
Tentu saja perkataan itu membuat Jessie shock. Selama 18 tahun Ia hidup bersama orang yang Ia kira adalah ayahnya. Jessie terdiam dan membiarkan air matanya turun. Ia tidak tahu harus berbicara apa.
"Jessie, maafkan daddy."
"Bagaimana rahasia pertama? Tenanglah Jessie, masih ada banyak hal yang kau belum tau." Jessie sekilas menatap kearah Xander. Xander hanya balik menatapnya dengan senyuman. Jessie kemudian berbalik melihat Alex yang ada di layar televisi.
"Siapa yang kau bunuh?" Alex terdiam mendengar pertanyaan Jessie. Keterdiaman Alex membuat Xander malah dan melepaskan tembakan ke sembarang arah.
"Kau tidak mau jawab Alex? Baiklah aku akan menjawabnya. DIA MEMBUNUH ISTRIKU."
"DIA SUDAH MEMBUNUH ISTRIMU DAN KAU SUDAH MEMBUNUH IBUKU. APALAGI YANG KAU MAU HAH?!" teriak Jessie. Ia sudah sangat marah, sedih, dan kecewa. Air mata yang sedari tadi Ia tahan akhirnya lolos juga.
"Kau kira aku yang membunuh ibumu? Kau salah besar. Ayahmu lah yang melakukannya. Ia sangat marah saat tahu kau bukan anaknya. Itulah mengapa Ia menyembunyikannya darimu."
"Lalu sekarang kenapa kau menganggapku seperti anak sendiri? Sepertinya kau juga akan membunuhku suatu saat nanti. Itu juga kalau aku masih hidup setelah ini" Jessie tersenyum miring. Ia sudah pasrah dengan keadaan saat ini. Jessie sesekali melihat kearah Ryan. Entah kenapa wajah pria itu tetap datar. Apakah Ryan tahu semua ini?
"Ry, kau tidak mau berucap apapun?"
"Aku tahu kau gadis yang kuat. Walaupun semua orang pada akhirnya meninggalkanmu, aku yakin kau pasti bisa bertahan."
"Termasuk kamu? Kau akan meninggalkanku juga?"
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."
Jessie menghela napas. Dia sudah terbiasa menyendiri di manapun. Tapi entah kenapa walaupun hanya mengandaikan Ryan meninggalkannya, Jessie bisa merasakan ada yang hilang.
"Sudah cukup basa-basinya. Xavier kau mau selanjutnya?" Xander tersenyum lebar setelah mengucapkan kalimatnya.
"Lepaskan Jessie dan bunuh saja aku."
"Tidak semudah itu Ryan. aku tidak bisa mengikhlaskan seratus juta dollar dengan mudah. Kita semua tahu seratus juta dollar bukan nominal yang kecil. Aku sampai membunuh orang tuamu hanya karena itu tapi tetap saja aku tidak merasa puas akan hal itu."
"Bajingan."
Xander yang mendengar ucapan Jessie langsung menamparnya. Rasa asin terasa di Indra pengecapnya. Bibir Jessie robek karena tamparan Xander. Pipinya sangat panas karena tamparan itu.
"Aku, Xavier, dan Alex adalah ketua mafia. Markas utamaku ada di Jerman, Xavier di sini, dan Alex di Meksiko. Hubungan kita tidak pernah baik hanya karena perbuatan Alex yang diam-diam menyelundupkan narkoba atau lebih tepatnya narkotika seberat 1,2 ton ke daerah kami."
Jessie seketika merasa pusing dengan semua penjelasan Xander. Ia tidak siap menerima semua fakta yang ada secara bersamaan.
"Aku dan Xavier hampir ditangkap oleh polisi. Ketika aku dan Alex mulai konflik tetapi Xavier memilih untuk diam, Ia berbuat curang dengan membunuh istriku yang baru saja melahirkan Kenneth dan berselang beberapa hari kemudian kau lahir. Akhirnya aku memilih untuk mundur dari konflik itu."
"Bunuh saja dia. Aku sudah tidak peduli."
"Jangan bicara seperti itu Jessie. Kau tidak tahu perjuangan Alex. Kau juga Xander. Aku akan membunuhmu sekarang." Xavier kemudian mengarahkan senjatanya kearah Xander. Belum sempat Xavier menarik pelatuknya, Will yang sedari tadi duduk di ujung ruangan langsung menembakkan pistol yang berisi obat yang bisa melemahkan otot. Xavier langsung jatuh lemas ke lantai. Ia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.
"Sudah penjelasan dariku. Sejujurnya ini cara paling baik yang kulakukan untuk membunuhmu. Bisa saja aku langsung menyiksamu. Tapi aku tidak melakukan itu karena putraku suka padamu." Sesaat Xander menyelesaikan kalimatnya, Kenneth masuk kedalam ruangan dengan pakaian serba hitam. Berbeda dengan yang tadi Jessie lihat. Kenneth berjalan kearah Jessie lalu menarik kursi Jessie hingga membuatnya berhadapan dengan Ryan.
"Biarkan aku disini sendiri, daddy." Nadanya begitu dingin tidak seperti yang biasa Jessie ataupun Ryan dengar. "Tinggalkan aku bertiga." Xander keluar dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Xavier dan William.
"Baiklah, jadi daddy sudah bilang kalau aku menyukaimu dan itu memang benar. Walaupun akhirnya harus mengikhlaskanmu."
Kenneth kemudian mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Ia menggores lengan Jessie hingga mengeluarkan darah segar. Jessie meringis kesakitan.
"HENTIKAN BOCAH!"
"Tidak akan pak tua. Tidak akan. Justru ini baru permulaan."
Kenneth kemudian mencium Jessie didepan Ryan. Ryan memberontak berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Ia yakin tangannya sudah penuh dengan darah. Dari tadi, Ryan diam karena berusaha melepaskan talinya. Talinya sedikit melonggar namun Ia tetap tidak bisa melepaskan tangannya.
Kenneth melepas ciumannya lalu mulai menyayat muka Jessie. Dimulai dari dahi hingga turun ke bibir. Jessie berteriak kesakitan karena luka sayatan Kenneth lebih dalam dari yang pertama.
"Jessie, bersiaplah."
********************************************
Rindu lihat castnya ngga?ππ Author pengen banget kasih gambarnya tapi mas Ryan sudah banget carinya.π
Maaf ya lama. Sebenarnya author udah selesai nulis dari kemarin. Cuma review-nya lama bangetπ