
Jessie membawa Ryan menuju kamarnya. Ia menunjukkan balkon kamarnya dan menceritakan kejadian teror yang dialaminya. Ryan hanga mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jessie menghela napas kasar lalu melempar dirinya keatas kasur.
"Kau akan terus berjaga disini?"
"Tentu saja, saya tidak akan meninggalkan nona."
Jessie memutar matanya karena Ryan terus memanggilnya dengan sebutan nona. "Jangan memanggilku nona, Ryan. Sebut saja namaku. Aku sudah menganggapmu sebagai teman sekarang."
"Teman?"
Jessie mengangguk. "Kau terlihat seperti tidak punya teman."
Ryan menatap Jessie dengan tatapan tersinggung. Apa dia terlihat seperti orang yang tidak mempunyai teman? Tentu saja Ia mempunyai teman walaupun tidak banyak. Ia adalah makhluk sosial yang butuh berteman.
"Aku besok harus pergi ke sekolah. Apa kau akan terus mengikutiku hingga kelas seperti yang ada di novel?" tanya Jessie. Ia merasa sedikit terganggu apabila Ryan mengikutinya hingga kelas. Orang-orang akan membicarakan dirinya dan itu akan membuat reputasinya hancur di sekolah. Jessie sudah terkenal sebagai perempuan yang 'badass' dan tidak membutuhkan perlindungan siapapun.
"Tentu saja. Tapi jika anda tidak mau saya bisa berjaga di luar kelas," ucap Ryan.
"Apa kau tidak bisa mengawasiku di luar sekolah? Aku dikenal sebagai..," ucap Jessie menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Ryan lalu terkekeh pelan, "Pembuli."
"Anda? Pembuli? Saya masih ingat saat Alex mengatakan kalau kau sangat ketakutan saar teror itu terjadi," ucap Ryan sambil menunjukan senyun tipis untuk mengejek Jessie.
"Itu berbeda. Aku tidak meneror orang." Jessie terdiam lalu memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau itu ternyata salah satu dari mereka yang ingin balas dendam?"
"Berarti anda berurusan dengan orang yang salah."
Jessie mendengus kesal. "Kau sangat menyebalkan. Lagipula aku tidak melakukan hal yang sangat buruk. Aku hanya mengambil barang-barang mereka."
"Dan sekarang mereka mau barang-barangnya kembali."
Jessie yang kesal mengambil salah stau bantalnya lalu Ia lempar kearah muka Ryan. Ryan langsung menangkao bantal tersebut dan menaruhnya di kursi yang berada di sebelahnya. Ryan kemudian menatap keluar balkon.
"Kau suka pemandangannya? Daddy membeli hutan ini lalu membangun mansion ini."
Ryan mengangguk. Ia lalu mengalihkan pandangan kearah Jessie. "Apa anda tidak ingin melakukan kegiatan? Anda biasanya hanya tiduran di kamar sepanjang hari?"
"Kau mengatakan aku malas? Jangan bilang anda-saya. Aku-kamu lebih baik. Aku masih tujuh belas tahun. Akh berasa tua, Ryan," ucap Jessie. Ia lalu bangun dan turun dari ranjangnya dan pergi keluar kamar.
...***...
Jessie tidak tahu harus melakukan kegiatan apa. Ia keluar rumah hanya sebagai pembuktian kepada Ryan kalau Ia tidaklah malas. Jessie memilih untuk duduk di pinggir kolam sambil memainkan kakinya di air. Untungnya disekitar mansion banyak pohon sehingga Jessie tidak merasa kepanasan. Ia sangat benci panas.
"Ryan, aku bosan. Apa kau mau tur halaman rumah?"
Ryan mengangguk. Jessie berdiri lalu jalan mendahului Ryan. Mereka berjalan menuju rumah kaca yang berada di samping mansion. Saat mereka masuk, pemandangan hijau dari tanaman Langsung menyapa. Terdapat beberapa kumbang yang berterbangan mencari bunga untuk dihisap nektarnya.
