The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
6 (revisi)


Pada sore hari, Jessie terbangun dan melihat Ryan sedang terduduk sambil menatap ke arah Jessie. Jessie balik menatap wajar Ryan sambil mengumpulkan tenaganya. Terserah tersadar penuh Jessie langsung menaikkan satu alisnya.


"Kau akan terus menatapku seperti itu?"tanya Jessie.


"Daddymu belum pulang. Kau mau makan malam terlebih dulu atau mau menunggunya?"tanya Ryan sambil bangkit dari duduknya.


"Tunggu saja. Sebentar lagi juga Daddy pulang."


Jessie duduk di kasurnya. Ryan mengambil gelas berisi air untuk Jessie. Jessie mengambil gelas itu dari Ryan dan meneguknya hingga habis. Lalu menaruhnya di atas nakas sebelah kasurnya. Jessie mengambil handphonenya dan melihat ada beberapa pesan yang dikirimkan oleh Alexa. Ia mengajak Jessie untuk pergi kerumahnya.


"Alexa mengajakku untuk pergi kerumahnya. Apa aku boleh pergi?"ucap Jessie.


"Jangan ijin kepadaku. Ijinlah pada daddymu,"ucap Ryan. Jessie menghela nafas. Ia menelepon ayahnya untuk meminta ijin.


"Daddy membolehkan tapi besok,"ucap Jessie. Ryan langsung mengangguk mengerti. Jessie langsung bangkit dan berjalan ke arah meja belajarnya karena ingat ada tugas.


"Kau butuh bantuan?"tanya Ryan. Jessie langsung menatap Ryan.


"Kau meremehkan ku?"tanya Jessie.


Ryan langsung tersenyum. "Aku hanya menawarkan bantuan."


Jessie hanya mendengus pelan dan langsung kembali mengerjakan tugas kampusnya sambil menunggu ayahnya pulang. Baginya tugas ini sangatlah gampang walaupun soalnya banyak tetapi Jessie bisa menyelesaikan tugas itu dalam 1 jam.


"Kau pintar juga,"ucap Ryan. Jessie benar-benar berpikir bahwa Ryan meremehkannya.


"Kau benar-benar meremehkan ku,"ucap Jessie.


"Maafkan aku,"ucap Ryan sambil terkekeh. Seketika Ia ingat bahwa Ia adalah bodyguard Jessie. Ryan benar-benar lupa. Ya sepertinya mulai ada rasa yang muncul di hatinya. Tapi tetap saja kalau Jessie tidak mempunyai suatu perasaan terhadapnya perjodohan mereka akan batal.


Ryan mendengar suara dari depan rumah dan langsung berjalan ke arah jendela. Ternyata Alex sudah pulang. Ryan berjalan kembali ke Jessie.


"Daddy mu sudah pulang,"ucap Ryan. Jessie yang mendengar itu langsung berjalan keluar kamarnya. Ryan yang melihat Jessie keluar langsung mengikutinya.


"Daddy pulang,"ucap Alex sambil membuka tangannya. Jessie langsung berlari kecil dan langsung memeluk ayahnya. Alex langsung membalas pelukan Jessie. Ryan hanya melihat tanpa menggangu mereka.


"Ayo kita memasak makan malam. Ryan kau ikut juga membantu kita,"ajak Alex. Jessie dan Ryan hanya mengangguk. Lalu mereka pergi ke dapur dan membuat makan malam bersama. Mereka terkadang bercanda bersama dan mengingat masa lalu mereka saat Jessie dan Ryan masih kanak-kanak.


"Jadi besok kau mau pergi ke rumah Alexa?"tanya Alex. Jessie langsung mengangguk sambil mengunyah makanan.


"Baguslah kau sudah mulai mempunyai teman,"ucap Alex. Jessie hanya menunjukkan senyumannya. Ryan yang melihat senyuman Jessie langsung ikut tersenyum. Alex melihat hal itu.


"Jessie, Ryan kalau tersenyum tampan ya,"ucap Alex sambil tertawa. Jessie yang sedang minum itu langsung terbatuk dan Ryan seketika berhenti tersenyum lalu memalingkan wajahnya.


"Dad,"ucap Jessie sambil memperingatkan ayahnya. Alex tertawa keras melihat tingkah dua orang yang ada didepannya. Memang tidak salah Ia menjodohkan anaknya.


"Daddy hanya berkata jujur saja. Apa kau tertarik dengan Ryan?"tanya Alex. Jessie yang mendengar pertanyaan ayahnya hampir saja tersedak.


"Dad stop,"ucap Jessie sambil memberikan tatapan tajamnya. Ryan hanya menghela nafas pelan


Setelah selesai makan malam, Jessie membereskan piring-piring. Setelah itu Jessie dan Ryan masuk kamar.


Beberapa saat kemudian, Ryan ingin keluar kamar dan memeriksa sekitar. Saat ingin membuka pintu ternyata pintunya terkunci dari luar.


"Jessie... Kita terkunci dari luar,"ucap Ryan. Jessie langsung membulatkan matanya dan langsung berjalan ke arah pintu dan berusaha untuk membukanya namun usahanya sia-sia. Ia mengambil handphonenya dan menelepon Alex.


"Dad, aku dan Ryan terkunci dari luar."


"Oh ya? Ya sudah kalian tidur sekamar saja. Nikmati malam kalian,"ucap Alex sambil tertawa lalu menutup telponnya. Jessie benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah ayahnya. Terlihat sekali bahwa ayahnya sengaja.


"Ryan, Daddy sengaja mengunci kita,"ucap Jessie. Ryan langsung menghela nafasnya.


"Baiklah kita tidur bersama di kasur. Aku tidak sejahat itu membiarkanmu tidur si kursi,"ucap Jessie. Ryan hanya mengangguk.


"Kau tidur duluan saja,"ucap Ryan.


"Aku belum mengantuk Ry... Ini masih jam 8 malam. Kau tidur saja disebelahku. Aku yakin kau tidak akan macam-macam."


Ryan duduk di kasur. Karena malam mulai larut, Jessie langsung mengisi daya handphonenya dan tidur. Ryan yang melihat Jessie sudah tertidur kemudian berbaring di sebelah Jessie. Entah apa yang dipikirkannya, Ryan mengecup pipi Jessie.


"Selamat malam Jessie,"ucap Ryan yang kemudian tertidur dengan posisi membelakangi Jessie. Namun yang Ryan tidak ketahui adalah Jessie masih tersadar. Jessie yang mendapat kecupan langsung kaget. Ia seharusnya sudah tertidur sedari tadi. Dan sekarang Ia berharap bahwa rasa kantuk cepat mendatanginya. Dan Ia pun mulai mengantuk lalu tertidur.