The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
15


"Jadi sebenarnya kalian hampir jatuh?" Tanya Alexa memperjelas penjelasan Jessie dan Ryan. Mereka langsung mengangguk. Tetap saja Alexa tidak percaya. Tatapan mereka itu berbeda.


"Anggap saja aku percaya." Ucap Alexa sambil terkekeh. Jessie berdecak pelan. "Aku mau kau benar-benar percaya bukan hanya 'anggap'." Ucap Jessie. Ryan mengangguk menyetujui ucapan Jessie.


"Baiklah aku percaya." Ucap Alexa. Jessie langsung melemparinya dengan bantal yang sedang Ia peluk. "Kenapa kau melempar bantal ke arah ku?" Tanya Alexa yang kaget.


"Aku gak yakin kau percaya." Ucap Jessie. Ryan sudah bersiap untuk menenangkan Jessie karena Ia yakin sebentar lagi Jessie akan marah-marah. "Terus kau mau aku jawab bagaimana?" Tanya Alexa. "Sudahlah lupakan saja." Ucap Jessie.


Alexa hanya mengangkat bahunya. Ia lalu berjalan ke arah Ryan dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Ryan. Jessie yang melihat itu langsung berdecak kesal sambil menatap tajam ke arah Alexa.


"Lihatlah ada yang cemburu." Ucap Alexa sambil tersenyum mengejek ke arah Jessie. Ryan hanya diam dan melihat ke arah Jessie. Jessie yang ditatap oleh Ryan langsung memalingkan wajahnya. Alexa pun makin menjadi-jadi. Ia langsung duduk di pangkuan Ryan dan memegang kedua pipinya. Ryan tidak menolak. Entahlah, Ia hanya ingin melihat reaksi Jessie.


"Kau tidak melawan Ryan?" Ucap Jessie dengan nada rendah. "Jika bersamaku kau menjaga jarak tapi lihatlah sekarang." Lanjutnya.


Ryan yang mendengar itu langsung berusaha untung memindahkan Alexa. Jessie sudah benar-benar marah dan Ryan tidak ingin menghancurkan mood Jessie hari ini.


Alexa pun yang mulai merasakan hawa tidak enak langsung menyingkir dari pangkuan Ryan. Jessie yang melihat itu pun langsung kembali merubah raut wajahnya menjadi seperti biasa.


"Sudah-sudah jangan marah. Ryan punyamu kok. Aku tidak akan mengambilnya." Ucap Alexa sambil terkekeh pelan. "Hubungan kita hanya sebatas bodyguard dan nona." Ucap Ryan. Alexa langsung menggeleng dengan cepat. "Aku sangat-sangat tidak percaya. Kalian teman masa kecil dan aku yakin hubungan kalian lebih dari itu. Hubungan bodyguard dan nona hanyalah sebagai formalitas." Balas Alexa. Ryan dan Jessie hanya terdiam mendengar ucapan Alexa. Di satu sisi mereka memanglah hanya sebatas bodyguard dan nona namun di sisi lain kedekatan mereka sudah lebih dari itu.


"Sepertinya diamnya kalian artinya iya." Ucap Alexa. Ryan dan Jessie sontak menggeleng dengan bersamaan. Alexa yang melihat itu langsung tertawa dengan kencang.


"Sudah. Aku bosan ayo kita melakukan sesuatu yang seru." Ucap Jessie. Alexa pun berpikir apa yang bisa mereka lakukan. Ia langsung terpikirkan untuk bermain petak umpet.


"Bagaimana kalau bermain petak umpet?" Tanya Alexa. Jessie langsung menaikkan satu alisnya. Bukankah mereka sudah terlalu dewasa untuk bermain petak umpet?


"Ayo Ry... Hadap dinding lalu tunggulah selama 10 menit." Ucap Jessie sambil menyetel timer untuk 10 menit. Ia pun menarik Ryan ke dinding dan menyuruh Ryan untuk menghadap dinding. Ryan pun hanya bisa melakukan apa yang diminta seperti biasanya. Ia langsung menghadap dinding dan menunggu selama 10 menit. Ia bisa mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali. Karena Ryan tahu bahwa para gadis sudah diluar, Ia pun langsung berbalik badan dan melihat sekitar. Ia menghabiskan waktu 10 menitnya dengan merapihkan kamar Alexa yang berantakan.


******************************************


"Jessie ayo kita sembunyi disini." Ucap Alexa sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan. "Ruangan apa itu?" Tanya Jessie. "Gudang." Jawab Alexa. Jessie pun langsung masuk ke ruangan itu bersama Alexa. Saat masuk ruangan itu banyak benda-benda yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. Alexa dan Jessie langsung bersembunyi di tempat yang mereka pilih.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Jessie langsung merasa aneh karena sepertinya 10 menit belum terlewati. Jadi itu siapa? Jessie melihat ke arah Alexa yang memiliki raut wajah bingung yang sama seperti dirinya.


"Dimana kalian?" Tanya orang itu sambil mencari-cari keberadaan mereka. Ok, itu bukan suara Ryan. Jessie langsung melihat sekeliling untuk mencari barang yang bisa digunakan untuk menyerang orang itu. Jaga-jaga jika Ia menyerang duluan. Ia pun melihat ada tongkat baseball lalu mengambilnya. Alexa yang melihat itu ikut mencari barang yang bisa digunakan untuk memukul orang itu. Ia pun mengambil batangan besi yang berada di belakangnya.


"KETEMU." Ucap orang itu ketika menemukan keberadaan Jessie. Ia langsung berusaha untuk menarik paksa Jessie. Namun sayang, Jessie yang sudah siap langsung memukul kepala orang itu menggunakan tongkat baseball. Alexa juga langsung keluar dari persembunyiannya dan ikut memukul orang itu sampai pingsan. Setelah orang itu pingsan, Jessie langsung mengambil tali dan memberikannya kepada Alexa. Setelah mengikat orang itu, Jessie dan Alexa langsung berlari ke arah Ryan yang sedang mencari mereka.


"RYAN!! LIHATLAH APA YANG KITA TEMUKAN." Teriak Jessie sambil berlari ke arah Ryan. "Aku kira kita sedang bermain petak umpet." Ucap Ryan dengan muka bingung. "Ini lebih seru dari permainan ini Ry." Ucap Jessie sambil menarik Ryan ke arah gudang.


Saat di gudang Ryan langsung kaget melihat ada seorang pria dengan keadaan babak belur dan terikat di lantai. Orang itu juga sepertinya pingsan.


"Kapan kalian menemukan ini?" Tanya Ryan. Jessie langsung menggeleng. "Kita yang membuat orang itu menjadi seperti ini. Dia berpura-pura menjadi mu dan sepetinya ingin menculik kita. Lihatlah tanganku merah ditarik olehnya." Ucap Jessie lalu menunjukkan tangannya yang masih merah. Ryan lebih terkejut karena ulah 2 gadis ini daripada orang yang pingsan itu.


"Baiklah. Kita tunggu Daddy Alexa pulang lalu mengurus orang ini." Ucap Ryan. Ia pun menyenderkan orang itu di dinding gudang.


"Jadi aku menemukan kalian?" Tanya Ryan. Jessie dan Alexa langsung memandang masing-masing lalu tanpa aba-aba langsung berlari ke arah lain. Mereka lupa jika sedang bermain petak umpet.


"CARI KAMI RYAN." Teriak Jessie sambil berlari bersama Alexa. Ryan hanya terkekeh pelan dan langsung berusaha untuk mengejar mereka berdua.