The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
33


"Cepat katakan." Ucap Ryan. Orang itu tetap tidak mau membuka mulutnya. Sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian. Bahkan ada security yang sudah berusaha untuk melerai mereka. Sebentar lagi pasti polisi akan datang dan mengamankan sekitar.


"Aku tidak akan memberitahukan apa-apa. Mari kita menunggu polisi datang terlebih dahulu." Ucap orang itu sambil tersenyum. Ingin rasanya Ryan mengancam orang itu namun tidak bisa. Polisi sudah lebih dulu tiba dan membawa orang itu. Mereka juga memintai keterangan oleh polisi. Mau tidak mau, mereka berempat harus ikut ke kantor polisi. Alexa sudah menelepon Xavier dan memberitahunya apa yang terjadi. Xavier berkata akan menyusul putrinya itu ke kantor polisi.


"Sungguh hari yang menyenangkan bukan." Ucap Alexa kepada Jessie. Kenneth yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tertawa. Ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


"Padahal aku masih ingin mengalahkan pak tua." Sahut Kenneth. Ryan sekilas menoleh kearah belakang dan memberikan tatapan tajamnya.


"Ayolah, mungkin aku memang payah di bola basket." Ucap Kenneth. Alexa dan Jessie tertawa kecil mendengar itu. "Tapi aku akan menang jika mengadu keberuntungan." Lanjut Kenneth.


"Kau masih bisa-bisanya bercanda?" Tanya Ryan. Kenneth hanya mengangkat bahunya.


"Aku mencoba untuk mencairkan suasana. Tidak sepertimu yang hanya membuat suasana semakin tegang." Ucap Kenneth.


"Setidaknya aku masih bisa membaca situasi." Balas Ryan. Jessie dan Alexa hanya menatap satu sama lain. Mereka hanya menikmati pertengkaran kedua pria itu.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di parkiran dan tepat di depan mobil polisi. Jessie langsung menanyakan perihal mobilnya. Polisi itu hanya bilang bahwa mereka harus memanggil orang untuk membawa mobil itu karena mereka akan lama di kantor polisi. Ryan yang mendengar itu langsung menelepon bawahannya untuk membawa mobilnya pulang. Mereka kemudian masuk kedalam mobil polisi dan pergi.


...***...


Sesampainya di kantor polisi, Satu persatu dari mereka masuk kedalam ruangan untuk dimintai keterangan. Setelah tidak ada yang aneh, polisi meminta mereka untuk pulang. Mereka sangat ingin menginterogasi orang tadi namun tidak diperbolehkan. Para polisi bilang kalau dia hanya lagi tidak bisa berpikir jernih. Tentu saja alasan itu sangat tidak bisa dipercaya.


"Alexa, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Xavier yang baru saja datang. Alexa langsung berlari kearah ayahnya dan menceritakan tentang orang itu.


"Tenang saja putriku. Nanti siang sehabis ini kalian bisa kok menginterogasinya. Daddy akan atur semua." Ucap Xavier lalu mencium kening anaknya.


"Thank you Daddy. Love you so much." Ucap Alexa. Ia kemudian memeluk ayahnya sambil menatap kearah Jessie dan mengacungkan jempolnya. Jessie hanya tersenyum sambil balik mengacungkan jempolnya.


"Siapkan pertanyaanmu, Ryan. Malam ini kita akan interogasi orang tadi." Ucap Jessie.


Kemudian, Jessie, Ryan, dan Alexa pergi ke rumah Alexa untuk menunggu Xavier membawa orang itu. Sementara Kenneth sudah terlebih dahulu pulang karena tidak boleh terlibat sama sekali.


Kemudian mereka melihat mobil Xavier sudah datang. Ia mengeluarkan orang itu yang kepalanya sudah ditutupi oleh kain hitam dan sepertinya orang itu pingsan karena tidak terlihat adanya perlawanan sama sekali.


Xavier kemudian mendudukkan orang itu di kursi taman dan menyuruh mereka bertiga untuk keluar. Mereka kemudian keluar dan menghampiri Xavier.


"Ada apa ini?" Tanya orang itu. Kemudian, Ia melihat sosok Jessie dan langsung menutup mulutnya. Xavier yang sudah menduga hal itu akan terjadi langsung mengambil tang dan mulai mencopot kuku orang itu dimulai dari jempolnya. Orang itu mulai menjerit kesakitan saat kuku jempolnya berhasil terpisah dari jarinya.


"Bukalah mulutmu atau kau akan kehilangan seluruh kukumu." Ucap Xavier.


"Pertanyaanku cuma 2. Siapa nama bossmu dan apa maunya." Ucap Ryan. Orang itu lagi-lagi tidak menjawab. Xavier kemudian mencabut kuku pria itu lagi. Namun kali ini Xavier mencabut di bagian kelingking pria itu.


"Aku juga tidak tahu namanya. Tapi Ia menyebut dirinya sebagai 'Xr'. Jadi jangan curiga padaku. Hal yang kulakukan juga cuma suruhannya." Ucap pria itu lagi. Ryan masih kurang puas dengan jawabannya. Ia kemudian kembali bertanya kepada pria itu.


"Dimana letak markas bosmu?" Tanya Ryan. Pria itu tampak terdiam sebentar antara Ia akan memberitahukannya atau Ia akan memalsukan tempatnya.


"Tempat persembunyian kita ada di-"


DOR!


Jessie, Alexa, Ryan, dan Xavier yang mendengar tembakan itu langsung masuk kedalam rumah. Membiarkan orang tadi mati dengan tembakan di bagian lehernya.


Ryan langsung mengumpat kasar. Walaupun dengan nada yang sangat pelan, Walaupun begitu Jessie dan Alexa bisa mendengar umpatan itu.


"Kita akan segera menguburkan orang itu. Anak buahku sudah mencari orang diatas atap. Jessie dan Ryan, kalian pulang saja terlebih dahulu." Ucap Xavier panjang. Jessie dan Ryan mengangguk sambil berjalan keluar. Ryan berdiri di belakang Jessie untuk melindunginya jika ada tembakan susulan.


******************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Next update: 7 Mei 2021