The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
8


Setelah berbincang cukup lama, Xavier pamit kepada mereka karena ingin pergi bekerja. Ia pun kembali menatap Jessie lama saat ingin pergi dari ruang tamu dan Alexa yang melihat itu langsung mengomeli ayahnya. Ia takut Jessie menjadi tidak nyaman dan tidak ingin datang kerumahnya lagi. Jujur Jessie juga merupakan teman pertama Alexa. Pekerjaan ayahnya membuatnya takut untuk berteman.


"Jadi... Aku harus memanggil Ryan dengan sebutan apa? Om?" Tanya Alexa kepada Jessie dan Ryan. Ryan hanya terdiam seperti biasa dan Jessie berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak tertawa dan hanya menunjukkan wajah datarnya.


"Anda bisa memanggil menggunakan nama saja tanpa perlu embel-embel." Ucap Ryan membuka suara. Alexa hanya mengangguk.


"Kau tidak perlu terlalu formal." Ucap Alexa. Ryan hanya mengangguk.


Alexa lalu menarik Jessie untuk pergi ke kamarnya. Ryan hanya bisa mengikuti kedua gadis itu dari belakang. Alexa membawa Jessie ke kamarnya. Jessie terpana melihat kamar Alexa. Kamarnya berwarna putih semua. Mulai dari cat bahkan hingga ke perabotannya. Tetapi kamar itu tetap terlihat sangat elegan.


Alexa langsung duduk di karpet bulu yang sangat tebal. Bulunya sangat lembut dan hangat. Bahkan Jessie tidak masalah jika harus tidur di karpet itu. Jessie berasal dari orang tua yang kaya juga. Namun Alex tidak ingin memanjakan anaknya.


Alexa langsung mengambil cemilan yang berada di atas meja riasnya. Lalu Ia membuka dan menawarkannya ke Jessie dan Ryan. Ryan menolaknya sedangkan Jessie langsung mengambil cemilan itu lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


Alexa dan Jessie pun melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh para gadis. Seperti spa dan bergossip. Bahkan mereka juga memakaikan masker ke muka Ryan. Ryan hanya diam dan pasrah diperlakukan seperti itu.


"Jessie kau mau makan siang? Kita bisa keluar dan mencari makan." Ucap Alexa dengan antusias. Jessie langsung menatap Ryan. Ryan mengangguk yang berarti dia mengijinkan. Jessie langsung mengangguk dengan semangat. Mereka pun langsung pergi keluar kamar namun tidak jadi karena ucapan Ryan.


Mereka pun langsung pergi keluar dan makan siang di salah satu restoran dekat rumah Alexa.


🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️


Xavier ternyata tidak pergi ke tempat kerjanya melainkan ke sebuah markas rahasia. Pekerjaannya sebagai ketua mafia memang sudah diturunkan dari kakeknya. Ia sedikit merasa bersalah karena pekerjaannya itulah yang membuat Alexa harus pintar-pintar dalam memilih teman.


Ia pun teringat akan Jessie. Mukanya sangat mengingatkannya pada sesosok wanita yang dulu pernah dicintainya sebelum ayahnya menjodohkannya dengan ibu Alexa. Namun sayang Ibu Alexa meninggal sesudah melahirkan anaknya. Walaupun Xavier tidak mempunyai rasa cinta terhadap istrinya namun Ia sangat sayang kepada anaknya. Ia rela memberikan segalanya untuk Alexa. Bahkan Ia sangat senang ketika mendengar putrinya memiliki seorang teman. Namun kenapa harus Jessie. Dia menjadi pusing memikirkan hal-hal yang banyak terjadi dalam waktu yang sangat singkat.


Ia pun langsung mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya. Lalu Ia menghisap rokok tersebut. Ia melihat didepannya ada 5 orang pengkhianat dan 1 orang mata-mata. Mereka hampir saja lolos jika saja rencana mereka cukup matang dan cukup pintar.


Xavier pun memikirkan berbagai rencana untuk memberi pelajaran untuk mereka. Tentu saja di siksa terlebih dahulu baru di bunuh. Namun karena Ia masih pusing, Xavier langsung menyerahkan 6 orang itu kepada anak buahnya saja. Terserah mau mereka apakan yang penting tidak langsung dibunuh.


Xavier menyuruh salah satu anak buah mereka untuk mengambilkannya segelas alkohol. Saat sampai, Ia langsung meneguk alkohol itu sambil mendengarkan jeritan-jeritan dari para 6 orang yang sedang tersiksa itu.


Ketika mau dibunuh Xavier langsung menghentikan anak buahnya dan langsung meminta pistol kepada salah satu anak buahnya disana. Tanpa pikir panjang langsung terdengar suara tembakkan. Dan keenam orang itu langsung mati dengan peluru yang bersarang di kepala mereka. Xavier sangat menikmati pemandangan ini sebelum akhirnya Ia kembali ke meja dan meminum air mineral yang sudah disediakan lalu pergi ke kantornya untuk bekerja.