rangga mengusap bibirnya dengan tangannya.
Ekspresi Rangga tiba- tiba berubah, dia terlihat sangat marah dan mengerutkan keningnya.
" hei pak tua aku rasa ini sudah cukup jauh, aku benar- benar sudah muak sekarang.. "
Lord tiba- tiba muncul dari belakang, mukanya suram dan menatap tajam Maya.
" yah.. lakukan sesukamu.. " ucap Lord.
Maya sangat takut mereka berdua yang tiba-tiba berubah seperti monster yang akan membunuhnya, badannya bergetar hebat.
" ap.. apa yang mau kalian lakukan.. ?? " Maya takut dan perlahan mundur ke belakang.
Rangga menggertak kan lehernya dan menatap tajam Maya seakan dia siap untuk menghancurkan Maya, dia perlahan berjalan mendekat.
" tidak.. jangan.. ku mohon jangan.. " rasa takut yang luar biasa melihat hewan buas yang mendekatinya.