
"Siram mereka." Ucap Xander. 2 anak buahnya mengangguk lalu menyiram Jessie dan Ryan. Mereka diikat di kursi dan diposisikan secara berhadapan dengan jarak yang jauh. Mereka berdua langsung bangun dan panik karena keadaan mereka saat ini.
"Sudah-sudah. Jangan buang-buang energi kalian. Kita bahkan belum mulai acaranya." Ucap Xander. Ryan dan Jessie sama-sama menatap berang Xander. Xander yang ditatap hanya menunjukkan senyum liciknya.
"Akhirnya sang pengecut muncul juga. Kemana saja kau selama ini? Selama ini aku hanya bertemu anak buahmu saja. Terlalu takut heh?" Tanya Jessie dengan senyum mengejeknya. Xander hanya berdecih pelan.
"Lebih baik kau diam, Jessie." Ucap Xander. Jessie yang ingin membalas ucapan Xander kemudian terdiam. Ia melihat bayangan pria muda yang berdiri didepan pintu. Cahaya yang remang-remang membuat Jessie kesusahan melihat muka pria itu. Namun ketika pria itu membuka mulutnya, Jessie tahu betul siapa dia.
"Jangan mengatakan daddy seperti itu, Jessie." Ucap Kenneth. Ia kemudian melihat kearah Ryan sambil tersenyum. "Halo pak tua. Aku mempunyai sesuatu untukmu."
Kenneth kemudian berjalan kearah Jessie lalu tanpa aba-aba langsung menciumnya. Kenneth juga sedikit **********. Setelah puas, Ia melihat kearah Ryan yang hanya diam tanpa ekspresi.
"Kau tidak marah pak tua? Atau kau mau aku melakukan hal yang lebih?" Tanya Kenneth.
"Kalau aku tidak diikat aku sudah menghajarmu. Untung saja aku tidak berharap lebih akan pertemanan kita. Hanya Alexa yang bisa kupercaya."
"Daddymu sendiri yang bilang untuk tidak buang-buang tenaga. Jadi aku akan menghajarmu nanti. Lihat saja." Ucap Ryan.
"Enough son. Biarkan saja mereka." Ucap Xander.
Kenneth kemudian memilih untuk keluar ruangan. Xander kemudian menyalakan televisi yang berada disudut ruangan. Saat dinyalakan, layar televisi menunjukan Alex yang sudah tersadar dari komanya dan sedang tertidur di ranjang pasiennya.
"DADDY!" Teriak Jessie.
Xander yang mendengar teriakan Jessie kemudian menyuruh anak buahnya untuk membuat gadis itu diam. Anak buahnya kemudian memukul kepala Jessie menggunakan handgun yang mereka pegang. Terdengar suara erangan dari Jessie.
"Diam Jessie. Alex hanya akan mendengarku dari mikrofon khusus." Ucap Xander. Ia kemudian menepuk keningnya pelan. "Aku lupa mengenalkan diriku. Maafkan aku. Aku Xander atau Xr dan anakku sepertinya kau sudah kenal."
"Gak penting."
"Baiklah, karena hari ini kau akan mati. Aku mau membongkar semua rahasia yang telah disembunyikan oleh semua orang kepadamu. Setidaknya kau mati dengan tenang. Walaupun beberapa rahasia akan sangat menyakitkan untukmu." Ucap Xander. Ia kemudian menatap kearah Ryan. Menyuruhnya untuk bicara duluan. Sebagai ancaman, Xander berjalan kearah Jessie lalu menodongkan pistol tepat di kepala Jessie.
"Kita sebenarnya dijodohkan." Ucap Ryan. Jessie membulatkan matanya. Alex menjodohkannya secara diam-diam.
"Kau benar-benar mencintaiku?"
"Tentu saja. Kaulah cinta pertamaku. Justru jika kau tidak merasakan hal yang sama maka perjodohan ini batal." Jessie menghela napas mendengar itu. Untungnya Ia juga mencintai Ryan. Ia kemudian tersenyum sambil menatap kearah Ryan.
Kemudian terdengar suara pintu yang dibuka. Muncul Larry yang berjalan dengan tertatih-tatih. Darah juga mengucur di beberapa bagian tubuhnya.
"Sir, Xavier ada disini." Ucap Larry. Bukannya ketakutan, Xander justru tertawa keras.
"BIARKAN SAJA MEREKA MASUK. INI AKAN SEMAKIN SERU." Teriak Xander.
Sesaat kemudian, Xavier masuk kedalam ruangan. Xander yang sudah menyiapkan semuanya langsung menjentikkan jarinya. Seketika terdengar suara tembakan dan semua anak buah Xavier terkapar tidak berdaya.
"Lepaskan mereka." Ucap Xavier dengan nada rendah.
"Xavier dan Alex sudah ada disini. Aku menjadi tidak sabar." Ucap Xander. Ia kemudian menatap kearah Jessie dan Ryan secara bergantian.
"Kalian mempunyai hutang kepadaku. Yang satu hutan seratus juta dollar." Ucap Xander sambil menatap kearah Ryan. "Dan yang satu hutang nyawa." Lanjut Xander sambil berbalik dan menatap Jessie.
"Apa maksudmu hutang nyawa? Aku dan daddyku tidak pernah membunuh orang."
"Kau tidak tahu apa-apa. Alex sangat pandai menyembunyikan rahasia darimu atau mungkin kau yang terlalu bodoh sehingga tidak bisa menyadarinya." Ucap Xander. Ia kemudian menyalakan mikrofon sehingga Alex bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan mereka bisa mendengar apa yang Alex ucapkan.
"Hi Alex. Say hi to your daughter." Ucap Xander.
"LEPASKAN DIA XANDER. DIA TIDAK BERSALAH." Teriak Alex dengan emosi.
"Kau mau bilang sesuatu kepada anakmu ini." Tanya Xander. Melihat Alex yang hanya diam membuat Jessie semakin penasaran.
"Dad, apa yang kau sembunyikan dariku? Apa kematian mommy ada kaitannya? Dad, kumohon jawab." Ucap Jessie yang mulai berlinang air mata.
Alex kemudian menghela napas. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Semua yang Ia sembunyikan sangat menyakitkan untuk anaknya.
"Kau tidak mau menjawab?" Tanya Xander sambil kembali mengarahkan pistolnyanya kearah kepala Jessie.
"Maafkan daddy, Jessie." Ucap Alex. Terdengar helaan napas dari arah televisi. Jessie menyiapkan dirinya untuk mendengar apapun yang akan diucapkan oleh Alex.
"Kau bukan anakku."