The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
9


Ryan,Jessie, dan Alexa sedang duduk sambil menunggu makanan mereka untuk datang. Mereka pun mengobrol tentang hal-hal random.


"Jadi ternyata kita beda 2 tahun?" Ucap Jessie memastikan. Pasalnya saat mereka mengobrol, Alexa bilang bahwa dia lebih muda dari Jessie. Lebih muda 2 tahun.


"Dan kalian adalah teman masa kecil?" Tanya Alexa balik. Ryan dan Jessie langsung mengangguk."Apakah kalian pernah mengalami cinta masa kecil kepada masing-masing?" Tanya Alexa. Ryan dan Jessie langsung terdiam. Alexa hanya tersenyum melihat keterdiaman mereka.


Lalu makanan mereka pun sampai dan obrolan mereka terhenti untuk makan terlebih dahulu. Saat mereka sedang asik makan, tiba-tiba ada suara letusan pistol dan langsung mengenai orang yang duduk di sebelah mereka. Ryan langsung dalam mode siaga untuk melindungi kedua gadis itu terutama Jessie. Orang-orang langsung berteriak dan berlarian. Namun pintu tiba-tiba terkunci entah sejak kapan.


Orang-orang menjadi semakin histeris. Namun Jessie dan Alexa hanya diam. Entah karena mereka tau ada Ryan atau mereka memang tidak takut sama sekali. Alexa hanya memutar bola matanya karena tau yang melakukan itu pasti musuh ayahnya. Dan Jessie hanya diam dan sesekali masih terlihat mengambil makanannya.


"Kau masih bisa makan disaat yang seperti ini?" Tanya Ryan sambil melihat ke arah Jessie. Jessie hanya mengangguk dan Ryan hanya berdecak. Ia melihat sekitar sambil tangannya memegang kantong yang isinya ada sebuah pistol. Ia tidak mungkin bisa menembak orang tadi karena orang itu adalah sniper dan Ia tidak bisa melihat siapa-siapa di luar restoran ditambah Ia yakin peluru dari pistol itu tidak akan mengenai sniper itu.


Alexa langsung menelepon ayahnya untuk memberitahu keadaan. Ayahnya langsung turun tangan dan pergi ke restoran bersama beberapa anak buahnya. Beberapa saat kemudian suara tembakan kembali terdengar. Kali ini peluru tersebut mengenai seorang remaja di sebelah Jessie.


Ryan langsung membawa Jessie dan Alexa ke bagian belakang restoran tersebut. Ia menyuruh kedua gadis itu untuk menunduk. Ryan hanya bisa berjaga-jaga. Anak buahnya tidak ada yang bisa dihubungi. Mereka beruntung karena sniper tersebut tidak menembak mereka atau lebih tepatnya belum.


Jessie dan Alexa hanya duduk di belakang ruangan. Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan berbisik. Ryan benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana 2 gadis ini masih sempat-sempatnya mengobrol dan bahkan sesekali bercanda.


"Kalian masih sempat-sempatnya mengobrol?" Tanya Ryan dengan menaikkan 1 alisnya. Kedua gadis itu langsung mengangguk secara berbarengan. Ryan hanya menghela nafasnya.


'Benar-benar gadis ajaib' Ucap Ryan membatin.


Sesaat kemudian terdengar suara tembakan disusul dengan tembakan beruntun yang diarahkan ke pintu masuk. Orang-orang spontan langsung melindungi tubuh dan kepala mereka. Saat melihat sebuah sosok tinggi tegap di depan pintu, Ryan langsung mengeluarkan pistolnya dan langsung mengarahkan ke sosok itu.


"Ryan tunggu itu Daddy!" Ucap Alexa. Ryan langsung melihat dengan jelas sosok itu dan memang benar itu adalah Xavier. Ia langsung menurunkan pistolnya.


Alexa langsung bangkit dan berlari ke arah Xavier. Ia langsung memeluk erat Xavier.


"Daddy kau lama." Ucap Alexa sambil memeluk daddynya. Xavier membalas pelukan Alexa.


