The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
27


"Jessie bangun." Ucap Ryan sambil menggunakan badan Jessie. "Apa ini sudah pagi?" Tanya Jessie yang terbangun karena guncangan itu.


"Belum."


"Lalu kenapa kau membangunkanku?" Tanya Jessie yang mulai kesal. Ini belum pagi dan Ryan membangunkannya.


"Ada orang yang curiga terus menerus melihat kearah kamar kita lewat jendela." Ucap Ryan.


Jessie langsung terbangun lalu berjalan kearah jendela. Ryan memegang tangannya sambil menggelengkan kepalanya. Jessie bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Jangan langsung dilihat. Bagaimana jika dia punya senjata dan langsung menembakmu?" Tanya Ryan. Jessie langsung terdiam dan kemudian Ryan mengambil handphonenya lalu memberikannya kepada Jessie.


Jessie langsung mengambil handphonenya lalu membuka aplikasi kamera dan merekam video diam-diam kearah luar.


Setelah mengambil video selama 10 detik, Jessie kemudian menghentikan rekamannya lalu memutar kembali video itu.


Jessie melihat ada seorang pria yang memakai masker terus memandang kearah apartemen Ryan. Pria itu hanya memandang tanpa melakukan apapun. Hanya berdiri dan menatap. Namun tidak ada yang menghiraukan orang itu.


"Apa kita harus menghampirinya?"


"Tidak. Tidak perlu. Kalau kita kesana akan percuma karena orang itu pasti akan pergi."


"Sepertinya orang itu pembohong. Dia bilang akan membiarkan kita hidup tenang selama dua bulan."


Jessie kemudian pergi keluar dan diikuti oleh Ryan. Jessie pergi ke dapur lalu membuka kulkas dan mengambil sebutir telur.


"Kau jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Ucap Ryan sambil memeringatkan Jessie. Jessie hanya mengacuhkan ucapan Ryan. Ia kemudian kembali ke kamar lalu membuka jendela. Jessie dan pria itu langsung tatap-tatapan sampai akhirnya pria itu harus menghindar karena Jessie melemparnya dengan telur.


Selesai melempari orang itu, Jessie menutup jendela kembali lalu Ryan sudah menatapnya dengan satu alis yang diangkat dan meminta penjelasan.


"Orang itu seorang penguntit. Kita tidak bisa hanya membiarkannya Ry..." Ucap Jessie. Kemudian Ia menyadari bahwa Ryan tidak memakai kaos alias bertelanjang dada.


"Ryan... tubuhmu sangat atletis." Ucap Jessie sambil memandangi tubuh Ryan. Ryan yang mendengar perkataan Jessie langsung berbalik badan dan mengambil baju yang ada di lemari. Sebelum Ryan sempat memakainya, Jessie sudah terlebih dahulu memeluknya.


"Tidak usah Ry..."


"Jadi kau lebih pilih aku tidak memakai baju?"


Jessie hanya mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukannya lalu memegang luka tembakan yang ada di bahu Ryan.


"Apa masih sakit?"


"Tidak."


Mendengar jawaban itu, Jessie langsung menekan luka Ryan dengan kuat sampai Ryan meringis kesakitan.


"Kau bilang sudah tidak sakit."


"Tidak seperti itu juga."


Seusai Ryan menyelesaikan kalimatnya, terdengar pintu depan mereka di dobrak oleh seseorang. Ryan langsung mengambil senjata yang Ia taruh di balik tumpukan pakaiannya. Ia juga memberikan aba-aba kepada Jessie untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Kemudian orang itu langsung membuka pintu kamar mereka dan Ryan berusaha untuk menyerang orang itu.


Ryan memberikan serangan bertubi-tubi namun hanya beberapa yang kena. Orang itu tidak melawan dan hanya menghindar dari serangan Ryan.


Jessie yang melihat itu tidak tinggal diam. Ia berlari kearah handgun yang ditendang oleh Ryan lalu membidikya kearah pria itu. Bukannya ketakutan, orang itu hanya melihat sekilas lalu kembali menghindar dari Ryan.


