
Ryan yang panik tidak bisa duduk dengan tenang. Sesekali, Ia berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit. Ia yang menyadari tangannya penuh darah kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Disana, Ia menemukan seorang pria yang sedang menangis. Ryan yang awalnya ingin mengabaikan pria tersebut tiba-tiba diajak bicara dengannya. Ryan tidak ingin menjadi pria yang tidak sopan apalagi meihat kalau pria itu sedang menangis. Ia tau perasaan pria itu sedang sangat hancur hingga menangis seperti itu.
"Apa yang terjadi?"
"Aku baru saja membuat kesalahan yang besar dan sekarang istri juga anakku sedang berjuang di ruang operasi."
Pria itu menepuk pundak Ryan sambil memberikan kata penyemangat untuknya. "Aku membuat kesalahan besar belasan tahun lalu hingga pacarku meninggal. Walaupun penyebabnya bukan karena aku tapi kata-kata terakhir yang dia dengar dariku adalah aku benci dengannya."
Ryan menatap wajah pria itu dengan seksama dan Ia menyadari suatu hal. Sepertinya, Ia kenal dengan pria itu. Apa karena dia pernah menjadi bodyguard dari orang itu? Atau Ia pernah melihatnya di suatu tempat? Wajah pria itu sangat tidak asing baginya.
"Apa kita saling menge-"
"Maaf, percakapan kita sampai sini saja. Anakku sudah siuman dan aku harus cepat menemuinya. Apapun yang terjadi beritahu saja ke istrimu kalau kau mencintainya. Jangan sampai kau mengalami apa yang aku alami."
\Ryan diam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan pria tersebut sebelum pergi. Setelah mencuci tangannya, Ia kembali menunggu di depan ruangan operasi sambil menunggu istrinya keluar. Ryan melihat pesan yang baru saja dikirimkan Alexa mengenai perempuan tadi. Ryan tidak tau kalau wanita itu adaah Michelle. Orang yang pernah membuli Jessie dan juga bekerjasama dengan orang dari masa lalu mereka.
"Mr. Rynville,"panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Mukanya terlihat datar sehingga Ryan tidak tau apakah dokter itu akan membawakan kabar yang baik atau buruk. Ryan menghampiri dokter operasinya alu segera menanyakan kabar istri juga anaknya yang belum lahir.
"Dok, bagaimana kabar istri dan anak saya? Mereka baik-baik saja bukan?"
"Pendarahan yang dialami istri anda terlalu parah." Sang dokter menjeda ucapannya menarik napas untuk memberitahukan sebuah kabar buruk yang langsung membuat Ryan lemas seketika itu juga.
"Keduanya tidak bisa diselamatkan."
***
Ryan berada di ruang mayat menangisi jasad istri juga anaknya yang bahkan belum lahir. Ryan sangat menyesal karena Ia belum sempat memberitahukan semua kejadiannya secara detail dan Jessie sudah terlanjur salah paham karena hal ini. Ryan menangis dengan sangat keras. Ia memikirkan nasib dari ketiga anaknya yang harus kehilangan sesosok ibu yang sangat mereka sayangi. Ia sangat kasihan dengan Earl. Ia baru saja berumur 3 tahun dan sudah mengalami semua ini.
Pintu ruangan dibuka dan terlihat Alexa datang dengan wajah yang merah sehabis menangis juga menahan amarah. Ia mendatangi Ryan dan langsung menamparnya berkali-kali. Ryan hanya diam dan menerima perlakuan Alexa yang terus menamparnya. Mengingat Alexa yang merupakan seorang anak mafia, hukuman ini sudah terlalu ringan untuknya.
"Dad, is mommy okay?"tanya Earl yang masuk mengikuti Alexa. Ia melihat Jessie tertidur diatas kasur dengan mata yang terpejam dan kulit yang pucat. Earl mengambil kursi yang berada di dekat sana untuk dibawa ke sebelah ranjang Jessie. Ia menaikki kursi itu alu mencium kening Jessie berkali-kali. Ia tersenyum karena mengira ibunya sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit.
"Mom, kau harus cepat sembuh supaya kita bisa bermain lagi. Right, dad?"
Ryan diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Earl. Anak itu menatapnya dengan tatapan polosnya yang membuat Ryan menjadi semakin bersalah. Ia bisa mendengar suara isakkan dari luar yang berasal dari suara kedua anaknya yang tidak berani masuk dan menemui ibunya.
"Kau puas dengan apa yang telah kau perbuat? Kau sekarang bisa bersatu dengan j*l*ngmu itu, tapi anak-anakmu ikut denganku. Aku tidak bisa membiarkan mereka bersama denganmu." Alexa berdecak kesal lalu menggendong Earl keluar dari ruang mayat. Earl menanyakan kenapa Ia harus keluar dari ruangan ibunya tetapi Alexa tidak menjawab pertanyaannya.
