The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
11


Saat sampai di taman, suasana taman sangat ramai. Karena ini hari libur, banyak orang yang membawa teman dan keluarganya. Sebenarnya Jessie tidak tahu apa yang harus Ia lakukan. Jessie hanya langsung duduk di taman dan tidak melakukan apa-apa. Ryan yang melihat itu langsung menghela nafas. Banyak hal yang bisa dilakukan di taman. Justru Ia tidak mengerti kenapa Jessie mau pergi ke kantornya.


"Kau hanya ingin duduk dan tidak melakukan apa-apa?" Tanya Ryan yang masih melihat Jessie duduk diam selama 10 menit. "Entah apa yang bisa kulakukan." Ucap Jessie sambil melihat ke suatu hal.


Ryan melihat arah tatapan Jessie dan ternyata Jessie melihat sebuah keluarga yang sedang bermain dengan anaknya. Ryan tau bahwa Jessie merindukan ibunya. Ia pun langsung mengajak Jessie untuk melakukan berbagai kegiatan. Jessie hanya pasrah dengan ajakan Ryan.


"Apa yang kita lakukan?" Tanya Jessie. "Regangkan tubuhmu dan kita akan lari pagi." Balas Ryan. Jessie langsung melakukan apa yang Ryan suruh. Ia pun meregangkan tangan dan kakinya. Ia menyadari bahwa Ryan menjadi pusat perhatian para wanita yang ada ditaman itu.


"Kau menjadi pusat perhatian." Ucap Jessie sambil berbisik. "Kau cemburu?" Tanya Ryan. Jessie langsung berdecak. "Kenapa setiap kali aku menanyakan hal yang berkaitan dengan wanita kau langsung menganggap ku cemburu?" Ucap Jessie yang kesal. Ryan hanya diam dan tidak menjawab. Akhirnya mereka pun lari pagi. Jessie benar-benar tidak nyaman melihat Ryan yang menjadi pusat perhatian. Ia sedikit cemburu. Tunggu, cemburu? Tidak-tidak Jessie hanya tidak nyaman. Hanya itu.


Selesai lari pagi, Jessie langsung membelikan dua botol minuman untuk mereka berdua. Ia pun memberikan sebotol air mineral kepada Ryan dan Ryan langsung mengambilnya. Mereka duduk di kursi sambil meneguk air mineral dan menstabilkan nafas.


Ryan langsung berdiri dan mengajak Jessie untuk membeli jajanan. Jessie yang masih lelah menolak ajakan Ryan. Ryan pun menanyakan apa yang Jessie ingin. Dan Jessie menjawab bahwa Ia ingin corndog. Ryan langsung berdiri dan berjalan ke arah stan corndog. Ia membeli dua buah corndog. Saat sudah diberikan dua buah corndog, Ryan langsung menaruh saus diatasnya. Ia pun kembali ke kursi tempat Jessie duduk dan langsung memberikan corndog itu. Jessie pun menerimanya dan mereka memakan corndog itu bersama.


Setelah memakan corndog itu, Jessie langsung mengajak Ryan untuk segara pergi ke kantornya. Ryan langsung mengiyakan dan mereka langsung pergi ke kantor Ryan.


"Kenapa kau sangat ingin pergi ke kantor?" Tanya Ryan yang penasaran. Pasalnya di kantornya hanyalah kantor biasa. Tidak ada yang menarik. Jadi, kenapa Jessie ingin pergi ke kantornya?


"Entahlah, aku hanya ingin." Jawab Jessie sambil melihat bangunan-bangunan tinggi yang menjulang.


Mereka pun sampai di kantor Ryan. Walaupun hari libur tapi kantor Ryan terlihat sangat ramai. Saat berjalan ke arah lift, Jessie dipanggil oleh seseorang. Jessie dan Ryan langsung menoleh kearah panggilan tersebut dan ternyata itu adalah Bryan.


"Kau tidak mau memeluk Daddy?" Tanya Bryan sambil menatap ke arah Ryan. Ryan langsung menggelengkan kepalanya. "Daddy, aku lagi bekerja." Balas Ryan sambil mengingatkan daddynya. Bryan hanya terkekeh pelan melihat kelakuan anaknya. Tapi Ia senang berarti anaknya bisa menjaga tingkahnya saat bekerja.


"Kenapa kalian kesini?" Tanya Bryan.


"Jessie bilang Ia ingin pergi kesini." Balas Ryan.


"Kenapa kau ingin kesini?" Tanya Bryan lagi. Jessie hanya menaikkan bahunya.


"Baiklah, uncle ada pekerjaan jadi harus meninggalkan kalian." Ucap Bryan. Mereka pun berpamitan.


"Dimana ruanganmu?" Tanya Jessie. Ryan hanya diam dan langsung berjalan ke arah lift. Jessie hanya berjalan mengikuti Ryan. Pintu lift pun terbuka dan mereka langsung masuk. Ryan langsung menekan tombol untuk pergi ke lantai paling atas. Mereka pun sampai dan Ryan berjalan ke arah ruangannya. Saat masuk, Jessie langsung terpana melihat ruangannya. Ruangan itu sangat besar dan luas. Bagian belakang meja kerja Ryan ada jendela yang sangat luas dan langsung mengarah ke pemandangan kota New York yang sangat ramai. Jessie terus memandangi pemandangan kota tersebut dan menghiraukan Ryan yang dari tadi menatap ke arahnya.


"Jadi kau mau menatap ke pemandangan itu sampai kapan?" Tanya Ryan yang membuyarkan fokus Jessie. Jessie langsung menatap ke arah Ryan.


"Apa ada masalah jika aku memandang ke arah pemandangan kota?" Tanya Jessie balik. Ryan langsung menggelengkan kepalanya dan diam. Jessie kembali melihat ke arah pemandangan itu.


"Aku mau pulang malam." Ucap Jessie.


"Baiklah. Saat makan malam kita pulang. Kita akan makan malam bersama ayahmu." Balas Ryan. Jessie hanya diam dan mengacuhkan Ryan. Mereka benar-benar pulang saat makan malam dan saat Jessie sudah puas memandang pemandangan.