
Kecemburuan Ryan terus berlanjut hingga selesai kuliah. Kenneth mengajak Jessie dan Alexa untuk pergi ke mall dan jalan-jalan bertiga. Bahkan awalnya Kenneth menyuruhnya untuk tidak ikut dan menunggu Jessie di rumah. Tentu saja Ryan langsung bersikeras untuk tetap ikut. Lihat saja, walaupun Ia ikut Kenneth tetap berusaha untuk menggoda kedua gadis itu. Apalagi Jessie. Entah apa yang terjadi jika Ryan memutuskan untuk tidak ikut. Pasti godaan bocah itu semakin menjadi-jadi. Depannya saja bocah terlihat lugu dan polos.
"Ayo kita bermain di arkade. Mungkin aku bisa memenangkan boneka untuk kalian." Ucap Kenneth sambil mengalungkan kedua tangannya di leher kedua gadis itu. Ryan berdecak kesal mendengar perkataan itu.
Ryan yang awalnya berjalan di belakang langsung mempercepat langkahnya dan berjalan ke samping Jessie lalu menggenggam tangannya dengan erat. Jessie menatap kearah Ryan dan melihat muka tidak bersahabatnya. Jessie hanya tersenyum melihat itu.
"Hi Ryan. Kau mau ikut bermain dengan kami? Kita bisa berlomba untuk memasukkan bola. Itu juga kalau kau bisa." Tanya Kenneth yang seolah mengejek Ryan. Ryan hanya diam tidak menanggapi ucapan Kenneth. Ia tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan cukup nanti Ia buktikan.
"Jessie, kau punya pacar yang membosankan. Tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Kenapa kau mau dengannya?" Tanya Kenneth. Jessie yang mendengar pertanyaan Kenneth hanya diam. Ia memilih untuk tidak menjawab karena Jessie yakin Ryan sudah sangat marah.
"Apa masalahmu bocah? Ada yang salah jika aku diam? Pertanyaanmu itu tidak penting jadi tidak harus ku jawab." Ucap Ryan.
Kenneth justru tersenyum remeh mendengar jawaban Ryan. Jessie sudah berdoa dalam hati supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk sementara Alexa sudah bersiap dengan handphonenya jika terjadi pertengkaran.
"Ya ya, terserah kau saja. Jangan sedih jika Jessie berpaling." Ucap Kenneth.
"Jaga ucapanmu." Peringat Jessie. Kenneth beruntung karena Ryan bisa menahan amarahnya. Jika tidak maka Jessie tidak tahu apa yang akan terjadi dan mungkin Ia tidak bisa menahan Ryan kalau sampai Ryan hilang kendali.
"Sudahlah sayang. Aku tahu kau setia." Ucap Ryan sambil menunjukkan senyumannya. Walaupun dalam hatinya Ia sudah sangat kesal.
"Ayo kita lanjut pergi ke arkade. Aku tidak sabar mengalahkan Ryan." Ucap Kenneth lalu berjalan cepat kearah arkade yang berada di depan mereka.
Mereka kemudian pergi ke kasir dan membeli 4 kartu untuk masing-masing. Ryan dan Kenneth langsung pergi ke bagian bola basket. Sementara, Jessie dan Alexa bermain untuk mendapatkan tiket yang bisa mereka tukarkan dengan hadiah.
"Kau ingin menantang ku bukan? Kenapa kau kalah terus? Dasar bocah." Ucap Ryan. Kenneth mendengus kasar. Pasalnya sedari tadi bola yang Ia lempar hanya masuk beberapa sementara bola yang Ryan lempar masuk semua.
"Bersabarlah Orang tua." Ucap Kenneth.
"Siapa yang kau panggil orang tua?" Tanya Ryan. Kenneth hanya tertawa kencang hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Kelihatannya kita sudah bisa melihat siapa yang menang. Jadi aku akan menyusul Jessie terlebih dahulu." Ucap Ryan. Kemudian Kenneth memegang tangan Ryan mencegahnya untuk pergi.
"Biarkan aku saja yang menyusulnya." Ucap Kenneth lalu berlari kearah Jessie. Ryan yang melihat itu kemudian mengambil bola basket dan melemparkannya kearah Kenneth sehingga terkena kepalanya.
"ITU SAKIT PAK TUA." Teriak Kenneth sambil memegangi kepalanya. Jessie dan Alexa berusaha menahan tawanya sementara Ryan berjalan kearah Kenneth untuk mengambil bola basket.
"Maaf kelempar." Ucap Ryan datar.
Jessie kemudian mengusap bagian kepala Kenneth yang terkena bola. Sesekali Kenneth meringis kesakitan. Tenaga Ryan memang tidak main-main.
"Pak tua, sepertinya kepalaku benjol karenamu. Kau harus tanggung jawab." Ucap Kenneth saat melihat Ryan menghampiri mereka. Ryan hanya berdeham sebagai jawaban.
"Ry... Kenapa kau melakukan itu? Apa salahnya?" Tanya Jessie. Kenneth langsung tersenyum sambil melihat Ryan. Ia kemudian sedikit menjulurkan lidahnya.
"Sudah kubilang tidak sengaja." Jawab Ryan. Jessie menaikkan satu alisnya.
"Bagaimana bisa kau melempar bole ke belakang sementara ringnya ada di depan?" Tanya Jessie.
Ryan yang ingin menjawab langsung terdiam. Ia melihat ada orang aneh di belakang Jessie. Benar saja orang itu langsung berlari sambil membawa pisau dan mengarahkannya ke Jessie. Sontak Ryan langsung menarik Jessie dengan satu tangannya sementara tangan yang lain berusaha untuk menghentikan orang itu. Tanpa melepas Jessie, Ryan berhasil melumpuhkan orang misterius itu hanya dengan satu tangannya.
"Siapa kau?" Tanya Ryan. Orang itu tidak mau menjawab dan hanya membuat gerakan aneh dari mulutnya. Tahu orang itu akan bunuh diri, Ryan langsung membuka paksa mulut orang itu lalu mengeluarkan plastik yang berisi racun tersebut.
"Sekarang bicaralah atau aku tidak akan segan-segan untuk menyiksamu."
******************************************
Helios Ryan Rynville
Alexandra Jessie Hendrick
Kenneth Santana
Alexa Kellan
Next update: 5 Mei 2021