"Maafkan Daddy, tenang saja orang itu sudah Daddy urus." Ucap Xavier dengan nada yang bersalah. Para polisi langsung masuk dan mengamankan orang-orang yang ada disana. Jessie langsung bangkit dan berjalan ke arah Ryan.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ryan sambil melihat tubuh Jessie mencari segores luka. Jessie menggelengkan kepalanya dan benar saja Jessie tidak terluka sedikitpun.


"Aku masih lapar." Ucap Jessie. Ryan hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah Jessie. Apakah Ia benar-benar tidak memiliki rasa takut? Bisa-bisanya Ia masih memikirkan rasa laparnya.


"Seriously? Kau masih bisa memikirkan rasa laparmu? Baiklah nanti sesudah masalah ini selesai, kita cari tempat makan." Ucap Ryan. Jessie yang mendengar itu hanya mengangguk.


Xavier dan Alexa berjalan ke arah Ryan dan Jessie. Xavier langsung melihat keadaan mereka berdua dan tampaknya mereka baik-baik saja.


"Maafkan atas kekacauan ini. Sepertinya musuh saya mengincar putri saya." Ucap Xavier. Alexa langsung menatap tajam ke arah ayahnya. Ia tidak mau temannya mengetahui pekerjaan asli ayahnya. Ia benar-benar akan kehilangan teman selamanya jika seperti itu.


"Tidak apa-apa, Mr. Jones. Saya dan nona saya tidak terluka sama sekali." Ucap Ryan yang sebenarnya ada sedikit rasa curiga. Jessie mengangguk menyetujui perkataan Ryan tadi.


"Karena makan siang kalian terganggu, maka aku mau menebusnya dengan makan malam bersama. Kau bisa mengajak ayahmu dan Ryan." Ucap Xavier kepada Jessie. Jessie lagi-lagi hanya mengangguk.


"Baiklah. Kalian bisa pulang berdua dan Alexa bisa pulang bersama saya. Saya takut jika kalian ikut bersama putri saya maka kalian akan mengalami hal serupa seperti tadi. Dan juga Kalian aman dari pertanyaan polisi." Ucap Xavier kepada Ryan dan Jessie. Lalu Ia dan Alexa langsung masuk kedalam mobilnya. Ryan semakin curiga dengan gerak gerik Xavier. Ia dan Jessie juga masuk kedalam mobil Jessie.


"Ryan aku masih lapar. Jangan pulang ke rumah terlebih dahulu." Ucap Jessie. Ryan hanya menghela nafas dan mereka langsung pergi ke restoran lain. Selesai memakirkan mobilnya, Ryan langsung mematikan mesin dan Jessie langsung keluar dan masuk ke dalam restoran. Ryan hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Jessie.


Ryan melihat Jessie duduk dekat jendela. Ia pun langsung mendatangi meja tersebut dan duduk tepat di depan Jessie. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka dan memberikan mereka 2 lembar menu.


Jessie dan Ryan langsung melihat-lihat menu makanan dan minuman. Setelah menentukan merekapun langsung memesannya. Mereka pun menunggu makanan mereka. Jessie hanya memainkan handphonenya dan Ryan hanya menatap ke arah Jessie.


"Sudah puas memandangi ku?" Tanya Jessie. Ia pun meletakkan handphonenya ke dalam kantong celananya. Ryan hanya tersenyum.


"Nanti handphonemu bisa jatuh jika kau taruh disana." Ucap Ryan mengalihkan pembicaraan. Jessie mengeluarkan handphonenya lalu menaruhnya diatas meja. Jessie hanya menatap Ryan. Dan sekarang mereka hanya saling menatap hingga suasana canggung menyelimuti. Untungnya seorang pelayan yang sama datang dan langsung mengantarkan makanan pesanan mereka. Ryan dan Jessie langsung memakan makanan mereka. Selesai memakan makan siang mereka, Ryan langsung membayar makanan mereka walaupun sebenarnya Jessie menolaknya. Mereka pun langsung pulang kerumah.


Sesampainya di rumah, Jessie langsung berjalan ke kamarnya dan pergi mandi. Ryan dipanggil Alex untuk mengobrol bersama.


