
Suara khas DJ yang berisik dan bau alkohol yang menyengat, dimana lagi kalau bukan club malam? Tempat seorang gadis berusia 17 tahun hangout bersama teman-temannya dan mencoba untuk mencari kesenangan. Bukan hal yang aneh lagi bagi Jessie untuk selalu datang ke club tersebut. Hampir semua orang disana sudah mengenalnya.
Sekarang Ia berada di tengah ruangan, meliukkan badannya dan menjadi pusat perhatian bagi para pria bermata keranjang. Jessie sudah menolak beberapa pria yang ingin mengajaknya menari dengan alasan tidak tertarik. Ia hari ini datang ke club hanya untuk merayakan kelulusannya dari sekolah SMA yang menurutnya sangat membosankan.
Di lain tempat, seorang pria sedang duduk di bar dengan segelas minuman alkohol di tangannya. Matanya tertuju pada lantai dansa. Ia melihat orang-orang begitu bahagia menari di sana. Terutama seorang gadis yang menari diantara orang-orang. Gadis itu sangat menarik perhatian. Fokus sang pria terpecah saat bartender mendatanginya.
"Datangi saja Jessie, dia selalu menolak pria tapi aku yakin dia tidak akan menolak mu," ucap sang bartender.
"Aku tidak tertarik dengan kisah percintaan."
"Tidak ada yang orang yang mencari cinta di club malam," balas bartender yang diakhiri dengan tawaan.
Ryan tersenyum. Ia menaruh gelas alkoholnya lalu meninggalkan uang di atas meja. Ia berjalan menuju lantai dansa dan menghampiri Jessie.
Suasana menjadi mendukung, Jessie dan Ryan saling bertatapan. Jessie menghentikan narinya saat melihat Ryan berjalan kearahnya. Jessie tidak pernah melihat pria setampannya di club ini. Jessie yang awalnya tidak ingin mencari pria menjadi tertarik.
"Siapa namamu?" tanya Jessie sambil mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Ia menghirup aroma parfum yang memabukkan baginya. Jessie mengikis jarak diantara mereka.
"Ryan."
Jessie tersenyum lalu mulai membalikkan badan dan menari. Ryan melingkarkan tangannya di pinggang Jessie. Ia sesekali mencium leher Jessie yang dibalas dengan ******* kecil gadis itu. Jessie yang suka dengan perlakuan Ryan semakin bergerak liar dihadapan Ryan.
Keadaan semakin memanas, Ryan membalikkan badan Jessie dan langsung mencium bibir Jessie. Ciuman panas dan liar tersebut berlangsung selama beberapa saat hingga Jessie melepaskam ciuman mereka.
"Aku harus pergi, daddy-ku sepertinya sudah khawatir. Good bye Ryan," ucap Jessie lalu meninggalkan Ryan ditengah lantai dansa sendirian.
Ryan terdiam melihat Jessie yang pergi menjauh. Ia merasa tertolak dengan tingkah Jessie yang tiba-tiba pergi. Akan tetapi Ia kepikiran dengan ucapan Jessie. Daddy-nya khawatir. Apakah Ryan baru saja mencium gadis dibawah umur? Ryan menghela napas kasar lalu kembali ke bar untuk memesan alkohol lagi.
***
Jessie yang sekarang berada di kamarnya terus terngiang-ngiang dengan kejadian di club. Itu ciuman pertamanya dan diambil oleh orang yang baru Ia temui di club. Itu bukan hal yang Ia inginkan tentunya. Alasan Jessie meninggalkan Ryan adalah karena Ia takut akan melakukan sesuatu di luar batas.
"Jessie, kau sudah tidur?" tanya Alex, Daddy-nya.
"Belum dad, sebentar lagi aku akan tertidur," balas Jessie. Tidak ada balasan lagi dari daddy-nya yang menandakan Alex sudah pergi.
Jessie memutuskan untuk menghirup udara segar dari balkonnya saja supaya bisa menenangkan dirinya. Saat dia ingin membuka pintu, Jessie sudah terlebih dahulu teriak hingga membuat Alex mendobrak masuk ke kamarnya.
