The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
21


"Ryan kita sudah terjebak di kemacetan ini selama 2 jam. Kapan kita akan sampai?" Tanya Jessie. Pasalnya, mereka selaim terjebak macet, langit sudah mulai gelap yang artinya sebentar lagi akan turun hujan.


"Kau tahu sendiri kita dari tadi tidak bergerak." Jawab Ryan. Jessie hanya mendengus kasar mendengar jawaban Ryan. "Sudahlah aku tidak ingin pergi ke tempat balapan lagi." Ucap Jessie. Moodnya sudah hilang karena kemacetan ini. "Lagian sepertinya akan turun hujan." Lanjutnya.


"Walaupun kau ingin pulang kerumah juga tidak bisa." Balas Ryan. Jessie sekali lagi hanya mendengus kesal. Lalu Ia membuka handphonenya lalu


memainkan game atau membuka sosial medianya.


Ryan yang juga bosan pun memilih untuk menatap kearah Jessie yang sedang bermain handphone. Anak rambut Jessie yang turun membuatnya tidak bisa melihat wajahnya. Ryan pun langsung menyingkirkan anak rambut itu.


"Ada apa?" Tanya Jessie. Ryan langsung menggeleng sebagai jawaban.


"Ryan, aku mau kau jujur. Apa yang Daddy dan kau sembunyikan dariku?" Tanya Jessie sambil menatap Ryan dengan tatapan menyelidik. Ryan langsung menghela nafasnya.


"Sudah kubilang bukan. Daddymu dan aku tidak menyembunyikan apapun darimu." Ucap Ryan.


"Kalau kau memang tidak menyembunyikan apapun, kita tidak akan melakukan 'itu' malam itu karena keprofesionalitas kamu." Ucap Jessie.


"Aku sudah bilang kalau aku pria normal." Ucap Ryan. "Dan kau sedang bekerja." Balas Jessie. Ryan langsung terdiam. Ia tidak boleh membocorkan rahasia tapi Jessie terus saja memaksanya untuk berbicara.


Jessie yang melihat keterdiaman Ryan langsung membuka seatbeltnya lalu bergerak kearah Ryan.


Cup


Jessie mencium pipi Ryan. Ryan yang dicium langsung menatap Jessie dengan tatapan yang sudah diartikan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Ucap Jessie yang sudah memakai seatbeltnya kembali. Ryan langsung menggeleng sebagai jawaban.


Akhirnya setelah 2 jam mereka menunggu, mobil yang berada di depan mereka pun jalan. Jessie dan Ryan sudah sangat senang karena akhirnya mereka bisa terbebas dari kemacetan. Namun baru beberapa detik kemudian mobil itu berhenti kembali. Jessie dan Ryan kembali menghela nafas dan langsung lesu.


"Baiklah kita akan terjebak macet sampai malam. Jadi mungkin kita bisa meninggalkan mobil lalu mencari makan siang." Ucap Jessie.


"Lalu kau mau mobil ini dimaling orang?" Tanya Ryan.


"Baiklah, aku saja yang keluar mobil kalau begitu. Tunggu sebentar. Jangan banyak protes dengan makanan yang akan kubelikan nanti." Ucap Jessie. Lalu Ia membuka seatbeltnya lalu keluar dari mobil.


Jessie yang sudah sampai di area pertokoan langsung melihat-lihat mana yang menjual makanan. Jessie menemukan 1 restoran dan Ia langsung memasukinya.


"Selamat datang nona, mau makan disini atau take away." Tanya seorang pelayan yang berada di pintu masuk.


"Take away saja." Ucap Jessie. Lalu Ia diberikan menu oleh pelayang itu.


Ia pun melihat-lihat menu dan memilih makanan yang terlihat enak. Lalu Jessie memesan 2 makanan yang berbeda. Setelah itu Ia pergi ke kasir dan membayarnya terlebih dahulu jadi ketika makanan selesai Ia tinggal pergi. Ia pun mengambil handphonenya dari saku lalu mengirim pesan kepada Ryan.


Ryan


^^^Aku sudah memesan makanan. Tunggulah sebentar lagi.^^^


👌


^^^Hanya itu balasanmu?^^^


^^^Sudahlah lupakan saja.^^^


Dan pesannya hanya dibaca saja. Jessie benar-benar tidak habis pikir. Ternyata bukan hanya mulutnya saja yang irit tapi keyboardnya juga. Jessie yakin Ryan tidak semalas itu untuk mengetik. Tapi kenapa hanya mengirim sebuah emoji. Apakah Ryan tahu kalau mengetik di keyboard itu tidak memerlukan biaya?


Jessie memilih untuk pergi ke toilet selagi masih bisa. Ia takut jika macetnya ditempat yang tidak memiliki toilet. Selesai menuntaskan panggilan alam, Jessie melihat makanannya sudah jadi. Ia pun langsung mengambil makanan lalu mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu lalu pergi. Jessie kembali ke mobilnya yang ternyata sudah berjalan sedikit.


Ia langsung masuk ke mobilnya lalu menyerahkan makanannya kepada Ryan.


"Ini untukmu dan ini sendoknya." Ucap Jessie. Ryan lalu mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Ryan pun memakannya dan ternyata makanan itu pedas. Ia langsung cepat-cepat mengunyah dan menelan makanan itu lalu mengambil botol minum miliknya. Ia langsung meneguknya sampai tersisa setengah.


"Kau kenapa?" Tanya Jessie.


"Makanan ini pedas." Ucap Ryan. Mukanya langsung merah dan matanya mengeluarkan air mata. Jessie yang mendengar itu ingin ketawa namun kasihan kepada Ryan.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu kau tidak suka makanan pedas. Kita bisa tukaran jika kau mau. Punyaku tidak pedas." Ucap Jessie.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menukar makanan mereka. Jessie yang penasaran dengan makanan Ryan langsung menyendokan makanannya ke mulut.


"Ryan, ini tidak pedas sama sekali." Ucap Jessie.


"Itu pedas."


"Paling hanya lada Ry."


"Tetap saja pedas."


Disela perdebatan mereka, Handphone Ryan berdering. Ryan langsung mengambil handphonenya lalu melihat salah satu anak buah mereka meneleponnya.


"Ada apa?" Tanya Ryan.


"Ada seseorang yang mencurigakan di gedung arah jam 11 lantai 6." Ucap anak buahnya. Ryan langsung melihat gedung dan lantai yang dimaksud. Tentu saja Ia tidak bisa melihat apa-apa.


Tiba-tiba anak buah Ryan berteriak dan disaat yang bersamaan bunyi tembakan terdengar.


Dor!!


******************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Next update: 13 April 2021