"Apakah Jessie bersenang-senang hari ini bersama temannya?" Tanya Alex. Ryan langsung menceritakan semua yang terjadi mulai dari Xavier, penembakan yang terjadi, dan kecurigaan Ryan terhadap Xavier. Ryan juga mengatakan bahwa Xavier mengundang mereka untuk makan malam. Alex ragu untuk datang ke makan malam tersebut. Tapi Xavier adalah ayah dari teman satu-satunya Jessie. Ia tidak ingin merusak pertemanan anaknya.


"Baiklah... Kita akan datang ke makan malam. Jangan sampai anak buahmu tidak bisa dihubungi seperti tadi." Ucap Alex tegas. Ryan mengangguk mendengar ucapan Alex. Suasana pun mencair setelah tadi sempat menegang.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Jessie yang penasaran. Rambutnya masih basah dan ada handuk di pundaknya. Jessie keluar karena tiba-tiba ayahnya tertawa dengan suara yang keras.


"Tidak ada. Jessie, Daddy mau tanya. Siapa cinta pertama mu?" Tanya Alex. Jessie yang mendengar itu langsung berpikir. "Aku lupa... Tapi sepertinya itu karakter kartun." Ucap Jessie sambil berusaha mengingat. Alex yang mendengar itu langsung menghela nafasnya.


"Maksud Daddy orang yang nyata." Ucap Alex memperjelas. Jessie yang mendengar itu langsung terdiam. Sekarang Ia tau apa yang ayahnya dan Ryan bicarakan.


"Entahlah dad... Aku lupa." Ucap Jessie acuh. Alex hanya tertawa. Ia tau bahwa jawaban di hati dan yang keluar dari mulut anaknya berbeda. Ia masih ingat ketika Jessie tidak berhenti menangis bahkan sampai 3 hari hanya karena kepergian Ryan ke luar negeri untuk kuliah.


"Kau istirahat dulu, supaya nanti malam semangat untuk bertemu teman mu lagi." Ucap Alex. Jessie pun mengangguk dan masuk ke kamarnya diikuti oleh Ryan.


Saat dikamar, Jessie langsung tiduran di kasur sambil memainkan handphonenya. Ia pun melihat Ryan berdiri di sampingnya. Kemudian Ia mematikan handphonenya dan kemudian mengisi baterai dari handphone tersebut.


"Siapa cinta pertamamu?" Tanya Jessie kepada Ryan. Ryan pun melihat ke arah Jessie. "Seseorang tapi sepertinya Ia tidak suka kepadaku." Ucap Ryan. Jessie yang mendengar jawaban Ryan sedikit kecewa.


"Kau bisa menceritakan pengalaman mu menjadi bodyguard? Aku mengantuk." Ucap Jessie. Ryan pun mengangguk dan langsung menarik kursi untuk duduk.


"Sepertinya banyak. Dari harus menghadapi senjata berapi hingga berusaha menjinakkan bom." Ucap Ryan. Jessie hanya diam dan mendengar cerita Ryan.


"Kau pernah digoda oleh klienmu?" Tanya Jessie secara spontan dan Ia langsung menyesali pertanyaannya. "Kau cemburu?" Tanya Ryan balik. Jessie langsung menggeleng kepalanya dan berbalik sehingga memunggungi Ryan.


Ryan hanya tetap duduk disitu dan menunggu hingga Jessie tertidur. Setelah Jessie tertidur, Ryan langsung melihat keluar jendela memastikan semua baik-baik saja.


🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️


Malam sudah tiba, Jessie sedang berganti pakaian. Ia melihat Ryan memakai baju yang sama dengan yang tadi pagi,kemaren, dan pertama kali mereka ketemu. Jessie tau kalau Ryan pasti mengganti bajunya. Namun kenapa bajunya harus sama?


"Kau tidak mau berganti baju?" Tanya Jessie. Ryan hanya menggeleng sebagai jawaban. Alex pun masuk dan melihat putrinya yang sudah berganti pakaian.


"Kalian siap? Kita tidak ingin telat bukan." Ucap Alex. Jessie dan Ryan pun mengangguk. Kemudian mereka berjalan ke luar kamar. Mereka pun menaiki mobil Alex. Ryan yang mengemudi, Alex duduk disampingnya dan Jessie duduk di belakang.