"Ada apa Jessie?" tanya Alex dengan nada panik. Saat Ia melihat apa yang terjadi fi balkon putrinya, Ia mengepalkan tangan dengan erat.
Terdapat tulisan ancaman 'kau sebentar lagi akan mati!' yang ditulis oleh darah dan dikelilingi oleh bangkai tikus. Pintu balkon Jessie terbuat dari kaca yang tebal oleh karena itu Jessie tidak menyadari adanya bau busuk yang berasal dari bangkai.
"Siapa itu Q?" tanya Jessie saat melihat tulisan Q yang berada di bawah kalimat ancaman tersebut.
Jessie mengangguk dan segera meninggalkan Daddy-nya yang sedang memanggil anak buahnya untuk membersihkan kekacauan yang dibuat dengan musuhnya. Ini bukan kali pertama Ia mengalami hal seperti ini. Menjadi anak perempuan satu-satunya dari pemilik perusahaan teknologi terbesar membuat Jessie harus mengalami teror dari saingan Daddy-nya.
Setidaknya sekarang Jessie bisa melupakan kejadian di club tadi dan bisa tidur di kasur empuk milik Alex. Ia selalu suka berada di kamar Alex karena Ia sedari kecil sering tidur disana. Jessie tidak terlalu memikirkan teror tadi dan lebih memilih untuk langsung tertidur.
***
2 Minggu Kemudian...
Dua minggu berlalu dan Jessie masih tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Ia mulai bosan karena biasanya dia akan pergi ke club malam. Jessie sudah berusaha negosiasi tapi Alex tidak merubah keputusannya. Alhasil selama dua minggu Jessie berusaha mencari kesibukan dengan cara apapun.
Pagi ini, Jessie bangun sedikit kesiangan sehingga sarapan sendiri. Ia duduk sambil memainkan handphonenya dan menunggu pelayan membawakan sarapannya. Ia membuka kulkas dan mengambil susu karton lalu menuangkannya ke dalam gelas.
"Sepertinya Ia sudah terbangun."
Jessie mendengar Alex sedang berbicara dengan orang lain. Jessie berdoa jika Alex sudah mendapatkan orang untuk menjaganya. Jessie segera kembali ke meja makan dan menunggu Alex datang.
"Ini dia putriku. Saya harap kau bisa menjaganya dengan baik."
Jessie yang melihat orang yang akan menjaga dirinya langsung membuatkan matanya. Ia tidak pernah dengan kalimat bahwa dunia itu sempit tapi sekarang Ia mempercayainya. Jessie sampai menjatuhkan handphone yang Ia pegang sebelumnya.
"Ada apa Jessie?"
"Tidak dad, aku tidak menyangka kau akan menemukan orang yang akan menjagaku secepat ini.
Alex menatap Jessie dengan tatapan aneh tapi membiarkan anaknya. Ia berpamitan dengan Jessie karena harus pergi bekerja. Sekarang di ruang makan itu hanya ada Jessie dan Ryan. Suasana hening dan canggung menyelimuti mereka. Namun, Jessie berusaha membuang rasa canggung tersebut.
"Maafkan aku atas kejadian yang pernah terjadi," ucap Jessie.
"Anda tidak salah apa-apa, justru saya yang sudah lancang mencium anda," jawab Ryan.
Jawaban Ryan membuat Jessie tertawa kencang. "Jangan berbicara formal kepadaku. Kita pernah bertemu sebelumnya. Jangan khawatir, Ry. Aku tidak akan pernah membahasnya di depan daddy. Aku sangat ingin melanjutkan apa yang pernah terjadi sejujurnya.
"Saya harap kita tidak pernah membahas hal ini lagi," ucap Ryan yang disusul dengan tawaan Jessie.
*****
HAI SEMUANYAA!!!
AKHIRNYA AKU BALIK LAGI!!!. KANGEN AKU NGGA??? Kayaknya sih ngga ya WKWK. Ini bukan cerita baru tapi adalah plot baru dari Ryan dan Jessie. Lebih suka yang lama atau yang baru nih?? Konfliknya juga beda banget jadi jangan dibandingin sama yang lama. Kalau kalian mau tau kelanjutannya aku udh lanjutin di lapak oren (taulah ya)
KOMEN YANG BANYAK YAAA