
"Ryan, kumohon bertahanlah." Ucap Jessie sambil menangis.
Mereka sedang melarikan Ryan ke rumah sakit secara cepat. Xavier dan Alexa duduk didepan sementara Jessie duduk dibelakang bersama Ryan yang ditidurkan. Jessie mengusap pipi Ryan. Ia tidak mau kehilangan pria yang sangat Ia cintai. Sudah dua kali Ryan harus tertembak karena dirinya.
"Jessie, sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Alexa berusaha menenangkan Jessie. Jessie mengangguk lalu Ia berkali-kali mencium kening Ryan. Memintanya untuk bertahan.
Saat sampai di rumah sakit, Ryan dan Jessie langsung dibawa oleh suster untuk langsung dioperasi. Xavier dan Alexa menunggu diruang tunggu. Mereka juga menunggu kedatangan Alex yang sedang dalam perjalanan. Bryan tidak bisa datang karena Ia sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
Beberapa saat kemudian, Alex datang disaat yang bersamaan dengan selesainya operasi Jessie. Mereka memutuskan untuk melihat keadaan Jessie terlebih dahulu.
"Maafkan daddy. Daddy tahu kalau selama ini apa yang daddy lakukan itu salah. Kau harus cepat bangun dan menunggu Ryan." Ucap Alex.
Dokter berkata bahwa tidak lama lagi Jessie akan terbangun. Selagi menunggu gadis itu terbangun, Xavier memutuskan untuk bicara empat mata dengan Alex. Mereka keluar ruangan dan meninggalkan Alexa sendiri untuk menjaga Jessie.
"Aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Harusnya aku memberitahumu sejak pertama makan malam pertama kita bersama anak-anak."
"Sudahlah, kau mau memberitahukannya saat itu juga aku tidak akan percaya karena aku belum pernah bertemu denganmu walaupun kita tidak akur. Aku juga minta maaf karena tidak tahu kalau dia adalah kekasihmu saat itu. Aku tidak akan memaksa Jessie untuk ikut denganku. Ia sudah besar dan mempunyai kekasih yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suaminya."
Alex hanya tersenyum tipis lalu memeluk Xavier sebagai tanda perdamaian. Mereka kemudian membicarakan hal-hal seputar kehidupan gelap mereka dan bisnis tentunya. Mungkin mereka akan mengadakan kerjasama jika bisa.
"Kenapa kalian lama sekali diluar? Masuklah, Jessie sudah sadar. Bahkan kalian tidak menyadari bukan kalau daritadi dokter dan suster masuk untuk mengecek keadaannya?"
Alex dan Xavier sama-sama terkekeh pelan lalu masuk kedalam kamar Jessie. Jessie saat melihat Alex langsung memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Alex sedih. Namun Ia sadar diri kalau semua ini terjadi karenanya.
"Jangan marah pada Alex. Ia juga sudah membesarkanmu." Ucap Xavier.
"Aku masih kecewa padanya."
"Setidaknya maafkan dia."
Jessie kemudian menatap Alex lalu merentangkan tangannya. Alex langsung memeluk Jessie sambil meminta maaf kepada Jessie. Jessie, menepuk pundak Alex pelan.
"Aku memaafkanmu daddy. Jangan sedih. Kau selalu menjadi daddyku. Setidaknya kau sudah mengakui kesalahanmu." Ucap Jessie. Alex kemudian melepaskan pelukannya lalu mencium kedua pipi anaknya.
"Jadi seperti ini rasanya punya kakak. Apakah kau bisa kusuruh-suruh?" Tanya Alexa dengan senyum jahilnya. Jessie memutar matanya lalu mencari keberadaan Ryan.
"Apakah Ryan masih belum selesai dioperasi?"
Mereka bertiga menggeleng mendengar pertanyaan Jessie. Jessie menghela napas lesu lalu mencoba bangkit dari tidurnya. Xavier menahan anak itu.
"Aku hanya terluka kecil. Yang harusnya tidur disini adalah daddy Xav. Hanya dengan berganti baju kau sudah terlihat baik-baik saja."
Xavier tertawa pelan. Ia sudah biasa menerima luka seperti ini hingga tubuhnya mati rasa. Jadi Ia hanya mengobati lukanya dan mengganti baju. Xavier kemudian membiarkan Jessie berdiri lalu berjalan ke luar ruangan. Sepertinya kekebalan tubuhnya menurun pada Jessie. Lihat saja gadis itu, bilangnya baik-baik saja padahal jalannya pelan.
Selama satu jam menunggu, akhirnya Ryan selesai dioperasi. Ryan dibawa masuk ke ruangannya dan dokter memasangkan beberapa selang ke tubuhnya. Setelah selesai, dokter menjelaskan keadaan Ryan yang kritis.
"Ryan, cepatlah bangun." ucap Jessie. Ia terus duduk dan menemani Ryan. Berharap pria itu akan cepat terbangun walaupun lama.
"Ry, kau tahu? pertama kali kau menciumku saat kau kira aku sudah tertidur padahal kenyataannya belum. Untung saja kau tidak lihat mukaku yang memerah. Akan sangat memalukan jika kau waktu itu lihat." Jessie kemudian tertawa sendiri mengingat kejadian itu. Apakah Ryan akan tertawa jika mendengarnya? Mungkin pria itu justru akan mengejeknya.
Saat Jessie sedang bercerita sendiri, tiba-tiba badan Ryan mulai kejang-kejang. Jessie yang panik langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ryan. Jessie diminta untuk keluar ruangan. Jessie mulai menangis kembali. Ia memejamkan matanya dan berdoa kepada Tuhan supaya Ryan tidak meninggalkannya. Alex, Xavier, dan Alexa turut mendoakan Ryan.
Sayup-sayup terdengar suara suster dari ruangan Ryan. "Dok, pasien sudah tidak bernapas."
Saat detik itu juga, pengelihatan Jessie mulai menghitam hingga akhirnya dirinya pingsan. Suara terakhir yang Ia dengan adalah suara ketiga orang itu yang memanggil namanya dan juga memanggil suster untuk kembali membawanya ke kamar.
********************************************
UP TIGA KALI BERTURUT-TURUT NIH. IDE LAGI NGALIR DERES KAYAK AIR TERJUN😂.
Setelah ini chapter terakhir sih. Author bisa aja langsung nulis. Tapi nanti aja deh biar panjang dikit😂. Digantungin dulu aja bentar. Author kasih sedikit spoiler deh.
"Mommy, kenapa daddy tidak pernah pulang?"
Dah itu aja spoilernya. Selamat menunggu😚