Sesampainya di rumah Alexa, mereka langsung disambut oleh pelayang yang langsung mengantarkan mereka ke ruang makan. Disana sudah ada Alexa. Alexa langsung mengajak Jessie untuk duduk disebelahnya. Jessie langsung berjalan ke arah Alexa dan duduk di sebelahnya.


"Uncle dan Ryan bisa duduk didepan kita." Ucap Alexa sambil menunjuk kursi yang berada didepan mereka atau lebih tepatnya di seberang. "Daddy sebentar lagi datang. Dia memang lama jika berdandan untuk bertemu orang." Ucap Alexa. Alex dan Ryan langsung mengangguk. Sesaat kemudian Xavier datang dan langsung duduk di kursi paling ujung.


"Selamat malam Mr. Hendrick. Malam Mr. Rynville." Ucap Xavier dengan muka datar dan wajah tegas. Namun berubah 180⁰ ketika menyapa Jessie.


"Selamat malam Jessie." Ucap Xavier sambil menunjukkan senyumannya. "Selamat malam uncle." Balas Jessie.


"Tujuan saya mengundang kalian adalah karena ingin menebus kejadian malam siang tadi. Ini sepenuhnya kelalaian saya yang tidak menyadari bahwa banyak musuh. Dan mereka mengincar putri saya." Ucap Xavier. Alex dan Ryan mengangguk. Sementara Jessie asik diajak ngobrol oleh Alexa.


Xavier, Alex, dan Ryan langsung mengobrol untuk sekedar mendekatkan diri. Tidak mungkin anak mereka sudah sangat akrab sementara orang tuanya tidak. Setelah mengobrol Xavier langsung meminta pelayan untuk segera mempersiapkan makan malam.


Makan malam langsung dihidangkan dan mereka berlima langsung menikmati hidangan tersebut. Selesai makan malam, para pelayan menghidangkan makan malam. Xavier langsung mengobrol kembali dengan Alex dan Ryan. Sementara Jessie dan Alexa saling bergossip tentang pria-pria yang ada didepan mereka. Mereka saling menceritakan aib dari ayah mereka masing-masing.


Selesai makan malam, Alex langsung berpamitan. Xavier mengerti karena besok anak-anak ada jadwal kuliah pagi sehingga tidak bisa tidur malam. Jujur, Xavier iri dengan kedekatan Alex dan Jessie. Hubungan ayah dan anak yang normal tanpa adanya gangguan apapun.


"Jessie kau bisa menginap disini kapan-kapan. Ya kan dad?" Ucap Alexa sambil menatap kearah Xavier. Xavier tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja. Daddy tau kau bosan sendiri di rumah." Alexa yang mendengar itu langsung memeluk daddynya.


Jessie pun pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Alex langsung ijin tidur duluan. Ia sudah mengantuk. Jessie pun masuk ke kamarnya. Ia langsung mengambil handuk dan baju piyamanya.


"Jangan mandi air dingin." Ucap Ryan mengingatkan. Jessie mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, Jessie berjalan ke arah meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya. Ia juga merapihkan meja belajarnya dan mempersiapkan buku-buku untuk besok kuliah. Ia juga mengecas handphonenya dan bersiap untuk tidur.


"Kau bisa menceritakan pengalaman mu lagi?" Tanya Jessie yang sudah mengantuk. Ryan langsung mengangguk. Ia langsung duduk di kursi yang sama dan kembali menceritakan pengalamannya hingga Jessie tertidur. Dan setelah Jessie tertidur, Ryan langsung mematikan lampu kamarnya dan menutup gorden.


Ryan melihat ke wajah damai Jessie yang sedang tertidur. Ada sedikit harapan di hatinya. Ia berharap bahwa Ia lah cinta pertama gadis itu. Ryan langsung mencium kening Jessie. Jessie nampak tidak terganggu sama sekali. Kemudian Ia hanya menatap Jessie hingga akhirnya Ia tertidur dengan posisi duduk di kursi.


******************************************


Hai-hai kenalin aku XylviA. Ini cerita keduaku dan yang pertama itu My Lovely Ballerina. Masih on Going juga. Khusus chapter ini aku panjangin soalnya kebanyakan chapter di cerita ini cuma 600 kata hehe.


Sekian...