Ryan ikut melihat sekeliling mencari orang yang dimaksud oleh Jessie. Tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua di rumah kaca. Mungkin saja orang yang dimaksud Jessie sedang keluar untuk melakukan pekerjaan lain. Ia mungkin salah satu tukang kebun yang bekerja di rumah ini.
"Ryan, dia baik-baik saja kan?" tanya Jessie sambil menunjuk ke bagian ujung rumah kaca.
Ryan melihat ada orang yang tergeletak. Ia segera mendekati orang itu yang diikuti oleh Jessie dibelakangnya. Jessie mencengkram pakaian Ryan dengan sangat erat. Jessie berharap kalau orang itu hanya pingsan karena kepanasan atau kelelahan.
Jessie seketika berteriak karena menemukan bibi yang sedari tadi Ia cari-cari tergeletak tidak bernyawa terlebih mukanya tersenyum. Ia langsung memalingkan wajahnya sementara Ryan mengeluarkan handphone dan menelepon Alex dan polisi. Selesai menelepon, Ryan segera membawa Jessie masuk ke dalam rumah.
"Ryan, mengapa Ia tersenyum? Itu sangat menyeramkan," ucap Jessie dengan suara yang gemetar. Ini pertama kalinya Ia melihat mayat yang sangat menyeramkan terlebih itu adalah orang yang sangat ramah kepada semua orang. Jessie merasa kasihan kepada bibi karena hal menyeramkan ini terjadi kepadanya.
"Dia sudah pasti diracun. Tidak ada luka luar dan tidak mungkin Ia meninggal dengan ekspresi tersenyum." Ryan melihat Jessie yang ketakutan dan terus menempel pada dirinya. "Kau jangan khawatir. Ada saya disini dan sekarang Alex sedang dalam perjalanan kesini."
...***...
"Semua akan baik-baik saja. Daddy diberi kabar kalau bibi meninggal karena tanaman hemlock." Alex menjelaskan sambil memeluk putrinya.
"Bibi tidak mungkin meninggal karena hal itu. Ia pernah menjelaskan kalau bagian akarnya yang beracun," ucap Jessie sambil menahan tangisannya.
Tangisan Jessie pecah ketika Alex sudah kembali. Ia yang awalnya bersandar kepada Ryan langsung lari dan memeluk Alex. Alex terus memeluk putrinya sambil sesekali mencium kening Jessie untuk menenangkannya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kau pergi ke kamar dan beristirahat saja. Daddy akan datang ketika waktunya makan malam."
"Aku tidak akan makan malam, dad. Aku akan menghabiskan waktu di kamar saja. Hari ini hari yang berat." Jessie melepaskan pelukannya lalu segera berjalan menuju kamarnya. Perutnya sangat mual saat ini.
"Ryan, bagaimana kau bisa kuat melihat semua hal itu?" tanya Jessie.
"Ini bukan yang pertama kalinya saya melihat hal seperti itu dan juga saya memiliki masa kecil yang cukup sulit," ucap Ryan menjelaskan.
Jessie hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Ia sekarang hanya tiduran di kasurnya sambil memainkan handphone sementara Ryan berdiri di dekat pintu mengawasi Jessie.
"Ryan, besok kau harus menemaniku hingga kelas. Kalau bisa hingga masuk toilet sekalipun. Aku tidak mau dibunuh saat aku berada di dalam toilet."
"Saya tidak mungkin masuk kedalam toilet wanita. Sekarang kau istirahat dan tidur saja. Ada saya disini dan semua akan baik-baik saja."
Jessie terkekeh lalu mematikan handphonenya. Ia berusaha untuk mengatur nafasnya dan berusaha untuk melupakan kejadian yang terjadi barusan. Jessie terus memikirkan kalau ini murni sebuah kelalaian. Jessie yang mulai tenang akhirnya tertidur.
Ryan tersenyum melihat Jessie yang mudah tertidur setelah kejadian yang sangat tidak terduga.
"Semoga kau mendapat mimpi yang indah."
...************...
Hai akhirnya update lagi!! Jangan lupa untuk vote dan komen yaa. Aku mau tanya sesuatu. Kalian ada saran cast yang cocok untuk Jessie dan Ryan? Aku udah milih beberapa cast cuma jadi galau sendiri 😂.