The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
29


"Jadi gimana? Kapan kau akan pergi Ryan?" Tanya Alex. Mereka sedang makan malam bersama. Jessie mengira makan malam kali ini akan tenang namun dia salah. Daddynya malah terus menerus membahas masalah yang sama.


"Daddy, kita lagi makan." Peringat Jessie. Bukannya berhenti, Alex semakin menjadi-jadi. Ia terus menanyai Ryan kapan Ia akan pergi. Jessie berdecak pelan. Apakah ayahnya mengerti kalau yang diincar adalah dirinya? Dengan menjauhkan Ryan maka akan mempermudah para penjahat itu untuk menangkapnya dan Jessie yakin saat hal itu sudah terjadi, ayahnya akan menyesal dengan pilihannya.


"Aku akan pergi satu bulan lagi." Ucap Ryan.


"Kenapa satu bulan? Bukankah itu terlalu lama? Kenapa tidak besok saja?" Tanya Alex. Jessie yang sudah emosi langsung memukul meja. Pukulannya sangat keras hingga menimbulkan suara yang keras juga.


"Jessie." Ucap Ryan. Ia memegang tangan Jessie lalu berusaha untuk menenangkan kekasihnya itu. Alex yang melihat putrinya memberikan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Bahkan Alex tidak tahu apa yang terjadi dengan putrinya.


"Daddy maafkan aku. Tapi dengarkan aku terlebih dahulu." Ucap Jessie. Alex diam dan mengangguk membiarkan Jessie melanjutkan kalimatnya.


"Daddy, yang mereka incar adalah aku. Karena bagi mereka, aku adalah sumber kebahagiaan Ryan. Jadi mau Daddy menyuruh Ryan pergi sampai ke ujung dunia juga akan percuma. Karena mereka tetap saja akan mengincarku. Jadi aku harap Daddy mengerti. Dengan membiarkan Ryan pergi maka akan memudahkan mereka untuk menangkap atau yang lebih buruk membunuhku. Jessie harap Daddy mengerti dengan situasi sekarang dan tidak mengambil langkah yang salah." Jelas Jessie dengan panjang lebar. Alex terdiam mendengar penjelasan putrinya. Jessie kemudian mengambil gelasnya laku meneguk semua airnya hingga habis tidak tersisa.


"Baiklah, terserah kalian. Tapi jika terjadi sesuatu maka Daddy yang akan memberi keputusan dan kalian tidak boleh menentang keputusanku. Kalian mengerti?" Tanya Alex. Jessie langsung mengangguk sementara Ryan hanya diam. Jessie yang melihat Ryan Dian langsung menepuk lengannya menyuruh Ryan untuk mengangguk.


"Ryan, jadi kau tidak boleh pergi." Ucap Jessie. Lalu Ia membisikkan sesuatu di telinga Ryan yang langsung membuat Ryan terdiam.


"Apa ada yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Alex yang penasaran. Jessie hanya menggeleng sambil tersenyum sementara Ryan hanya berdeham untuk mengembalikan kesadarannya.


"Tidak ada dad. Tapi Jessie ingin bertanya. Apakah Daddy ingin menjadi seorang grandpa?" Tanya Jessie. Seketika Alex langsung membulatkan matanya dan Ryan yang sedang minum langsung tersedak. Ia pun terbatuk setelah mendengar ucapan Jessie.


"Daddy tidak salah dengar bukan?" Tanya Alex. Jessie menggeleng. Ryan menyenggol lengan Jessie.


"Apa Ry? Kita sudah menjadi kekasih. Aku tidak yakin kalau kita bisa menahan nafsu. Jadi aku harus memastikan kalau daddy sudah siap menjadi seorang grandpa." Ucap Jessie.


Ryan hanya menghela napasnya. Untungnya Jessie tidak memberitahu apa yang terjadi saat Alex pergi. Jika Ia memberitahunya maka Ryan harus siap dengan 1001 pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Alex.


"Jessie jangan macam-macam. Harus ada batasannya." Ucap Alex. Jessie dan Ryan seketika saling menatap satu sama lain. Hampir saja Jessie, memberitahukan apa yang terjadi tadi siang.


🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️


Selesai makan malam, Jessie dan Ryan langsung pergi ke kamar Jessie. Mereka sedang di kasur berpelukan manja. Jessie meletakan kepalanya di dada Ryan. Ryan mengelus rambut Jessie dan sesekali menciumnya.


"Jessie, kau dengar ucapan ayahmu." Ucap Ryan. Jessie cemberut mendengar ucapan Ryan.


"Kau tolak padahal tadi siang kau yang sangat liar. Jujur saja Ry... Aku tahu kau mau melanjutkannya." Ucap Jessie.


"Sudah Jessie. Hentikan."


Jessie kemudian mengambil handphonenya dan membuka YouTube untuk menghibur dirinya. Ia sangat bosan karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan.


"Jessie, kau bosan?" Tanya Ryan. Jessie langsung mengangguk. Ryan kemudian mengambil sesuatu yang berada di dalam laci.


"Apa itu?"


"Sebuah monopoli."


Jessie langsung duduk dilantai bersama Ryan. Kemudian, mereka membuka kotak permainan monopoli itu lalu membagikan duit mainan. Setelah semuanya sudah disusun, Jessie langsung memulai duluan. Jessie mengocok dua buah dadu.


Setelah beberapa saat mereka main, Jessie sudah menduga bahwa Ia akan kalah dari Ryan. Ryan hampir mempunyai properti dari seluruh negara yang ada di atas papan itu. Uang kertas Ryan sudah menumpuk sementara punya dia sudah tinggal selembar.


"Aku menyerah." Ucap Jessie. Ryan hanya terkekeh mendengar ucapan Jessie. Saat sudah menyerah mereka mengulangi permainan itu. Entah berapa kali mereka mengulang dan yang pasti mereka akan berhenti saat Jessie yang menang.


******************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Next update: 29 April 2021