
Saat dalam perjalanan pulang, Ryan melihat ada 1 mobil yang terus mengikuti mereka terus-menerus. Bahkan Ryan sudah berputar di area yang sama selama 4 kali. Jessie yang sudah pusing pun langsung protes kepada Ryan.
"Kita sudah memutari tempat ini semala 4 kali Ryan. Aku sudah pusing." Ucap Jessie.
"Maafkan aku. Tapi jika kau lihat kebelakang ada 1 mobil yang terus mengikuti kita." Ucap Ryan. Jessie pun langsung melihat ke arah belakang. Saat Jessie melihat ke arah belakang suara tembakan terdengar. Peluru langsung menembus kaca depan mereka. Jessie langsung kembali duduk. Ryan langsung menginjak gas dan mobil mereka langsung melaju kencang.
"Wow... Aku beruntung." Ucap Jessie yang masih sedikit shock. "Berterima kasihlah kepada Tuhan karena kau masih hidup." Ucap Ryan. Ia melihat ke arah spion dan mobil itu mulai menghilang. Untuk berjaga-jaga Ryan tidak memelankan kecepatan mobilnya. Setelah merasa suasana mulai aman, Ryan langsung mengambil handphonenya dan menelepon anak buahnya. Ryan langsung memberikan ciri-ciri mobil nya. Ia juga sempat melihat plat mobil tersebut.
"Aku tidak tahu kau pengemudi yang hebat." Ucap Jessie sambil memuji Ryan. Ryan langsung mematikan teleponnya."Terimakasih." Balas Ryan singkat.
"Tadi itu seru Ry.. Kita harus sering-sering melakukannya." Ucap Jessie sambil semangat. Ryan langsung menghela nafas. "Jadi kau mau dikejar oleh orang yang mengincar nyawamu setiap hari?" Tanya Ryan. Jessie langsung berdecak. "Tidak harus dikejar oleh orang gila. Kau bisa membawaku ke lap balapan." Ucap Jessie. "Jika daddymu memperbolehkan." Balas Ryan. Jessie langsung bersorak gembira.
Sesampainya di rumah, Jessie langsung memanggil daddynya dengan semangat.
"DADDY!" Panggil Jessie. Merasa terpanggil Alex langsung keluar dari kamarnya.
"Ada apa putriku?" Tanya Alex yang melihat putrinya sangat senang dan bersemangat. Jessie langsung menceritakan semua hal yang terjadi. Setelah mendengar cerita Jessie, Alex langsung menatap ke arah Ryan untuk meminta penjelasan.
"Saya juga tidak tahu apa yang terjadi." Ucap Ryan. Pikiran Alex langsung tertuju kepada Xavier. Alex melihat ke arah Ryan yang ternyata juga menatap ke arahnya. Sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.
"Dad? Ryan? Kenapa kalian terdiam?" Tanya Jessie yang langsung membuyarkan lamunan kedua pria tersebut. Ryan hanya berdeham sementara Alex hanya tersenyum ke arah putrinya.
"Tidak apa-apa. Daddy hanya memikirkan kejadian tadi. Bagaimana kamu bisa tidak takut?" Tanya Alex. Jessie hanya menaikkan bahunya. "Bolehkah Ryan membawaku ke lap balapan?" Tanya Jessie. Ryan hanya diam mendengar pertanyaan Jessie. Alex hanya menaikkan 1 alisnya. Ia langsung mengangguk. Jessie langsung senang dan menarik tangan Ryan untuk masuk ke kamarnya.
Selesai mandi, Jessie keluar dari kamar mandi. Ryan yang melihat Jessie langsung protes. Pasalnya Jessie memakai piyama yang menerawang.
"Kau tidak mempunyai baju lain? Baju itu terlalu menerawang." Ucap Ryan.
"Kau tergoda?" Tanya Jessie balik. Ryan hanya diam. Jessie pun terpikir ide jahil. Ia pun berdiri dan berjalan ke arah Ryan tanpa memedulikan rambutnya yang masih basah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ryan. Ia mundur saat didekati oleh Jessie dengan gerakan yang mencurigakan.
Jessie langsung memeluk Ryan dengan erat lalu menggodanya dengan suara-suara dan gerakan yang menggoda. Ryan masih pria normal jika digoda seperti ini. Apalagi yang melakukannya adalah tunangannya. Ryan sudah mencoba untuk meredam hasratnya.
"Ryan~ kenapa kau diam saja?" Tanya Jessie. Ia pun dengan sengaja menyentuh alat keperkasaan Ryan dan sedikit meremasnya.
"Jessie stop." Ucap Ryan yang mulai terbawa suasana. Persetan dengan keprofesionalitasnya lagipula Jessie adalah tunangannya. Ryan langsung mencium bibir Jessie lalu membawanya ke kasur. Ryan melanjutkan ciumannya yang kelamaan menjadi ******* panas. Tangan Ryan mulai masuk ke dalam piyama Jessie lalu membelai punggung halusnya. Jessie hanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan. Ryan langsung membuka piyama Jessie hingga membuatnya telanjang dada. Ia juga membuka kaosnya. Ia melanjutkan ciumannya yang mulai turun ke arah dada Jessie. Ia juga terkadang meremas payudara Jessie. Jessie langsung mengeluarkan desahannya.
Dan akhirnya kegiatan mereka terhenti ketika ada ketukan pintu dari Alex yang menyuruh Jessie untuk cepat-cepat tidur karena ada jadwal kuliah besok paginya.
Ryan langsung bangkit dan mengambil kaosnya untuk dikenakan kembali. Jessie juga kembali memakai piyamanya. Mereka hampir saja berhubungan badan.
"Maafkan aku." Ucap Ryan. Jessie langsung menggeleng. "Itu salahku yang menggodamu duluan." Jessie langsung tidur dan membalikkan badannya dan beberapa saat kemudian Ia tertidur. Ryan langsung pergi ke toilet berharap bisa menidurkan juniornya dengan cepat.