Saat Ryan lengah, Ia langsung berlari kearah Jessie dan merebut handgun yang Jessie pegang lalu mengarahkannya ke kepala Jessie. Orang itu lalu menaruh jari telunjuknya di bibirnya menyuruh Ryan untuk diam. Ia kemudian menunjuk kearah barang yang Ia bawa lalu menyuruh Ryan untuk membukanya. Mau tidak mau Ryan membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah laptop. Ryan kemudian membuka laptop dan terlihatlah sosok pria yang duduk didalam kegelapan.


"Halo Ryan. You Miss me?" Tanya orang yang ada di video itu. Ryan benar-benar tidak mengenal orang itu. Ia yakin tidak pernah mengalami amnesia.


"Apa yang kau mau?" Tanya Ryan. Orang itu langsung tertawa keras.


"Menghancurkan hidupmu tentunya." Jawabnya. Ryan berdecih pelan mendengar jawaban pria itu.


"Jessie tidak ada hubungannya dengan dendam kau."


"Tentu ada Ryan. Ia lah kebahagiaanmu sekarang. Jika Jessie tiada maka kau akan hancur secara perlahan. Aku tahu semuanya Ryan. Tapi tenang saja. Aku sudah berjanji tidak akan mengganggunya selama dua bulan. Mungkin lebih baik kau memperketat keamanan." Ucap orang itu. Kemudian laptop yang Ryan pegang menjadi sangat panas hingga akhirnya meledak.


Merasa pekerjaannya sudah selesai, orang yang menodong Jessie langsung pergi melalui jendela. Jessie langsung mengejar orang itu namun sayang Ia sudah lolos. Jessie kemudian beralih kepada Ryan dan melihat laptop yang terbakar itu. Tidak mau apartemen Ryan kebakaran, Jessie segera mengambil air dari botol minum dan langsung menyiramkannya. Setelah padam dan dirasa sudah tidak berbahaya, Jessie melihat keadaan Ryan.


Ryan hanya memiliki luka di kedua tangannya akibat laptop dan luka akibat bekas tembakannya. Selain itu Jessie tidak menemukan adanya lebam.


"Dimana kotak P3K?" Tanya Jessie. Ryan hanya terdiam tidak membalas pertanyaan Jessie. Ia melamun memikirkan apa yang barusan terjadi.


"Ryan."


"Kamar mandi laci nomor 3." Ucap Ryan singkat. Jessie langsung berjalan kearah kamar mandi dan mengambil kotak P3K kemudian mengobati Ryan. Selesai mengobati Ryan, Ia berjalan kearah lemari dan mengambil kaos untuk Ryan pakai. Melihat Ryan yang masih melamun, Jessie memeluknya dan berusaha untuk menenangkannya.


"Kau tidak ada hubungannya dengan semua yang terjadi. Tapi mengapa kau harus terlibat?" Tanya Ryan. Jessie yang tidak menjawab hanya diam. Kemudian Ia melepaskan pelukannya dan memberikan kaos itu kepada Ryan. Ryan menerimanya lalu memakainya.


"Sudah tidak usah dipikirkan. Kita istirahat saja. Kau tidur dulu. Aku akan bilang ke daddy bahwa kau harus istirahat dan tidak bisa bekerja." Ucap Jessie lalu mengambil handphonenya. Ryan langsung tidur di kasur namun pandangannya tidak lepas dari Jessie.


Ia pun mengabari kepada daddynya mengenai apa yang terjadi. Selesai mengabari, Jessie menutup handphonenya dan menyadari bahwa Ryan menatapnya dengan lekat. Jessie kemudian mematikan handphonenya lalu tidur di sebelah kekasihnya itu.


"Selamat malam Ryan. Love you." Ucap Jessie kemudian Ia memeluk Ryan sampai akhirnya tertidur.


Ryan yang melihat Jessie tertidur langsung melepaskan pelukannya. Ia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi. Ia tidak tenang jika ikut tidur bersama Jessie.


Alhasil, Ryan bangkit dari kasur lalu berjalan kearah dapur dan membuat secangkir kopi untuk menemaninya begadang. Selesai membuat kopi, Ia kembali kearah kamar dengan lalu duduk di kursi sambil kembali memandangi wajah damai Jessie yang sedang tertidur.


*****************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Next update: 25 April 2021