The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
10


Hari ini hari libur, Jessie terbiasa bangun siang disaat-saat seperti ini. Tapi sepertinya hari ini tidak bisa. Tiba-tiba Ryan masuk dan langsung membuka gorden dan jendela kamarnya. Jessie yang kesal langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Ryan. Ryan langsung menghindari lemparan Jessie dan alhasil bantalnya terlempar ke luar jendela dan jatuh di genangan air. Ryan yang melihat itu langsung menghela nafasnya.


"Ryan mana bantal ku?" Ucap Jessie. Ia masih setengah tertidur. Ryan masih melihat ke arah bantal itu.


"Kau lempar keluar dan terkena genangan." Ucap Ryan santai. Jessie langsung terbangun dan berlari ke arah jendela. Ia melihat bantalnya itu sudah basah dan kotor.


"Kenapa kau tidak menangkapnya?" Ucap Jessie yang kesal. Ryan hanya terdiam. Jessie langsung berjalan keluar kamar.


"Kau mau kemana?" Tanya Ryan. Ia melihat Jessie yang keluar kamar dengan menggunakan piyamanya saja. "Aku akan tidur di kamar Daddy dan mengadu padanya." Ucap Jessie. Ia pun berjalan masuk ke kamar Alex. Ryan hanya menunggu di luar kamar. Ryan bisa mendengar semua aduan Jessie.


"Dad, Ryan membangunkan ku di pagi hari. Ini hari libur dad. Dan dia membuat bantal ku harus terjun bebas dari lantai 2 dan terkena genangan." Adu Jessie kepada Alex yang masih bisa didengar oleh Ryan. Ryan yang mendengar itu hanya mendengus dan tersenyum.


Tiba-tiba Alex membuka pintu kamarnya dan Ryan langsung menghilangkan senyumannya. Alex menatap Ryan dengan senyumannya sedangkan Jessie dibelakangnya hanya menunjukkan wajah datarnya.


"Biarkan saja dia tidur dan mengenai bantal suruh pelayan saja untuk mengambil dan mencucinya." Ucap Alex. Mendengar itu Ryan langsung mengangguk.


"Aku sudah tidak mengantuk. Terima kasih Ryan." Ucap Jessie. Ryan yang tampaknya tidak menangkap sindiran Jessie itu hanya mengangguk. Jessie hanya memutar bola matanya lalu berjalan ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju.


"Jangan membantah." Ucap Alex santai. Jessie langsung kembali berjalan ke kamarnya. Ketika Ryan ingin masuk, pintu sudah terlebih dahulu di tutup oleh Jessie.


Ryan hanya menghela nafas lalu berjalan ke arah Alex dan duduk disampingnya. Ryan benar-benar tidak tahu apakah Ia bisa meluluhkan hati Jessie atau tidak. Ia tidak ingin kehilangan Jessie.


"Apakah aku bisa meluluhkan hati Jessie?" Tanya Ryan kepada Alex. "Tentu saja. Kau lah cinta pertamanya. Jessie hanya tidak ingin mengakuinya." Ucap Alex sambil terkekeh pelan. Ryan terdiam mendengar ucapan Alex. Ia tidak mempercayainya. Berarti, Ryan bisa dengan mudah mendekati Jessie.Sesaat kemudian, Jessie keluar dengan rambutnya yang masih sedikit basah.


"Kau tidak mau pergi?" Tanya Jessie kepada Ryan. "Rambutmu masih basah. Keringkan terlebih dahulu. Nanti kau masuk angin." Ucap Ryan. Jessie kembali ke kamarnya diikuti oleh Ryan.


Jessie langsung duduk di meja riasnya dan langsung menyalakan hairdryer. Ia langsung mengeringkan rambutnya sambil sesekali menyisir rambutnya. Ryan hanya melihat Jessie mengeringkan rambutnya. Jessie terlihat sangat cantik. Ia langsung menghilangkan pikiran itu dan langsung kembali fokus.


"Ok aku selesai, kita mau kemana?" Tanya Jessie. "Kau mau kemana?" Tanya Ryan balik. "Entahlah, taman saja." Ucap Jessie. Ryan hanya mengangguk dan mengikuti kemauan Jessie.Mereka langsung keluar rumah dan pergi ke taman.


"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di taman." Ucap Jessie. "Kau bisa bermain atau membeli makanan dan minuman. Banyak yang bisa kau lakukan." Ucap Ryan sambil menyetir. Bagi Jessie ide Ryan tidak ada yang menyenangkan. Ia lebih suka di rumah belajar atau bermain handphone. Atau mungkin dia bisa bermain di rumah Alexa.


"Setelah dari taman apakah kita bisa ke kantormu?" Tanya Jessie. Ryan terdiam untuk berpikir sebentar lalu mengangguk. Senyum langsung mengembang di wajah Jessie. Ryan yang melihat senyuman itu ikutan tersenyum.