The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
28


"Jessie buka pintunya sekarang. Kau harus mengerti Jessie." Ucap Ryan sambil menggedor pintu kamar Jessie. Jessie yang masih kesal langsung melemparkan barang kearah pintu.


"APA YANG HARUS DIBICARAKAN?! KAU AKAN PERGI MENINGGALKANKU UNTUK YANG KEDUA KALINYA." Teriak Jessie dari balik pintu. Ia benar-benar marah dan tidak percaya. Bagaimana bisa Ryan dengan mudahnya menyetujui permintaan ayahnya.


Pasalnya setelah kejadian kemarin, mereka langsung pulang ke rumah Jessie untuk memberitahukan segala hal kepada Alex. Diluar dugaan, Alex malah menyuruh Ryan untuk pergi yang jauh dari Jessie. Bahkan mereka tidak boleh melepas rindu melalui pesan ataupun telepon. Jessie langsung menentang permintaan ayahnya. Apa-apaan ayahnya itu. Ia sudah tau bahwa mereka adalah sepasang kekasih dan sekarang Ia ingin menghancurkan hubungan anaknya. Jessie semakin dibuat kesal dengan ucapan Ryan.


"Baiklah."


Walaupun satu kata, namun itu berhasil membuat Jessie langsung marah sekaligus kecewa pada Ryan. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berlari kearah kamar lalu mengunci pintunya saat Ia sudah masuk. Dan berakhir menjadi seperti sekarang ini.


"Jessie, biarkan Ryan menjelaskan." Kali ini bukan suara Ryan yang terdengar namun suara ayahnya. Jessie semakin kesal dan melemparkan sebuah vas yang ada di kamarnya hingga pecah.


"Jessie apa yang kau lakukan? Buka pintunya sekarang." Ucap Ryan. Jessie hanya menghiraukan semua ucapan dan gedoran yang berasal dari luar kamarnya.


"Jessie, please."


"Kau akan menjelaskan semuanya kepadaku?" Tanya Jessie yang langsung dibalas dengan teriakan Ryan. "Iya Jessie. Aku akan menjelaskan semuanya."


Jessie kemudian berjalan kearah pintu dan pelan-pelan membersihkan pecahan kaca akibat lemparan vas tadi. Setelah dirasa aman, Jessie membuka pintu kamarnya. Ryan langsung masuk lalu memeluknya.


"Jessie, dengarkan aku terlebih dahulu." Ucap Ryan. Kemudian Ia menutup pintu kamar Jessie dan mereka mengobrol di atas kasur.


"Jelaskan cepat." Ucap Jessie yang tidak sabaran. Ryan menarik napas panjang lalu mulai menjelaskan.


"Jessie, ini demi kamu. Kita tidak akan berpisah selamanya. Hanya sampai aku menemukan orang itu." Ucap Ryan.


"Kau tahu sendiri orang itu mengingatku. Kenapa kau masih mau pergi? Siapa yang akan menjagaku? Ryan, aku tidak mau kau pergi." Ucap Jessie. Matanya mulau berkaca-kaca. Ryan sekali lagi kembali memeluk Jessie untuk menenangkannya.


"Aku tidak akan pergi jauh. Akan ada orang yang menjagamu. Percayalah padaku." Ucap Ryan. Jessie langsung membalas pelukan Ryan dengan sangat erat.


"Aku mau penggantimu adalah orang yang tampan." Ucap Jessie dengan nada jahilnya. Ryan yang mendengar itu langsung mengangkat satu alisnya. Tanpa aba-aba Ia langsung menjatuhkan tubuh Jessie lalu menimpanya.


"Kau mau mencoba membuatku cemburu?" Tanya Ryan. Lalu Ia mencium leher Jessie. Jessie hanya terkekeh pelan lalu memalingkan wajahnya. Ryan kembali bangkit namun Jessie langsung menahannya.


"Ada apa?" Tanya Ryan.


"Jangan tinggalkan aku. Setidaknya jangan sekarang." Ucap Jessie. Ryan menghela napas.


"Terus kau mau aku disini sampai kapan? Ulang tahunmu?" Tanya Ryan. Jessie langsung melemparinya dengan bantal.


"Kau benar-benar pacar yang buruk Ryan. Ulang tahunku sudah lewat. Kau bahkan melupakan ulang tahunku?" Ucap Jessie. Ryan hanya terkekeh pelan. Kemudian Ia mengubah posisinya menjadi duduk. Dia sudah lama berpisah dari Jessie dan itu membuatnya sedikit lupa tentangnya.


"Maafkan aku. Tapi aku yakin kau juga melupakan ulang tahunku." Ucap Ryan. Jessie langsung tertawa. "Tentu saja tidak. 13 April."


"Sudah ya. Jangan sedih. Aku akan disini selama sebulan lalu pergi." Ucap Ryan. Jessie mengangguk menyetujui Ryan. Mau tidak mau Ia harus setuju.


"Tapi kau janji harus pulang dengan selamat." Ucap Jessie. Ryan mengangguk. "Sepertinya bahumu sudah sembuh." Lanjut Jessie.


"Ya sepertinya begitu." Ucap Ryan sambil memegang bahunya. Sudah tidak sakit walaupun masih sedikit nyeri.


"Kita bisa melanjutkannya bukan?" Tanya Jessie. Lalu Ia memeluk Ryan dari belakang dan mulai meraba dada bidangnya. Ia pun mencium tengkuk Ryan.


"Jessie stop. Aku tidak mau melakukannya." Ucap Ryan. "Aku tidak memiliki pengaman."


Jessie cemberut dan kembali tiduran di kasur. Sementara itu, Ryan mencium keningnya lalu keluar kamarnya.


"Kau mau kemana? Aku juga ingin ikut." Ucap Jessie sambil bangkit dari kasurnya.


"Tidak usah. Aku hanya akan ke minimarket untuk membeli barang." Ucap Ryan. Jessie lalu mengangguk dan kembali tiduran diatas kasur sambil menunggu Ryan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ryan kembali ke kamar Jessie. Jessie mengerutkan keningnya karena tidak melihat Ryan menjinjing tas ataupun membawa satupun barang.


"Kau habis dari minimarket?" Tanya Jessie. Ryan mengangguk. "Lalu apa yang kau beli? Aku tidak melihat kau membawa apapun."


Ryan kemudian mengeluarkan sebuah benda kotak yang langsung membuat Jessie terdiam. Ryan membeli sekotak alat kontrasepsi.


"Kau yang mau bukan? Kau yang mulai dan kau yang mengakhiri Jessie. Bersiaplah." Ucap Ryan sambil berjalan kearah Jessie. Jessie langsung meneguk kasar air ludahnya. Jessie hanya bercanda tadi.


"Ryan, aku hanya bercanda." Ucap Jessie. Bukannya berhenti Ryan semakin menjadi-jadi. Ia perlahan membuka bajunya dan memperlihatkan perut sixpacknya.


"Tenang saja sayangku. Aku akan pelan. Jangan khawatir. Daddymu sedang pergi entah kemana." Ucap Ryan tepat di telinganya.Merekapun memulai kegiatan panas itu.


*****************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Next update: 27 April 2021