Sesaat setelah Alexa keluar, Xavier dan Alex masuk. Mereka langsung membuat Ryan babak belur. Mereka menonjok bahkan menendang Ryan karena sudah membuat putri mereka menjadi seperti ini. Ryan tetap diam walaupun semua badannya sudah sangat sakit. Ia bisa merasakan kalau ada beberapa tulangnya yang patah. Xavier berhenti lalu mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya dan langsung menusukannya ke dada Ryan.
"Pergilah ke neraka."
***
"Ry, ada apa denganmu? Apa kau sudah gila?"tanya Jessie yang sedang menggosok giginya. Walaupun tatapan istrinya tajam, Ryan tersenyum lega lalu memeluk istrinya dengan sangat erat. Jessie menepuk pundak Ryan karena Ia tidak bisa bernapas.
"Maafkan aku. Aku baru saja bermimpi buruk. Aku kehilangan dirimu." Ryan mulai menceritakan seluruh mimpinya kepada Jessie yang sambil menggosok giginya. Usai Ryan bercerita, Jessie tertawa kencang lalu mulai mengejeknya lalu memukulnya dengan keras di bagian lengannya. Ryan meringis kesakitan karena pukulan istrinya lalu terkekeh pelan.
"Kau tidak selingkuhkan?"
"Sudah kubilang itu hanya mimpi. Lagipula, Michelle sudah meninggal satu tahun yang lalu bukan?"ucap Ryan. Michelle meninggal karena bunuh diri. Wanita itu tidak bisa menahan semua orang yang mencemooh dirinya karena selalu bolak-balik masuk penjara. Mereka mendengar kabar ini dari Alexa tentunya.
"Kau bilang aku hamil di mimpimu?"tanya Jessie dan dibalas dengan anggukan kepala Ryan. Jessie masuk kembali ke kamar mandi dan mencoba testpack. Ia baru menyadari kalau Ia sudah tidak mendapatkan tamu bulanannya selama satu bulan.
Ryan menunggu Jessie di kamar mandi hingga akhirnya pintu terbuka dan wajah Jessie menatapnya dengan tajam. Jessie memukul lengan Ryan lagi sambil menyerahkan hasil testpacknya. Ryan tersenyum senang sementara Jessie berdecak kesal.
"Mimpimu menjadi kenyataan. Kau yakin kalau kau tidak selingkuh? Lagipula itu bisa saja bukan Michelle. Kau lebih baik jujur denganku atau aku akan marah denganmu seharian."
"Aku sudah bilang kalau aku tidak selingkuh. Lagipula ini kabar baik karena kita akan mendapatkan anak keempat. Aku harap Ia akan menjadi seorang perempuan."
Jessie tersenyum lalu mencium Ryan pelan sebelum akhirnya Ia keluar kamar untuk memasak sarapan dan menyiapkan keperluan anak-anaknya. Biarkan Ryan bersiap-siap sendiri. Pria itu sudah bukan anak kecil lagi sehingga harus diurusi. Ia juga membuat janji dengan dokter kandungan yang selalu Ia datangi sejak Jessie hamil anak pertamanya. Ia tidak sabar melihat anak keempatnya melalui USG.
***
"Apa kau percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter tadi? Kita akan mendapatkan anak kembar." Jessie sangat semangat dengan kehamilannya sekarang. Sementara Ryan memikirkan betapa ramainya rumah mereka nanti saat keuda anak mereka lahir.
"Kau tidak senang?"
Ryan menatap Jessie lalu menggeleng. "Aku sangat senang karena itu anak-anakku. Aku hanya memikirkan betapa ramainya rumah kita nanti. Aku hanya takut kalau kau akan kelelahan nanti. Tapi sepertinya kau ibu yang kuat dan bisa mengatasi semua masalah ini."
"Tentu saja aku kuat. Buktinya aku bisa tahan dengan sikapmu yang kadang sangat menyebalkan dan itu menurun pada semua anak kita. Kau tidak tau saja betapa menyebalkannya mereka saat kau tidak ada."
Ryan tersenyum mendengar semua cerita istrinya tentang ulah ketiga anaknya yang superaktif. Terkadang Jessie memukul Ryan karena suaminya hanya tertawa mendengar semua ceritanya dan malah mengejeknya sehingga membuatnya emosi. Lihat saja nanti, Jessie akan membuat Ryan pusing dengan semua ngidamnya nanti malam.
***
3200+ KATA!!!!! KURANG BANYAK APALAGI COBA WKWKW
Ryan gagal menjadi duda :') tapi tidak apa. Akan ada saatnya kok. Author tulis ini hanya dalam 3 hari saja. Sebegitu kangenya aku sama mereka sampai gak bisa move on. Kalian bisa baca karyaku yang lain ya... Karena semua ceritaku saling sambung-menyambung.
Ryan punya Ignya loh: @helios_ryan
Itu aja yang mau Author sampaikan.