The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
40


"Ryan, kapan kau bangun? Kau tidur kan?" Tanya Jessie saat melihat Ryan sudah berdiri disampingnya mengenakan setelan yang biasa Ia pakai. Ryan hanya mengangguk sambil menatap kearah Jessie.


"Ryan, aku ingin bolos kuliah." Ucap Jessie. Ryan menaikkan satu alisnya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mau mengeluarkan sepatah katapun? Kau sakit?" Tanya Jessie. Ia kemudian bangkit dari tidurnya dan langsung ditahan oleh Ryan.


"Kau tahu kalau kau bergerak seperti tadi selimutnya akan turun dan mengekspos badanmu yang tidak tertutupi oleh sehelai benang?" Tanya Ryan sambil memalingkan wajahnya. Ia sudah berusaha sangat keras untuk menahan hasratnya. Tetapi wajah Jessie yang baru bangun tidur sangat menggodanya.


Bukannya berhenti, Jessie malah mencoba untuk duduk walaupun sudah ditahan oleh Ryan. Namun akhirnya Jessie menyerah juga. Ia memilih untuk tiduran di kasur. Badannya terasa remuk karena permainan panas mereka semalam.


"Ry, aku lelah karena semalam. Badanku sakit semua. Jadi aku tidak ingin masuk kuliah sehingga bisa beristirahat." Ucap Jessie.


"Tidak boleh. Kau tunggu disini dan aku akan mengambil bathrobe untukmu." Ucap Ryan lalu pergi ke kamar mandi. Jessie menghela napasnya. Ia bahkan tidak yakin bisa berjalan dengan normal atau tidak dan Ia yakin kalau lehernya penuh dengan bercak kemerahan.


"Ry, kalau aku kuliah nanti semua orang akan melihat tanda ini." Ucap Jessie sambil menunjuk lehernya.


"Kau tinggal tutupi saja dengan make up." Ucap Ryan sambil memberikan bathrobe kepada Jessie. Ryan kemudian membalikkan badannya sehingga Jessie bisa memakai bathrobe. Saat ingin berdiri, Jessie terjatuh kembali ke kasur.


"Aku tidak bisa berjalan Ry. Berdiri saja aku tidak bisa. Ada apa denganmu semalam? Pertama kali kita melakukannya tidak sesakit ini."


"Maafkan aku. Jika sakit tidak perlu dipaksakan. Kau libur saja hari ini." Ucap Ryan. Jessie kembali tidur di kasur dengan menggunakan bathrobe.


"Setidaknya kau harus mandi." Ucap Ryan. Jessie kemudian merentangkan tangannya meminta Ryan untuk menggendongnya. Ryan kemudian menggendong Jessie menuju kamar mandi. Saat ingin berjalan ke kamar mandi, Jessie dan Ryan mendengar ada suara di luar kamar mereka.


"Yang ini kamarnya."


Kemudian pintu kamar Jessie terbuka. Alexa yang melihat pemandangan di depannya terpaku diam. Ia melihat Jessie yang hanya menggunakan bathrobe sedang digendong oleh Ryan. Ia juga melihat bercak kemerahan di leher Jessie.


"Ada apa? Kenapa kau mematung seperti itu?" Tanya Kenneth. Ia melihat apa yang dilihat Alexa. Seringai muncul di wajahnya.


"Pak tua tidak sabar menjadi seorang ayah heh?" Tanya Kenneth. Alexa yang tersadar hanya terkekeh pelan. Wajah Jessie sudah merah padam. Ryan bahkan tidak berniat untuk menurunkannya setelah ketahuan oleh Alexa.


"Ryan, turunkan aku." Ucap Jessie. Ryan kemudian menurunkan Jessie. Kemudian,Jessie berjalan kearah kamar mandi meninggalkan Ryan sendirian. Ia tidak peduli dengan jalannya yang pincang.


"Jessie tidak masuk kuliah hari ini."


"Ya, kita mengerti kenapa." Ucap Kenneth dengan senyum yang mengejek. "Kau yakin tidak ingin membantu Jessie untuk mandi?"


"AKU AKAN MASUK KULIAH." Teriak Jessie dari kamar mandi. Ryan kemudian berjalan kearah lemari lalu mengambil baju untuk Jessie dan menggantungnya di pintu kamar mandi.


"Kau mau menceritakan apa yang terjadi semalam pak tua? Sepertinya ceritamu akan sangat menarik."


"Diam kau bocah."


"Kalian tidak bosan bercanda terus hah? Ry, jika kau masih mau adu mulut silahkan keluar bersama Kenneth." Ucap Jessie yang baru selesai mandi. Jessie kemudian duduk di meja rias. Ia melepas handuk yang Ia lilitkan di kepalanya dan mulai mengeringkannya. Ia juga memakai make up di lehernya untuk menutupi kissmark.


"Kita sarapan dulu. Aku sudah memasak sarapan." Ucap Ryan lalu berjalan keluar diikuti oleh Kenneth.


"Ry, kau tidak benar-benar adu mulut bukan? Apa yang terjadi disini? Kenapa makanan tumpah semua?"


"Pak tua menumpahkan semua makanannya dan menyuruhku untuk membantunya untuk membersihkan semua ini."


Jessie menghela napas mendengar ucapan Kenneth. Ia berjalan kearah dapur untuk mengambil lap tambahan untuk membantu Ryan dan Kenneth. Alexa hanya berdiri disana sambil tertawa. Ia tidak percaya jika Ryan seceroboh itu hingga bisa menumpahkan makanan. Selesai membereskan makanan, mereka memutuskan untuk makan di kampus daripada memasak ulang dan membuang-buang waktu.


...***...


Di kampus, mereka menjadi pusat perhatian lagi. Tapi kali ini mereka membicarakan hubungan Ryan dan Jessie. Jessie senang bahwa Ryan sudah menceritakan hal yang terjadi sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.


"Aku takut anak kalian mempunyai ayah yang berengsek." Ucap Kenneth. Ryan mengepalkan tangannya mendengar Kenneth.


"Kenneth diam. Kau tidak tahu apa yang terjadi." Ucap Jessie. Kenneth diam dan menunjukkan senyum manisnya.


"Hi Jessie. Kau tahu kalau Ryan kemarin pergi ke cafe untuk menemuiku? Dia juga menciumku saat mau pergi." Ucap Michelle. Ia berjalan kearah Ryan untuk memeluknya namun Ryan menghindari pelukan Michelle dan menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Ya ampun. Murahan sekali kau. Menjebak pacarku untuk menghancurkan hubunganku. Kekurangan pelanggan pria heh? Kasian sekali." Ucap Jessie. Semua orang yang ada disana berbalik menggosipkan Michelle.


"Terserah kau mau ngomong apa. Yang penting aku tahu kau adalah anak seorang pembunuh."


********************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Alexa Kellan



Kenneth Santana



Michelle Ziudith



Besok up lagi gak nih?